Jumat, Juni 19, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Catatan

Hari Pendidikan Nasional: Momentum Refleksi untuk Pendidikan yang Berkeadilan

Redaksi by Redaksi
Mei 2, 2026 7:16 am
in Catatan
Hari Pendidikan Nasional

Zainal Habib, Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan Ketua PP Ikatan Sarjana NU (PP ISNU)

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Zainal Habib*

Setiap tanggal 2 Mei, bangsa ini kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional. Spanduk dipasang, upacara digelar, dan pidato disampaikan. Nama Ki Hadjar Dewantara kembali dihadirkan sebagai tokoh yang memperkenalkan pendidikan nasional, di mana setiap anak memiliki hak untuk mengenyam pendidikan.
Di balik suasana perayaan tersebut, muncul satu pertanyaan mendasar yang terus berulang: sejauh mana janji pendidikan untuk seluruh rakyat Indonesia benar-benar telah terpenuhi?

READ ALSO

Gentrifikasi Mahasiswa dan Kapitalisme Ruang

Tombol ON yang Menyalakan Takdir

Momentum ini semestinya tidak berhenti pada seremoni tahunan. Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi ruang refleksi nasional untuk menilai apakah sekolah telah menjadi ruang yang adil, apakah guru benar-benar dihormati, serta apakah seluruh anak Indonesia memperoleh kesempatan yang setara dalam mengakses pendidikan.

Pendidikan tidak sekadar berbicara tentang gedung, kurikulum, atau angka kelulusan. Lebih dari itu, pendidikan menyangkut masa depan manusia dan arah kemajuan bangsa. Di tengah berbagai capaian yang patut diapresiasi, masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan.

Ketimpangan Akses dan Kualitas Pendidikan

Berbagai persoalan klasik masih terus berulang setiap tahun, mulai dari ketimpangan kualitas, akses yang belum merata, kesejahteraan guru, hingga tantangan digitalisasi dan relevansi pendidikan dengan kebutuhan zaman.
Di satu sisi, Indonesia telah mencatat kemajuan signifikan dalam akses pendidikan.

Angka Partisipasi Kasar pendidikan dasar telah melampaui 100 persen, sementara Angka Partisipasi Sekolah usia 7–12 tahun mendekati 99 persen. Pembangunan ruang kelas terus dilakukan, ratusan ribu unit direhabilitasi, dan akses pendidikan tinggi semakin terbuka dengan angka partisipasi kasar mencapai sekitar 31 persen.

Baca juga: Presiden Prabowo di Hari Guru Nasional 2025 Soroti Pendidikan hingga Pemberantasan Korupsi

Namun demikian, akses tidak serta-merta menghadirkan keadilan. Anak-anak di kota besar dengan fasilitas lengkap memiliki peluang jauh lebih besar dibandingkan mereka yang berada di daerah terpencil.
Di wilayah terpencil, berbagai kendala masih menjadi hambatan utama, seperti:
•⁠ ⁠Infrastruktur sekolah yang belum layak
•⁠ ⁠Akses internet yang terbatas
•⁠ ⁠Ketiadaan laboratorium
•⁠ ⁠Keterbatasan buku pelajaran
•⁠ ⁠Kekurangan tenaga pengajar

Sebaliknya, di kota besar, sekolah berlomba menghadirkan fasilitas modern, kelas internasional, dan program unggulan. Ketimpangan ini menciptakan jurang kualitas pendidikan yang nyata antardaerah.

Guru sebagai Fondasi, Bukan Sekadar Simbol

Dalam setiap peringatan Hari Pendidikan Nasional, guru selalu ditempatkan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Namun, penghormatan tidak boleh berhenti pada simbol dan retorika.
Dengan jumlah lebih dari 3,3 juta orang, guru menjadi fondasi utama pembangunan sumber daya manusia nasional. Tanpa kualitas dan kesejahteraan yang memadai, cita-cita Indonesia Emas 2045 sulit diwujudkan.
Faktanya, masih banyak guru menghadapi berbagai persoalan serius, antara lain:
•⁠ ⁠Kesejahteraan yang belum layak
•⁠ ⁠Beban administrasi yang berlebihan
•⁠ ⁠Ketidakpastian status kerja
•⁠ ⁠Keterbatasan akses pengembangan kompetensi

Baca juga: Upacara Hardiknas 2025, LLDIKTI Wilayah VII Soroti Pendidikan Bermutu dan Kolaboratif

Guru non-ASN atau honorer masih mencapai ratusan ribu orang, dengan sebagian menerima penghasilan jauh di bawah standar. Bahkan, ada yang hanya memperoleh Rp 300.000 hingga Rp 1 juta per bulan, terutama di daerah terpencil.

Di sisi lain, tuntutan terhadap guru semakin kompleks. Mereka tidak lagi hanya menyampaikan materi, tetapi juga berperan sebagai fasilitator, pembimbing karakter, pendamping psikologis, sekaligus pengguna teknologi digital.
Distribusi guru yang timpang semakin memperparah kondisi. Di kota besar terjadi kelebihan tenaga pendidik, sementara di daerah tertinggal satu guru harus menangani beberapa kelas sekaligus.

Kebijakan dan Kurikulum yang Terus Berubah

Salah satu tantangan lain dalam dunia pendidikan adalah perubahan kebijakan dan kurikulum yang terlalu sering terjadi. Setiap pergantian kepemimpinan kerap diikuti dengan penyesuaian arah kebijakan baru.
Meski perubahan tersebut bertujuan baik, frekuensi yang terlalu tinggi justru menimbulkan kelelahan di lapangan. Guru harus terus beradaptasi dengan sistem, istilah, dan metode evaluasi yang berbeda.
Akibatnya, fokus pendidikan kerap bergeser pada kepatuhan administratif, bukan pada kualitas proses pembelajaran itu sendiri.

Padahal, esensi pendidikan tetap sama, yaitu membentuk manusia yang:
•⁠ ⁠Cerdas dan berkarakter
•⁠ ⁠Mampu berpikir kritis
•⁠ ⁠Bisa bekerja sama
•⁠ ⁠Memberi manfaat bagi masyarakat

Kurikulum yang ideal seharusnya memberi ruang kreativitas bagi guru, relevan dengan kebutuhan masa depan, serta konsisten dalam penerapannya.

Transformasi Digital dan Tantangan Baru

Pandemi menjadi titik balik percepatan transformasi digital dalam pendidikan. Pembelajaran daring, kelas virtual, dan pemanfaatan teknologi menjadi bagian dari sistem pendidikan saat ini.
Ini merupakan perkembangan positif. Anak-anak Indonesia perlu akrab dengan teknologi agar mampu bersaing secara global.

Namun, transformasi ini juga menghadirkan tantangan baru, seperti:
•⁠ ⁠Ketimpangan akses perangkat dan internet
•⁠ ⁠Kesiapan guru dalam penggunaan teknologi
•⁠ ⁠Kesenjangan kualitas pembelajaran digital

Selain itu, derasnya arus informasi juga memunculkan tantangan literasi. Anak-anak tidak hanya perlu mampu mengakses informasi, tetapi juga harus memiliki kemampuan berpikir kritis, etika digital, dan kebijaksanaan dalam menggunakannya.

Pendidikan, Dunia Kerja, dan Karakter Bangsa

Masalah lain yang tak kalah penting adalah kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan lapangan kerja. Banyak lulusan kesulitan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kompetensinya, sementara industri membutuhkan keterampilan praktis dan adaptif.

Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan belum sepenuhnya selaras dengan dinamika ekonomi modern.
Karena itu, diperlukan langkah konkret seperti:
•⁠ ⁠Penguatan kerja sama dengan industri
•⁠ ⁠Program magang dan proyek nyata
•⁠ ⁠Pembelajaran berbasis masalah
•⁠ ⁠Pengembangan soft skills

Di sisi lain, pendidikan karakter juga tidak boleh terabaikan. Fenomena perundungan, kekerasan, dan intoleransi menunjukkan pentingnya pembentukan nilai-nilai dasar seperti kejujuran, disiplin, dan empati.
Nilai karakter tidak cukup diajarkan melalui teori, tetapi harus hadir dalam praktik sehari-hari di sekolah, melalui keteladanan guru dan budaya lingkungan pendidikan yang sehat.

Momentum Refleksi dan Arah Masa Depan

Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi titik evaluasi bersama untuk memperkuat komitmen dalam membangun pendidikan yang lebih baik.

Pemerintah telah menunjukkan komitmen melalui alokasi anggaran pendidikan minimal 20 persen dari APBN. Namun, efektivitas penggunaannya perlu terus ditingkatkan, terutama dalam:
•⁠ ⁠Peningkatan kualitas guru
•⁠ ⁠Pemerataan sarana pendidikan
•⁠ ⁠Penguatan kualitas pembelajaran

Sinergi berbagai pihak juga menjadi kunci. Pemerintah daerah, dunia usaha, orang tua, dan masyarakat harus bersama-sama membangun ekosistem pendidikan yang kuat.

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak diukur dari angka semata, melainkan dari kualitas manusia yang dihasilkan: generasi yang percaya diri, cerdas, berakhlak, dan memiliki kesempatan yang adil.
Jika pendidikan berhasil, maka kemiskinan dapat diputus, ketimpangan dipersempit, dan masa depan bangsa akan lebih cerah.

Sebaliknya, jika gagal, berbagai persoalan sosial akan terus diwariskan.
Karena itu, Hari Pendidikan Nasional tidak boleh berhenti sebagai seremoni. Ia harus diwujudkan dalam kebijakan yang konsisten, keberpihakan yang nyata, serta kerja kolektif yang berkelanjutan.

Janji pendidikan Indonesia memang belum sepenuhnya tuntas. Namun, janji itu masih bisa ditepati, selama bangsa ini benar-benar menempatkan sekolah, guru, dan anak-anak sebagai pusat masa depan.
Sebab di ruang kelas hari ini, masa depan Indonesia sedang ditentukan.

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

* Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan Ketua PP Ikatan Sarjana NU (PP ISNU)

Tags: akses pendidikan Indonesiahari pendidikan nasionaljanji pendidikan belum tuntasKesejahteraan guruketimpangan pendidikankualitas pendidikan nasionalmasalah pendidikan Indonesiapendidikan Indonesia 2026

Related Posts

Gentrifikasi Mahasiswa dan Kapitalisme Ruang
Catatan

Gentrifikasi Mahasiswa dan Kapitalisme Ruang

Jumat, 19 Jun 2026
Takdir
Catatan

Tombol ON yang Menyalakan Takdir

Kamis, 18 Jun 2026
Mengapa Umat Islam Tertinggal? Tentang Dualisme Jasmani dan Ruhani
Catatan

Mengapa Umat Islam Tertinggal? Tentang Dualisme Jasmani dan Ruhani

Selasa, 16 Jun 2026
Tahun Lama yang Tetap Bermakna: Muhasabah Menyambut Tahun Baru Hijriah 1448
Catatan

Tahun Lama yang Tetap Bermakna: Muhasabah Menyambut Tahun Baru Hijriah 1448

Minggu, 14 Jun 2026
Sengketa tanah
Catatan

Sengketa Tanah: Kenapa Bisa Terjadi dan Bagaimana Cara Melindungi Hak Anda?

Jumat, 5 Jun 2026
Hari Lahir Pancasila
Catatan

Refleksi Hari Lahir Pancasila: Zainal Habib Soroti Kedaulatan Digital dan Keadilan Sosial

Senin, 1 Jun 2026
Next Post
Prakiraan cuaca Malang, terutama di wilayah Kota Malang pada hari Sabtu, 2 Mei 2026 diperkirakan dalam kondisi cerah hingga potensi hujan di siang hari. /Foto: Pinterest/Sahabat Art Design.

Prakiraan Cuaca Malang Hari Sabtu 2 Mei 2026: Pagi Cerah Potensi Hujan Ringan di Siang hingga Sore Hari

BERITA POPULER

  • Ilustrasi Efek Cathedral (Foto: Pinterest)

    Kafe dengan Cathedral Effect di Kota Malang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 6 Layanan Gratis di Kota Malang yang Bisa Dimanfaatkan Masyarakat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Tukar Uang THR Lebaran? Ini Daftar ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu di Malang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPRD Kota Malang Siapkan Perda Penyakit Menular untuk Tangani HIV/AIDS

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.