JAKARTA, Tugumalang.id – Catatan kelima saya, Dwi Lindawati, jurnalis difabel dari Tugujatim.id, bermula dari perjalanan panjang menggunakan Kereta Api (KA) Jayabaya Eksekutif jurusan Malang–Jakarta. Perjalanan selama 12 jam itu akhirnya membawa saya tiba di Stasiun Jatinegara, Jumat dini hari (29/08/2025) pukul 01.46 WIB.
Bagi penyandang disabilitas seperti saya, momen turun di stasiun besar ibu kota terasa istimewa. Sebab, di Stasiun Jatinegara saya benar-benar merasakan kemudahan dan kenyamanan berkat fasilitas lift khusus kelompok rentan, sesuatu yang belum tentu saya dapatkan di stasiun lain.
Perjalanan ini saya tempuh atas undangan dalam kegiatan perdana kick-off Pelatihan Jurnalistik JFC Batch II 2025 di Rumah Belajar TBIG, Karawaci, Tangerang. Saya menjadi salah satu dari 13 jurnalis terpilih se-Indonesia yang lolos seleksi bertahap untuk mengikuti program Journalism Fellowship on CSR 2025 ini.
Baca juga: Pengalaman Naik KA Jayabaya dari Stasiun Malang Kota Baru: Pilih Pintu Timur atau Barat?
Sekilas Sejarah Stasiun Jatinegara
Saya tidak menyangka perjalanan ini akan membawa saya ke Stasiun Jatinegara (JNG) – salah satu stasiun besar kelas A yang berada di perbatasan Jatinegara dan Matraman, Jakarta Timur.

Stasiun ini berdiri di ketinggian +16 meter dan termasuk dalam pengelolaan Daerah Operasi I Jakarta serta KAI Commuter. Jatinegara menjadi salah satu dari lima stasiun utama di DKI Jakarta dan merupakan titik pertemuan tiga jalur utama yang dilalui ratusan kereta setiap harinya: Pasar Senen, Manggarai, dan Cikarang.
Awalnya stasiun ini bernama Meester Cornelis, diambil dari nama seorang guru dan pengkhotbah di kawasan tersebut, Cornelis Senen. Namun, pada masa pendudukan Jepang, nama itu diubah menjadi Jatinegara yang berarti Negara Sejati, merujuk pada Pangeran Jayakarta yang mendirikan perkampungan Jatinegara Kaum setelah Keraton Sunda Kelapa dihancurkan Belanda.
Kini, Jatinegara telah bertransformasi menjadi stasiun modern dengan berbagai fasilitas baru seperti:
Bangunan baru bergaya futuristik minimalis dengan skybridge dan eskalator.
Delapan jalur kereta api dengan peruntukan berbeda.
Layanan lengkap untuk kereta api antarkota dan KRL Commuter Line.
Beberapa kereta yang berhenti di sini antara lain Argo Lawu (Solo), Argo Muria (Semarang), Gajayana (Malang), dan Jayabaya (Malang–Surabaya).
Baca juga: Catatan Perjalanan KA Jayabaya: Rezeki Bertemu Penumpang Baik, Panik Tragedi Ojol di Jakarta
Ramah Difabel: Pengalaman Pertama yang Menggembirakan
Sesaat sebelum turun, saya melihat penumpang lain bersiap dengan barang bawaan masing-masing. Saya pun membawa koper biru, tote bag abu-abu, dan tas ransel kecil. Selama perjalanan, saya ditemani Arini (36), warga Jakarta yang saya temui secara kebetulan di Stasiun Gubeng Surabaya. Kami duduk bersebelahan dan berbincang sepanjang perjalanan.
Menariknya, tujuan akhir Arini seharusnya di Stasiun Pasar Senen, namun ia memutuskan turun di Jatinegara karena adanya insiden viral: seorang pengemudi ojek online diduga tertabrak kendaraan taktis saat demo di dekat Gedung DPR. Demi keamanan, keluarganya menyarankan untuk turun lebih awal.
Keputusan itu ternyata membawa hikmah. Arini tetap menemani saya hingga turun, memastikan saya aman sampai stasiun. Dan benar saja, kekhawatiran saya hilang saat melihat peron sejajar dengan pintu kereta sehingga saya tidak perlu bersusah payah turun tangga.
Porter pun sigap membantu membawa barang, dan kami diarahkan ke lift khusus difabel. “Kalau berjalan lurus, cukup jauh jalannya. Ini lift khusus difabel, Mbak,” ujar porter ramah tersebut.
Harapan untuk Stasiun Malang

Pengalaman ini membuat saya teringat saat berangkat dari Stasiun Malang Kota Baru. Saya berharap, suatu saat nanti stasiun di kota saya juga memiliki fasilitas serupa. Meski saat ini Stasiun Malang terus berbenah, kehadiran lift khusus difabel seperti di Jatinegara akan sangat membantu penyandang disabilitas bepergian mandiri tanpa pendamping.
Fasilitas tersebut penting bagi berbagai kelompok, mulai dari pengguna kursi roda, difabel netra, hingga pengguna kruk atau alat bantu jalan lainnya.
Dijemput Tim TBIG di Tengah Malam
Setelah keluar dari lift pertama, kami masih harus berjalan sekitar 150 meter menuju lift kedua, lalu berjalan lagi sekitar 200 meter hingga keluar stasiun. Udara Jakarta dini hari terasa menyambut. Sebagian besar pedagang sudah tutup, hanya beberapa sopir taksi Bluebird yang masih setia menunggu penumpang.
Arini bahkan menolak uang yang saya berikan karena telah lebih dulu membayar porter. Tak lama, dua kerabatnya menjemput, tetapi ia tetap menemani saya hingga bertemu Revfath Rizqon, perwakilan tim TBIG yang menjemput saya untuk menuju penginapan di Hotel Olive, Karawaci.
Perjalanan 40 menit membawa saya sampai di hotel pukul 03.00 WIB, menutup perjalanan panjang penuh makna ini.
Tentang JFC Batch II 2025
Program Journalism Fellowship on CSR (JFC) 2025 Batch II adalah hasil kolaborasi Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG). Program ini bertujuan menguatkan peran jurnalis dalam menyebarkan semangat kebaikan melalui pemberitaan CSR.
Direktur GWPP Nurcholis MA Basyari menjelaskan, isu CSR menjadi bagian penting dalam pelatihan ini karena sejalan dengan misi TBIG: “Bersama untuk Indonesia.” Kick-off JFC Batch II berlangsung di Rumah Belajar TBIG, Tangerang, Jumat (29/08/2025), dan akan berlangsung hingga 8 Oktober 2025 dengan melibatkan 13 jurnalis dari seluruh Indonesia.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Dwi Lindawati (tugujatim.id)
redaktur: jatmiko





























