Oleh: Mukhamad Romdloni*
Dalam beberapa waktu terakhir ini, fenomena sound horeg berkembang menjadi salah satu bentuk budaya populer yang sangat digandrungi oleh masyarakat di wilayah Jawa Timur (Jatim), termasuk di wilayah pesisir Kabupaten Malang.
Menelisik nama sound horeg ini merujuk pada penggunaan sistem audio berdaya tinggi yang menghasilkan suara menggelegar dengan dentuman bass yang ekstrem. Biasanya dipadukan dengan pertunjukkan musik jalanan, arak-arakan, maupun hiburan rakyat.
Jika dilihat dari perspektif sosiologi budaya, fenomena ini dapat dipahami sebagai bentuk ekspresi kolektif masyarakat yang mencari ruang hiburan, identitas kelompok, dan aktualisasi diri di tengah keterbatasan akses terhadap sarana rekreasi modern.
Hasil observasi menunjukkan bahwa sebagian besar peserta kegiatan sound horeg berasal dari kelompok usia remaja dan dewasa muda. Mereka memandang sound horeg sebagai media hiburan yang mampu memberikan pengalaman emosional yang menyenangkan sekaligus memperkuat solidaritas sosial antar anggota komunitas.
Dalam beberapa kesempatan, kegiatan tersebut menjadi sarana berkumpulnya pemuda dari berbagai daerah, sehingga menciptakan jejaring sosial baru.
Merujuk pada teori perilaku sosial yang dikemukakan oleh Bandura bahwa perilaku individu banyak dipengaruhi oleh proses observasi dan imitasi terhadap lingkungan sosialnya. Dalam konteks ini, remaja yang sering terlibat dalam kegiatan sound horeg cenderung meniru pola perilaku yang berkembang di lingkungan tersebut, baik yang bersifat positif maupun negatif.
Dampak Fenomena Sound Horeg Terhadap Perilaku Remaja
Berangkat dari penelitian yang dilakukan oleh penulis, menemukan adanya beberapa masalah yang menarik untuk dicermati dari munculnya fenomena sound horeg ini. Temuan tersebut antara lain menurunnya kontrol diri, meningkatnya perilaku konsumtif, perubahan pola interaksi sosial, hingga potensi gangguan kesehatan fisik dan psikologis.
Membedah satu demi satu temuan tersebut, pada temuan pertama menunjukkan kurangnya kontrol diri pada remaja menyebabkan munculnya perilaku impulsif, ketergantungan terhadap hiburan instan, dan rendahnya kemampuan mengelola waktu secara produktif.
Hal ini bertolak belakang dengan pendapat Thomas Lickona yang menegaskan bahwa karakter yang baik tidak hanya berkaitan dengan mengetahui nilai moral (moral knowing), tetapi juga kemampuan mengendalikan perilaku sesuai nilai yang diyakini (moral action).
Baca juga: Sound Horeg Dilarang di Kota Malang, Pemkot Bongkar yang Melanggar Batas Desibel
Berikutnya adanya kecenderungan perilaku konsumtif di kalangan remaja. Sebagian responden mengalokasikan sejumlah uang untuk menghadiri kegiatan sound horeg, membeli atribut komunitas, hingga mengikuti tren gaya hidup yang berkembang dalam lingkungan tersebut.
Fenomena ini sejalan dengan teori konsumsi simbolik yang menjelaskan bahwa individu sering menggunakan barang atau aktivitas tertentu sebagai simbol status sosial dan identitas kelompok.
Akibatnya, remaja mudah terjebak dalam pola pengeluaran yang tidak rasional dibandingkan mempertimbangkan kebutuhan pendidikan maupun pengembangan diri.
Fenomena sound horeg juga berdampak pada pola interaksi sosial remaja. Di satu sisi, kegiatan ini mampu memperluas relasi sosial dan memperkuat solidaritas kelompok. Namun di sisi lain, muncul kecenderungan eksklusivitas kelompok yang berpotensi memunculkan konflik dengan kelompok lain.
Beberapa remaja lebih memilih menghabiskan waktu bersama komunitas sound horeg dibandingkan mengikuti kegiatan sosial yang bersifat edukatif seperti organisasi kepemudaan, kegiatan keagamaan, maupun forum literasi masyarakat.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa budaya populer dapat menjadi agen sosialisasi yang sangat kuat dalam membentuk orientasi perilaku generasi muda.
Beberapa penelitian kesehatan menunjukkan bahwa paparan suara dengan intensitas tinggi secara terus-menerus dapat menyebabkan gangguan pendengaran, stres psikologis, gangguan tidur, hingga penurunan konsentrasi belajar
Dalam konteks pendidikan, kondisi ini berpotensi mempengaruhi prestasi akademik siswa. Gangguan tidur yang berkepanjangan dapat menurunkan kemampuan kognitif, daya ingat, dan motivasi belajar.
Oleh karena itu, dampak kesehatan akibat sound horeg tidak hanya menjadi isu medis, tetapi juga berkaitan langsung dengan kualitas pendidikan remaja.
Fenomena Sound Horeg dalam Perspektif Pendidikan Karakter
Merujuk pendapat Thomas Lickona tentang konsep pendidikan karakter, ada tiga komponen utama dalam membentuk karakter yaitu moral knowing, moral feeling, dan moral action. Ketiga komponen ini dapat digunakan sebagai kerangka analisis untuk memahami fenomena sound horeg di kalangan remaja.
Pada tahap moral knowing, remaja seharusnya memiliki pemahaman mengenai nilai-nilai yang baik dan buruk dalam kehidupan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar remaja sebenarnya memahami dampak negatif yang mungkin muncul akibat keterlibatan berlebihan dalam kegiatan sound horeg.
Mereka mengetahui adanya potensi gangguan kesehatan, konflik sosial, serta terganggunya aktivitas belajar. Akan tetapi, pengetahuan tersebut belum cukup kuat untuk mempengaruhi keputusan perilaku mereka.
Komponen kedua yakni moral feeling berkaitan dengan kesadaran moral, empati, dan rasa tanggung jawab terhadap orang lain. Temuan penelitian menunjukkan bahwa sebagian remaja kurang mempertimbangkan dampak aktivitas sound horeg terhadap kenyamanan masyarakat sekitar.
Kurangnya sensitivitas sosial ini menunjukkan bahwa proses internalisasi nilai moral belum berjalan secara optimal.
Komponen terakhir berkaitan dengan kemampuan menerapkan nilai moral dalam tindakan nyata. Meskipun memahami risiko yang ada, sebagian remaja tetap memilih terlibat secara intens dalam aktivitas sound horeg.
Kondisi tersebut memperlihatkan adanya kesenjangan antara pengetahuan moral dan praktik moral yang perlu diatasi melalui penguatan pendidikan karakter secara berkelanjutan.
Model Penguatan Pendidikan Karakter dalam Menghadapi Fenomena Sound Horeg
Ada tiga strategi utama yang dapat dilakukan untuk memperkuat peran pendidikan karakter dalam menghadapi fenomena sound horeg, yakni strategi preventif, strategi kuratif, dan strategi kolaboratif.
Penerapan strategi preventif dapat melalui sosialisasi dari dampak kesehatan dan sosial dari adanya fenomena sound horeg ini yang semakin populer di kalangan masyarakat. Lalu, memperkuat literasi akan budaya populer dan penguatan pendidikan agama dan moral sejak dini.
Kemudian strategi kuratif dengan memberikan pendampingan psikologis bagi remaja yang menunjukkan perilaku menyimpang. Didukung dengan kegiatan konseling sekolah berfokus pada pengembangan karakter dan program pembinaan komunitas remaja.
Baca juga: Tak Nyaman dengan Kebisingan, Pemuda Sukun Malang Ciptakan Website EWS Sound Horeg
Berikutnya melalui strategi kolaboratif lewat menjalin kerja sama dengan sekolah, keluarga, dan masyarakat. Akan semakin kuat upaya ini dengan melibatkan peran tokoh agama maupun tokoh masyarakat.
Sebagai gantinya dari kebebasan berekspresi dan menyalurkan jiwa kreatif remaja, perlu disalurkan pada kegiatan kreatif yang berbasis budaya lokal.
Melalui strategi ini diharapkan mampu membentuk keseimbangan antara kebutuhan hiburan remaja dan tanggung jawab sosial mereka sebagai anggota masyarakat.
Fenomena sound horeg telah berkembang menjadi budaya populer yang memiliki daya tarik kuat bagi masyarakat pesisir Kabupaten Malang, khususnya kalangan remaja.
Selain memberikan dampak ekonomi dan fungsi hiburan, fenomena ini juga memunculkan berbagai konsekuensi sosial seperti menurunnya kontrol diri, meningkatnya perilaku konsumtif, perubahan pola interaksi sosial, serta potensi gangguan kesehatan yang dapat mempengaruhi proses pendidikan.
Keberhasilan pendidikan karakter tidak hanya bergantung pada sekolah, tetapi juga memerlukan sinergi keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Melalui pendekatan kolaboratif yang berkelanjutan, remaja diharapkan mampu mengembangkan sikap kritis, tanggung jawab sosial, dan kontrol diri yang baik sehingga dapat menyikapi fenomena budaya populer secara lebih bijaksana dan produktif.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
*Penulis adalah dosen Fakultas Tarbiyah Universitas Kiai Abdullah Faqih (UNKAFA) Gresik yang banyak meneliti dan melakukan publikasi karya ilmiah tentang pendidikan karakter.
editor: jatmiko
**Tugumalang.id mengundang para akademisi maupun praktisi untuk menulis di Ruang Cendekia melalui email: ruangakademika2026@gmail.com































