MALANG, Tugumalang.id – Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2025 dengan menggelar upacara khidmat pada Jumat (2/5/2025) di Ruang Harsono, Kantor LLDIKTI Wilayah VII Surabaya, Jawa Timur.
Mengusung tema “Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, kegiatan ini diikuti oleh civitas akademika dan tamu undangan. Bertindak sebagai pembina upacara, Kepala LLDIKTI Wilayah VII, Prof. Dr. Dyah Sawitri, S.E., M.M., tampil anggun mengenakan pakaian adat Gorontalo.
Petugas upacara berasal dari Tim Dosen Dipekerjakan (DPk) LLDIKTI Wilayah VII yang bertugas di Universitas Muhammadiyah Surabaya.
Upacara Hardiknas 2025 Penghormatan Nilai Luhur Pendidikan Nasional
Dalam amanatnya, Prof. Dyah menekankan pentingnya menjadikan upacara sebagai wujud penghormatan terhadap nilai-nilai luhur pendidikan nasional.
“Saya berpesan agar seluruh peserta mengikuti upacara dengan tertib dan khidmat,” ujarnya.
Baca juga: Wali Kota Batu Luncurkan Program 1000 Sarjana di Momen Hardiknas 2025, Dukung Indonesia Emas 2045
Prof. Dyah juga menyampaikan pidato resmi dari Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D. yang memperkenalkan konsep Kampus Berdampak—sebuah gagasan untuk menjawab tantangan global melalui pendidikan.

Dalam pidato tersebut, Mendiktisaintek menyoroti berbagai krisis yang dihadapi dunia saat ini, seperti perubahan iklim, ketimpangan ekonomi, revolusi digital, krisis kepercayaan sosial, dan disrupsi akibat kecerdasan buatan.
“Pendidikan adalah jawaban paling strategis. Tema Hardiknas 2025 adalah ajakan untuk bergerak bersama. Sebab pendidikan tidak bisa dikerjakan sendiri,” ungkap Prof. Dyah mengutip pidato tersebut.

Ia menegaskan bahwa kolaborasi menjadi kunci utama. Mulai dari sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, perguruan tinggi dan industri, guru dan orang tua, hingga peneliti dan pembuat kebijakan.
Lebih lanjut, Prof. Dyah memaparkan lima perilaku utama dalam mewujudkan pendidikan yang berdampak:
Fokus pada outcome dan impact, bukan sekadar laporan kegiatan atau output angka.
Riset dan inovasi harus menjawab persoalan nyata, seperti ketahanan pangan, kesehatan, energi, dan iklim.
Sains sebagai solusi sosial dan ekologis, hadir dalam kebijakan dan kehidupan masyarakat.
Hilirisasi riset untuk kesejahteraan, bersinergi dengan industri, UMKM, dan koperasi.
Evaluasi yang akuntabel dan terbuka, demi pendidikan yang terus berkembang.

Prof. Dyah menutup sambutannya dengan mengutip pernyataan Presiden RI, Prabowo Subianto:
“Hanya bangsa yang menguasai sains dan teknologi yang akan menjadi bangsa yang makmur.”
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Bagus Rachmad Saputra
redaktur: jatmiko





























