MALANG, Tugumalang.id – Dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN) Malang, Prof. Dr. H. Achmad Khudori Saleh, M.Ag, mengkaji konsep Al-Huzn atau kesedihan dalam Al-Qur’an sebagai terapi dan solusi emosional Islami. Kajian tersebut diharapkan memperkaya khazanah psikologi Islam, tafsir tematik Al-Qur’an, sekaligus pengembangan konseling Islami berbasis nilai-nilai Qur’ani.
Hasil kajian itu dituangkan dalam karya ilmiah berjudul Konsep Kesedihan (Al-Huzn) dalam Al-Qur’an sebagai Terapi dan Solusi Emosional Islami. Penelitian tersebut menyoroti kesedihan sebagai dimensi emosional manusia yang memiliki makna spiritual dan psikologis.
“Kesedihan tidak semata-mata dipahami sebagai pengalaman negatif, tetapi juga sebagai bagian dari dinamika batin manusia yang dapat diarahkan menuju pemulihan, ketangguhan, dan kedewasaan spiritual,” ujar Prof. Khudori.
Baca juga: Hebat! Muh. Anwar Fu’ady Jadi Doktor Pertama Fakultas Psikologi UIN Malang Lulusan UI
Integrasi Konsep Al-Huzn dengan Kerangka Psikologi Positif
Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan tafsir tematik (maudhu’i). Kajian diawali dengan mengidentifikasi 42 ayat Al-Qur’an yang memuat lafaz Al-Huzn, kemudian mengelompokkan konteks ayat, menganalisis makna semantik tafsir, serta melakukan kategorisasi solusi melalui coding tematik berbasis makna.
Hasil penelitian menunjukkan Al-Huzn dalam Al-Qur’an muncul dalam bentuk fi’il maupun isim yang menggambarkan dinamika emosi manusia.
“Temuan ini menunjukkan bahwa kesedihan dalam Al-Qur’an tidak diposisikan sebagai sesuatu yang harus dihapus sepenuhnya. Melainkan sebagai emosi manusiawi yang perlu diarahkan agar tidak berlarut-larut dan tidak melemahkan kehidupan spiritual maupun psikologis seseorang,” ungkapnya.
Solusi Qur’ani Berbasis Fungsi Psikospiritual
Kajian tersebut juga menemukan delapan solusi Qur’ani berbasis fungsi psikospiritual. Solusi itu menunjukkan Al-Qur’an memberikan panduan praktis dan reflektif dalam menghadapi kesedihan melalui penguatan iman, pemaknaan hidup, kesabaran, ketawakalan, serta orientasi spiritual yang lebih luas.
Menurut penelitian itu, konsep Al-Huzn memiliki keselarasan dengan psikologi positif, terutama model PERMA yang dikembangkan Martin Seligman. Keselarasan tersebut tampak pada aspek meaning, engagement, dan resilience, yakni kemampuan menemukan makna hidup, tetap terlibat dalam kehidupan, serta membangun ketahanan saat menghadapi tekanan emosional.
Baca juga: 6 Dosen UIN Malang Resmi Sandang Guru Besar
Melalui kajian tersebut, Prof. Khudori bersama Fina Salsabila Tuada MF menegaskan bahwa kesedihan dapat dipahami sebagai proses adaptif yang tidak selalu melemahkan manusia.
“Dalam perspektif Qur’ani, kesedihan justru dapat ditransformasikan menjadi kekuatan spiritual apabila dikelola melalui pendekatan yang tepat, reflektif, dan berlandaskan nilai-nilai keislaman,” jelas Prof. Khudori.
Karya ilmiah tersebut diharapkan menjadi referensi bagi mahasiswa, dosen, peneliti, konselor, serta pemerhati psikologi Islam dalam memahami kesedihan secara lebih utuh.
Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan membuka peluang pengembangan model konseling Islami yang lebih operasional, holistik, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Kajian tersebut juga diharapkan memberi kontribusi terhadap pengembangan psikologi Islam. Kontribusi itu terutama dalam merumuskan pendekatan pemulihan emosional yang memadukan dimensi spiritual, psikologis, dan kemanusiaan.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
editor: jatmiko























