Oleh: Aries Musnandar*
Tugumalang.id – Setiap 2 Mei, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional. Sebuah momentum penting yang tidak hanya mengajak kita mengenang jasa para pelopor pendidikan, tetapi juga memberi ruang untuk merenung: ke mana arah pendidikan kita hari ini dibawa?
Pendidikan, dalam hakikatnya, bukan sekadar proses penyampaian ilmu pengetahuan. Ia adalah ikhtiar membentuk manusia—membangun cara berpikir, membentuk karakter, sekaligus menumbuhkan kepekaan terhadap sesama. Dalam konteks ini, pertanyaan sederhana namun mendasar patut diajukan: sudahkah ilmu yang kita ajarkan mengantarkan peserta didik pada adab?
Antara Ilmu dan Adab
Pemikiran Ki Hadjar Dewantara masih terasa relevan hingga hari ini. Melalui falsafah Tut Wuri Handayani, beliau menempatkan pendidikan sebagai proses yang utuh: memberi teladan di depan, membangun semangat di tengah, dan memberikan dorongan dari belakang.
Baca Juga: Hari Anak Nasional, Pusat Gender UM Gelar Seminar Mengonstruksi Nilai Pendidikan pada Cerita Anak
Pendidikan bukan hanya soal apa yang diajarkan, tetapi juga bagaimana nilai itu dihidupkan.
Namun dalam praktiknya, tantangan pendidikan modern semakin kompleks. Di tengah tuntutan capaian akademik, akreditasi, dan kompetisi global, dimensi pembentukan karakter sering kali tidak mendapatkan ruang yang cukup. Proses belajar terkadang lebih berfokus pada hasil, sementara proses pematangan nilai berjalan lebih lambat.
Lebih jauh, persoalan ini tidak hanya bersifat pedagogis, tetapi juga struktural. Sistem pendidikan kita masih cenderung menempatkan keberhasilan pada indikator yang mudah diukur: angka, peringkat, dan keluaran administratif.
Kurikulum disusun padat, tetapi sering kali miskin ruang refleksi. Guru dan dosen dituntut produktif secara kuantitatif, sementara peran mereka sebagai teladan moral tidak selalu mendapat penguatan yang setara.
Di sisi lain, peserta didik tumbuh dalam ekosistem digital yang serba cepat, instan, dan kompetitif. Informasi melimpah, tetapi tidak semuanya terolah menjadi pengetahuan yang bermakna.
Baca Juga: Presiden Prabowo di Hari Guru Nasional 2025 Soroti Pendidikan hingga Pemberantasan Korupsi
Interaksi semakin luas, tetapi tidak selalu memperdalam empati. Dalam situasi ini, adab tidak cukup diajarkan sebagai konsep, tetapi perlu dihidupkan sebagai praktik yang konsisten.
Bahkan, laporan World Economic Forum menegaskan bahwa keterampilan seperti empati, kepemimpinan, dan etika justru semakin penting di tengah kemajuan teknologi.
Kecenderungan ini sejalan dengan arah kebijakan pendidikan nasional. Profil Pelajar Pancasila yang dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menempatkan dimensi beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia sebagai fondasi utama, sejajar dengan kemandirian, gotong royong, dan bernalar kritis.
Ini menunjukkan bahwa sejak tingkat kebijakan, pendidikan Indonesia sebenarnya telah mengakui pentingnya keseimbangan antara ilmu dan adab—meski dalam praktiknya masih memerlukan penguatan yang konsisten.
Menghadirkan “Ruh” dalam Pendidikan
Hari Pendidikan Nasional dapat menjadi titik refleksi untuk meneguhkan kembali makna pendidikan sebagai ta’dib—proses penanaman adab.
Dalam perspektif ini, pendidikan tidak berhenti pada penguasaan ilmu, tetapi juga mengarah pada pembentukan sikap, etika, dan tanggung jawab sosial.
Setiap proses akademik, baik di ruang kelas maupun dalam penelitian, sejatinya memiliki peran yang lebih luas. Riset tidak sekadar memenuhi kewajiban akademik, tetapi diharapkan mampu menjawab persoalan nyata. Pembelajaran bukan hanya penyampaian materi, melainkan juga penanaman nilai.
Pendidikan yang bermakna adalah pendidikan yang menghadirkan “ruh”—yang menghubungkan pengetahuan dengan kebijaksanaan, serta kecerdasan dengan kepekaan moral.
Dalam tradisi keilmuan, sosok ideal yang diharapkan lahir adalah ulul albab: mereka yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial.
Upaya ini tentu tidak dapat dicapai secara instan. Ia memerlukan komitmen bersama—dari pendidik, institusi, hingga pembuat kebijakan—untuk menghadirkan pendidikan yang lebih seimbang antara capaian intelektual dan pembentukan karakter. Ruang kelas perlu kembali menjadi ruang keteladanan, bukan sekadar ruang penyampaian materi.
Dalam tradisi Islam, sosok ideal yang lahir dari pendidikan adalah ulul albab—mereka yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga dalam secara spiritual dan sosial. Mereka berpikir, merenung, dan bertindak dalam satu kesatuan nilai.
Inilah tantangan kita hari ini: bagaimana melahirkan generasi ulul albab di tengah sistem pendidikan yang semakin teknokratis dan kompetitif.
Pada akhirnya, Hari Pendidikan Nasional bukan sekadar peringatan tahunan.
Ia adalah pengingat bahwa pendidikan selalu memiliki dimensi moral yang perlu dirawat. Sebab kemajuan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi ilmu pengetahuannya, tetapi juga oleh seberapa kuat adab yang menyertainya.
Selamat Hari Pendidikan Nasional.
Mari kita meneguhkan kembali pendidikan yang berilmu, beradab, dan membawa manfaat bagi sesama.
*Penulis adalah asisten direktur Pascarsarjana Universitas Raden Rahmat
Editor: Herlianto. A
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
























