Malang, Tugumalang.id – Dinas Pendidikan (Dindik) Provinsi Jawa Timur mendorong sekolah menjadi laboratorium ketahanan pangan melalui Program SIKAP (Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan). Melalui program tersebut, sekolah didorong memanfaatkan lahan kosong maupun area yang belum produktif menjadi kawasan pembelajaran sekaligus area produktif.
Program yang diluncurkan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa pada Januari 2026 itu mengajak peserta didik belajar berbagai bidang, mulai dari pertanian, perikanan, peternakan, hingga pengolahan hasil pangan.
Kepala Dindik Jawa Timur Aries Agung Paewai mengatakan, Program SIKAP merupakan bagian dari kebijakan untuk menciptakan ruang belajar yang lebih terbuka. Kegiatan belajar tidak lagi hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga dapat dilakukan di lingkungan sekolah.
“Ruang terbuka pun bisa digunakan oleh sekolah untuk interaksi guru dan murid. Salah satunya adalah pendidikan bagaimana ketahanan pangan ada di lingkungan sekolah,” ujar Aries saat ditemui usai pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMK Negeri 2 Singosari, Senin (13/7/2026).

Memanfaatkan Lahan Sekolah sebagai Media Belajar
Menurut Aries, masih banyak lahan di lingkungan sekolah yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Melalui Program SIKAP, area tersebut diubah menjadi kawasan produktif sekaligus menjadi media pembelajaran lintas disiplin ilmu.
“Bercocok tanam bukan hanya soal pertanian, tetapi juga berkaitan dengan statistika, biologi, fisika, dan banyak mata pelajaran lain yang bisa diintegrasikan. Ini menjadi salah satu cara agar siswa bisa belajar dan berinteraksi langsung dengan lingkungan mereka, tidak hanya di ruang kelas,” katanya.
Baca juga: Dindik Jatim Tegaskan MPLS 2026 Bebas Perpeloncoan, Sekolah Harus Jadi Ruang Aman
Ia menjelaskan, seluruh SMA, SMK, dan SLB yang memiliki potensi untuk mengembangkan program tersebut diajak berpartisipasi. Sekolah yang tidak memiliki lahan pun tetap dapat menerapkannya melalui sistem hidroponik.
“Semua sekolah yang punya program itu kita ajak. Termasuk sekolah yang tidak punya lahan pun bisa menggunakan hidroponik,” ungkapnya.
Saat ini, ratusan SMA, SMK, dan SLB negeri maupun swasta di Jawa Timur telah berpartisipasi dalam Program SIKAP. Di wilayah Malang Raya, sekitar 57 sekolah telah menerapkan program tersebut.
Selain memperkuat pemahaman mengenai ketahanan pangan, Program SIKAP juga menjadi sarana pembentukan karakter sekaligus menumbuhkan jiwa kewirausahaan sejak dini. Hasil panen dan produk olahan dari sekolah peserta akan dimanfaatkan dalam berbagai kegiatan, seperti bazar sekolah, Gerakan Pangan Murah, hingga kegiatan bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
editor: jatmiko























