Malang, Tugumalang.id – Pernah nggak sih, sudah lama putus tapi hati masih saja nyangkut? Lagu-lagu jadi terasa menyayat, tempat nongkrong berubah jadi kenangan, dan setiap malam seperti dihantui bayang-bayang yang enggan pergi.
Move on terasa seperti tugas berat yang tak kunjung selesai. Otak bilang “sudah cukup”, tapi hati seperti masih menunggu kabar. Fenomena ini ternyata bukan sekadar masalah perasaan, tapi ada penjelasan psikologisnya.

Attachment Style: Keterikatan Emosional yang Tak Terlihat
Dalam teori attachment yang dikembangkan John Bowlby dan Mary Ainsworth, terdapat gaya keterikatan yang terbentuk sejak masa kanak-kanak dan memengaruhi pola hubungan saat dewasa. Salah satunya adalah anxious attachment, yaitu gaya keterikatan yang membuat seseorang sangat takut ditinggalkan.
Bagi orang dengan gaya ini, cinta bukan sekadar rasa sayang, tetapi juga sumber rasa aman dan identitas diri. Saat hubungan berakhir, rasanya seperti kehilangan bagian dari diri sendiri. Akibatnya, proses move on menjadi sangat sulit.
Gaya keterikatan ini biasanya terbentuk dari pengalaman masa kecil yang penuh ketidakpastian, misalnya orang tua atau pengasuh yang tidak konsisten secara emosional. Hal ini membuat seseorang tumbuh dengan rasa cemas dalam menjalin hubungan. Dalam hubungan romantis, mereka cenderung mencari validasi dan rasa aman dari pasangan. Ketika hubungan itu berakhir, luka emosional yang ditinggalkan terasa sangat mendalam.
Baca juga: Yakin Bisa, Maka Bisa: Rahasia Self-Efficacy Menurut Psikolog Albert Bandura
Five Stages of Grief: Proses Berduka yang Sering Terlupakan
Menurut psikiater Elisabeth Kübler-Ross dalam teorinya Five Stages of Grief, kehilangan—baik karena kematian maupun putus cinta—melibatkan lima tahap:
- denial (penyangkalan),
- anger (marah),
- bargaining (tawar-menawar),
- depression (depresi)
- acceptance (penerimaan).
Banyak orang yang terjebak di tengah proses ini, terutama di tahap bargaining (“andai saja aku lebih sabar…”) atau depression (“nggak akan ada lagi yang seperti dia…”). Tanpa sadar, mereka terjebak dalam siklus harapan dan kesedihan yang berulang.
Masalahnya, tidak semua orang memberi waktu pada dirinya untuk benar-benar berduka. Kita sering memaksa diri terlihat baik-baik saja, padahal luka emosional butuh waktu untuk sembuh layaknya luka fisik. Jika proses ini diabaikan, emosi yang belum selesai justru menetap lebih lama dan mengganggu keseharian, meski di luar terlihat sudah move on.
Baca juga: Benarkah Urutan Lahir Mempengaruhi Kepribadian? Ini Kata Psikolog Alfred Adler

Move On Bukan Tentang Melupakan, Tapi Memaafkan
Move on bukan berarti menghapus semua kenangan atau berpura-pura tidak pernah jatuh cinta. Move on adalah proses berdamai, baik dengan orang lain maupun dengan diri sendiri. Kadang butuh waktu. Kadang butuh menangis. Dan yang terpenting, tidak perlu terburu-buru.
Kadang, move on berarti memaafkan diri karena pernah terlalu berharap. Memaafkan momen ketika kita menutup mata terhadap tanda-tanda yang menyakitkan. Dan memaafkan kenyataan bahwa cinta, seindah apa pun rasanya, tidak selalu bertahan selamanya.
Bukan berarti kita gagal. Justru di situlah letak keberanian: berani mencintai, berani melepaskan, dan berani melangkah lagi.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Maysa Ayu Raddina (magang)
redaktur: jatmiko





























