Selasa, Juli 14, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Tugu Sehat

Makna Self-Love yang Sebenarnya: Bukan Cuma Skin Care dan Liburan Singkat

Redaksi by Redaksi
Agustus 7, 2025 2:40 pm
in Tugu Sehat
Self-love

ilustrasi/freepik

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Malang, Tugumalang.id – Dalam beberapa tahun terakhir, istilah self-love atau mencintai diri sendiri menjadi tren populer di media sosial. Banyak orang memaknainya sebagai bentuk memanjakan diri—mulai dari perawatan kulit, staycation, hingga membeli hadiah untuk diri sendiri. Namun, jika self-love hanya dipahami sebatas aktivitas yang menyenangkan, kita justru kehilangan makna terdalam dari konsep ini.

Padahal, self-love sejatinya adalah proses panjang yang berkaitan erat dengan cara seseorang mengenali, menerima, dan merawat dirinya secara menyeluruh, termasuk sisi yang rentan dan tidak sempurna. Untuk memahami makna self-love yang sesungguhnya, pendekatan psikologi bisa memberi sudut pandang yang lebih dalam dan bermakna.

READ ALSO

Perbedaan Beras Merah, Putih dan Hitam, Mana yang Kandungan Gizinya Lebih Baik?

5 Perbedaan Fresh Milk dan Susu UHT: Kenali Proses, Kandungan Gizi dan Cara Penyimpanannya

1. Carl Rogers dan Konsep Self-Worth: Mencintai Diri Tanpa Syarat

Self-love
Ilustrasi/freepik

Carl Rogers, tokoh utama dalam psikologi humanistik, memperkenalkan konsep aktualisasi diri—yakni potensi bawaan manusia untuk berkembang ke arah yang positif. Namun, hal ini hanya akan tumbuh dalam lingkungan yang memberikan penerimaan tanpa syarat (unconditional positive regard).

Bila seseorang hanya mendapatkan kasih sayang ketika ia berprestasi atau mengikuti ekspektasi, maka ia akan cenderung memiliki konsep diri yang tidak stabil. Dalam konteks self-love, Rogers menekankan pentingnya self-worth atau nilai diri yang tidak bergantung pada pencapaian atau validasi eksternal.

“Self-love bukan berarti merasa lebih baik dari orang lain, melainkan menghargai keberadaan diri, termasuk bagian yang lemah dan belum sempurna.”

Memiliki self-worth yang sehat memungkinkan seseorang untuk menetapkan batasan yang jelas, menolak hubungan yang toksik, dan tetap setia pada nilai pribadinya meskipun berbeda dari harapan sosial.

Baca juga: 5 Buku yang Cocok untuk Anak Muda Pejuang Self Love

2. Kristin Neff dan Self-Compassion: Peluk Diri Saat Gagal

Kristin Neff, profesor psikologi dari University of Texas, mengenalkan konsep self-compassion sebagai bentuk cinta diri yang lebih dalam dari sekadar afirmasi positif. Ia menjabarkan tiga elemen utama self-compassion:

  • Self-kindness: bersikap lembut pada diri saat gagal

  • Common humanity: menyadari bahwa penderitaan adalah pengalaman manusiawi

  • Mindfulness: hadir dan sadar tanpa menghakimi perasaan sendiri

Dalam praktiknya, banyak orang menjadi musuh bagi dirinya sendiri. Ketika melakukan kesalahan, suara batin yang muncul sering kali keras dan menghukum.

Alih-alih berkata “Aku gagal dan bodoh”, seseorang yang menerapkan self-compassion akan berkata, “Aku sedang belajar, dan itu hal yang wajar.”

Self-compassion membantu membentuk self-love yang kokoh, tidak mudah runtuh oleh kritik maupun tekanan sosial.

3. Deci & Ryan: Self-Determination Theory dan Autentisitas Diri

Edward Deci dan Richard Ryan melalui Self-Determination Theory (SDT) menyatakan bahwa manusia memiliki tiga kebutuhan dasar untuk tumbuh secara sehat:

  • Autonomy: kebebasan menentukan arah hidup

  • Competence: merasa mampu dan percaya diri

  • Relatedness: memiliki hubungan sosial yang sehat

Self-love yang otentik bukan sekadar merasa nyaman, tetapi juga berani membuat keputusan sulit demi pertumbuhan pribadi. Misalnya, keluar dari pekerjaan atau hubungan yang tidak selaras dengan nilai diri, meskipun itu menyakitkan.

Banyak orang tampak mencintai diri sendiri, padahal hanya mengikuti arus demi diterima. SDT membantu membedakan mana cinta diri yang sejati dan mana yang hanya topeng sosial.

Kesimpulan: Self-Love adalah Perjalanan, Bukan Pelarian

Self-love bukan produk instan, bukan pula sesuatu yang bisa dibeli dalam bentuk skincare mahal atau liburan singkat. Ia adalah proses batin yang mendalam, penuh kesadaran, dan sering kali tidak nyaman.

Mencintai diri sendiri artinya siap menghadapi luka lama, mengubah pola pikir destruktif, serta berdamai dengan kenyataan diri yang tak selalu sempurna.

Jika self-love terasa berat dan menyakitkan, itu bukan berarti kamu gagal. Justru itulah tanda bahwa kamu sedang menjalani proses self-love yang paling otentik—menerima dan mencintai diri sendiri, bahkan ketika itu terasa sulit.

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Penulis: Maysa Ayu Raddina (magang)
redaktur: jatmiko

Tags: Carl RogersCinta DiriKesehatan MentalKristin Neffmencintai diri sendiriMental HealthPengembangan Diripsikologi self-loveself loveself-compassionSelf-Determination Theoryself-worthtips self-love

Related Posts

Perbedaan Beras Merah, Putih dan Hitam, Mana yang Kandungan Gizinya Lebih Baik?
Tugu Sehat

Perbedaan Beras Merah, Putih dan Hitam, Mana yang Kandungan Gizinya Lebih Baik?

Jumat, 10 Jul 2026
5 Perbedaan Fresh Milk dan Susu UHT: Kenali Proses, Kandungan Gizi dan Cara Penyimpanannya
Tugu Sehat

5 Perbedaan Fresh Milk dan Susu UHT: Kenali Proses, Kandungan Gizi dan Cara Penyimpanannya

Senin, 6 Jul 2026
Info Loker! PSLC Membutuhkan Terapis dan Asisten Terapis untuk Wilayah Banjarnegara
Tugu Sehat

Info Loker! PSLC Membutuhkan Terapis dan Asisten Terapis untuk Wilayah Banjarnegara

Minggu, 5 Jul 2026
Hospital Penawar
Tugu Sehat

Investasi Kesehatan Terbaik! Hospital Penawar Hadirkan Paket Medical Check Up Wanita, Mulai RP 990 Ribu

Minggu, 28 Jun 2026
Hospital Penawar
Tugu Sehat

Hospital Penawar Hadirkan Paket Medical Check Up Pria Mulai Rp 900 Ribu!

Sabtu, 27 Jun 2026
PSLCNet Al Qowiy Tanjungpinang gelar webinar session sebagai bentuk dukungan terhadap tumbuh kembang anak, khususnya anak dengan gangguan autisme. /Foto: Dok. PSLC.
Tugu Sehat

Gratis! Ikuti Event Webinar Session PSLCNet Al Qowiy Tanjungpinang

Kamis, 25 Jun 2026
Next Post
Pemusnahann rokok ilegal di Kejari Kota Malang. (Foto/M Sholeh)

Wali Kota Malang Bersama Forkopimda Musnahkan 10 Ribu Rokok Ilegal

BERITA POPULER

  • Karnaval Desa Urek-Urek Raup Rp214 Juta, Seluruhnya untuk Santunan 19 Anak Yatim

    Karnaval Desa Urek-Urek Raup Rp214 Juta, Seluruhnya untuk Santunan 19 Anak Yatim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Begini Pembagian Fungsi Terminal Arjosari, Hamid Rusdi, dan Landungsari

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Saweran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Advtm 06302026 1
Adv02262026
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.