Tugumalang.id – Peneliti Universitas Brawijaya (UB) Malang membeberkan kandungan mikroplastik dengan kadar serius di Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas. Temuan tersebut menjadi urgensi semua pihak terkait untuk menuntaskan permasalahan itu sedari sekarang,
Ketua tim riset penelitian mikroplastik Pusat Studi Pesisir dan Kelautan (PSPK) UB, mendesak pemerintah agar meningkatkan pola mitigasi untuk meminimalkan keberadaan mikroplastik.
“Pemerintah perlu meningkatkan mitigasi mikroplastik, karena partikel ini sudah masuk ke rantai makanan dan berpotensi mengganggu kesehatan Masyarakat,” kata Prof. Andi, Kamis (29/1/2026).
Baca Juga: 11 dari 12 Sampel Air di Malang Diduga Terpapar Mikroplastik, Ecoton Ungkap Dampaknya bagi Kesehatan
Berdasarkan hasil penelitian-penelitian di Sungai Metro dan DAS Brantas, menunjukkan pencemaran plastik telah menjadi masalah serius yang merambah ekosistem air tawar.
“Tidak hanya penelitian hari ini, kami juga telah mengidentifikasi keberadaan mikroplastik hampir di semua ekosistem perairan yang menjadi objek utama penelitian yang mengindikasikan mikroplastik menjadi emerging pollutant,” kata Prof. Andi.

Riset ini bahkan kemudian diperluas ke berbagai lokasi strategis yang merepresentasikan aliran sungai dari hulu hingga pesisir. Kajian dilakukan di mata air Brantas sebagai bagian hulu, berlanjut ke sejumlah titik di bagian tengah hingga mencapai muara Brantas, serta mencakup kawasan perairan pesisir seperti Pulau Lusi dan Sendang Biru.
Prof. Andi menjelaskan besaran mikroplastik yang ditemukan bervariasi di beberapa titik tergantung lokasi dan juga tergantung dari waktu. Rata-rata mikroplastik di layaran sungai itu 2 sampai 8 partikel per liter. Dan semakin ke arah pantai, kandungan mikroplastiknya semakin tinggi.
Baca Juga: Tutup ToT Moderasi Beragama, Rektor UIN Malang Tekankan Kepedulian Lingkungan
“Jumlah tertinggi yang kami temukan dalam studi kami, itu sampai 40 partikel per liter di daerah pesisir, di daerah pantai,” bebernya.
Prof. Andi menegaskan ,okasi-lokasi tersebut hanya menjadi contoh dari banyak titik penelitian yang telah dilakukan. Namun dari situ saja sudah cukup untuk menunjukkan fakta penting bahwa mikroplastik telah tersebar di seluruh rantai ekosistem perairan, dari sumber mata air hingga laut.
”Jadi, saya pikir urgensi mitigasi dari pemerintah untuk mengatasi ini menjadi semakin mendesak untuk segera dilakukan,” ujarnya.
Dalam paparannya ia menambahkan bahwa tanpa standar baku mutu, pencemaran mikroplastik akan sulit dikendalikan. Sehingga upaya pertama yang perlu dilakukan adalah menguatkan langkah perlindungan terhadap konsumen.
“Yang pasti melakukan perlindungan konsumen, misalnya mengecek standar botol air kemasan atau air yang dikonsumsi masyarakat. Itu perlu recheck, sehingga meminimalkan keberadaan mikroplastik,” kata Prof Andi.
Kemudian, upaya lainnya adalah mengawasi dan memastikan berjalannya pengawasan kelestarian lingkungan dari potensi masuknya bahan tercemar, seperti pada aliran sungai.
“Oleh karena itu, regulasi yang harus diusung, melengkapi regulasi perlindungan air dan lingkungan yang sudah ada, termasuk menata regulasi untuk melindungi hewan ataupun manusia,” katanya.
Iaa menambahkan, pemerintah, termasuk Kementerian Kesehatan diminta untuk menstimulus pendekatan penelitian yang lebih mengarah ke mikroplastik dan kesehatan, sekalipun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum memutuskan baku mutu.
Langkah ini disebutnya menjadi peringatan dini, sebab tim peneliti UB telah menemukan bahwa sejak sumber mata air hingga sampai ke pantai ditemukan keberadaan mikroplastik.
Pusat Studi Pesisir dan Kelautan (PSPK) Universitas Brawijaya memperkuat posisinya sebagai pusat riset mikroplastik di Indonesia. Sejak 2021, Prof Andi sebagai ketua riset di bidang ini konsisten melibatkan mahasiswa sebagai peneliti muda, menghasilkan tesis dan publikasi yang menjadi fondasi riset berkelanjutan.
Sebagai Ketua Riset Mikroplastik di PSPK UB, Prof. Andi Kurniawan menekankan integrasi riset dengan bidang keahliannya, yaitu ekologi mikroba, khususnya biofilm. Biofilm terbukti berperan sebagai biosorben alami yang mampu mengikat dan menyerap mikroplastik. Potensi ini membuka peluang pengembangan teknologi eko-akuatik untuk mitigasi pencemaran sungai dan pesisir.
Atas temuan ini, PSPK UB menegaskan komitmennya untuk memperkuat riset mikroplastik sebagai bagian dari agenda global keamanan air. Harapannya, Indonesia dapat menjadi rujukan internasional dalam mitigasi pencemaran mikroplastik.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: M Ulul Azmy
Editor: Herlianto. A





























