Tugumalang.id – Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) berkomitmen melahirkan generasi muda yang cakap teknologi digital dan kokoh secara kultural. Salah satunya melalui penerapan metode etnopedagogi digital sebagai pendekatan transformatif yang mengintegrasikan nilai nilai kearifan lokal ke dalam sistem pembelajaran berbasis digital.
Dosen Pendidikan Geografi Unikama, Dr. Yuli Ifana Sari, M.Pd. mengungkapkan bahwa metode ini dirancang untuk menciptakan pembelajaran berdampak.
Baca Juga: Gagasan Dosen Unikama: Transformasi Pengabdian Menjadi Pemberdayaan agar Masyarakat Lebih Mandiri
“Pendidikan modern tidak boleh melepaskan mahasiswa dari akar budayanya. Melalui etnopedagogi digital, teknologi tidak mengikis tradisi, melainkan menjadi alat utama untuk menghidupkan dan melestarikan nilai nilai luhur di ruang kelas masa kini,” tuturnya.

Menghidupkan nilai karakter di ruang etnopedagogi digital bertumpu pada rekonstruksi nilai nilai non benda yang terdapat di dalam kearifan lokal masyarakat.
Nilai nilai universal seperti gotong royong, kepedulian terhadap lingkungan, tanggung jawab sosial, kesederhanaan, toleransi hingga penghormatan kepada orang tua dikemas ulang menggunakan media yang dekat dengan Generasi Z dan Alpha.
Baca Juga: Perkuat Implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, Fapet Unikama Jalin Kolaborasi Strategis dengan UPT PT & HMT Batu
Melalui pendekatan itu, mahasiswa didorong untuk memanfaatkan teknologi seperti pembuatan konten edukatif, pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), platform pemetaan digital hingga produksi siniar atau podcast untuk menyebarluaskan filosofi hidup selaras dengan alam dan sesama manusia.

Sementara Dosen PGSD Unikama, Dr. Arnelia Dwi Yasa, S.Pd., M.Pd memandang bahwa memupuk kepedulian terhadap ruang hidup adalah satu keunggulan utama dari etnopedagogi digital di lingkungan kampus adalah pergeseran dari metode hafalan teoretis ke aksi nyata.
Mahasiswa tidak lagi sekadar mempelajari geografi, sosiologi, atau komunikasi sebatas peta fisik dan lokasi di atas kertas.
“Etnopedagogi digital mengajarkan mahasiswa untuk peduli, menjaga, menghargai, dan bertanggung jawab terhadap tempat tinggal serta lingkungan lokal mereka,” imbuhnya.
Dengan mengombinasikan riset etnografi sederhana dan perangkat digital seperti Google Earth atau infografis interaktif, mahasiswa diajak memetakan kerentanan ekologis serta potensi kebudayaan yang ada di sekitar mereka.
Hal ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa kepemilikan dan empati sosial yang tinggi. Jurang pemisah antara teori akademis di dalam kelas dan dinamika sosial di lapangan sering kali memicu kegagapan budaya culture shock bagi mahasiswa.
Etnopedagogi digital hadir sebagai jembatan yang mengintegrasikan realita kehidupan masyarakat langsung ke dalam kurikulum perkuliahan.
Integrasi ini dirancang sebagai simulasi sekaligus pembekalan strategis bagi mahasiswa sebelum mereka diterjunkan langsung dalam program pengabdian masyarakat, seperti KKN atau PPL.
Mahasiswa dibekali kemampuan merancang program kerja berbasis digitalisasi desa yang tetap menghormati pranata sosial dan adat istiadat setempat.
Bagi mahasiswa kependidikan, metode ini melatih mereka untuk menyusun modul ajar yang kontekstual, inklusif dan menghargai latar belakang budaya para siswa di sekolah penempatan.
Sebagai wujud nyata dari pembelajaran berdampak, para mahasiswa kini tengah menggarap berbagai proyek berbasis Project-Based Learning (PJBL).
Beberapa di antaranya meliputi pembuatan video dokumenter pendek bertema pahlawan lokal untuk media sosial, digitalisasi rute budaya desa, hingga pembuatan komik digital interaktif yang membawa pesan toleransi dan kesederhanaan.
Dengan implementasi kurikulum berbasis etnopedagogi digital ini, Unikama menegaskan posisinya sebagai institusi pendidikan tinggi yang adaptif terhadap kemajuan teknologi, tanpa sedikit pun mengorbankan jati diri dan identitas moral bangsa.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Editor: Herlianto. A























