Malang — Dalam rangka menyemarakkan Hari Santri Nasional (HSN) 2025, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam PCNU) Kota Malang menggelar kegiatan inspiratif bertajuk “Nahdliyyin Initiative Forum”. Forum ini menjadi ruang kolaboratif bagi akademisi, peneliti, aktivis, dan pemangku kebijakan untuk bertukar gagasan demi kemaslahatan umat dan kelestarian lingkungan.
Salah satu agenda utama forum ini adalah Seminar Internasional bertema “Islamic Paradigm in Environmental Sustainability” yang dilaksanakan secara hybrid (daring dan luring) di Universitas Brawijaya, Malang. Seminar ini menghadirkan Prof. Muhammad U. Faruque dari University of Cincinnati, Amerika Serikat, seorang murid dari filsuf Islam terkemuka Seyyed Hossein Nasr.
Baca juga: NU Kota Malang Evaluasi Kebijakan Publik Lewat Pendekatan Ushul Fiqih
Krisis Iklim Sebagai Krisis Spiritual dan Epistemologis
Dalam orasinya, Prof. Faruque menegaskan bahwa krisis lingkungan bukan sekadar persoalan teknis atau ekonomi, tetapi lebih dalam lagi merupakan krisis nilai dan spiritualitas manusia.
“Krisis iklim adalah krisis epistemologi dan spiritualitas, bukan sekadar kegagalan ekonomi,” tegas pakar filsafat Islam dan ekologi spiritual tersebut.
Ia mengkritik pendekatan modern yang terlalu berorientasi pada teknologi dan pertumbuhan ekonomi tanpa refleksi mendasar terhadap paradigma manusia dan alam. Melalui konsep yang ia sebut “sufi ecological economy”, Prof. Faruque mengajak umat Islam membangun paradigma baru yang berlandaskan keseimbangan kosmik (mizan), pengendalian diri (zuhd), dan penghormatan terhadap kesakralan alam.
“Kerja, pertanian, dan hubungan manusia dengan tanah seharusnya dilihat sebagai praktik spiritual, bukan sekadar aktivitas produksi,” ujarnya.
Baca juga: Momen Hari Santri Nasional 2024, Pengasuh Pesantren dan Madrasah di Kabupaten Malang Diajak Aktif Cegah Perkawinan Anak
Peran Santri sebagai Agen Peradaban dan Ekologi
In’amul Wafi, dosen Universitas Brawijaya sekaligus panitia penyelenggara, menjelaskan bahwa forum ini menjadi momentum penting untuk mempertemukan warisan keilmuan Islam klasik (turats) dengan tantangan peradaban modern.
“Tantangan terbesar zaman ini adalah krisis iklim, kesenjangan sosial, dan degradasi moral publik. Karena itu, santri harus tampil sebagai agen peradaban baru yang berakar pada spiritualitas dan tanggung jawab ekologis,” tandasnya.
Baca juga: Lakpesdam NU Kota Malang Luncurkan Komik Fiqih Kebangsaan
Kegiatan seminar ini diikuti lebih dari 50 peserta, terdiri dari akademisi, peneliti, pengurus NU, dan pengkaji Islam dari berbagai daerah.
Lakpesdam PCNU Luncurkan Buku “The Nature’s Resacralization” sebagai Gerakan Jihad Ekologis Nahdliyyin
Sementara itu sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Nahdliyyin Initiative Forum 2025, Lakpesdam PCNU Kota Malang juga meluncurkan buku berjudul “The Nature’s Resacralization: The Nahdliyyin’s Jihad in Protecting the Environment” di Gedung Widya Loka, Universitas Brawijaya, pada Selasa (21/10/2025).
Buku ini merupakan hasil refleksi kolektif para intelektual dan aktivis NU dalam merumuskan kembali hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan dalam bingkai teologi dan ekologi Islam.
Romel Masykuri, inisiator kegiatan, menuturkan bahwa penyelamatan lingkungan bukan hanya isu teknis atau ilmiah, melainkan bagian dari jihad kultural dan spiritual umat Islam.
Baca juga: Lakpesdam NU Kota Malang Luncurkan Komik Fiqih Kebangsaan
“Kami mengonsolidasi para intelektual NU, terutama dari kalangan pesantren, untuk menulis dan menafsir ulang hubungan manusia dengan alam dalam perspektif Islam Nusantara,” jelasnya.
Febri Taufiqurrahman, penyunting buku, menegaskan bahwa penerbitan ini adalah langkah strategis untuk menjadikan pesantren sebagai pusat refleksi etis dan spiritual terhadap krisis lingkungan.
“Santri harus menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar penonton dalam isu ekologis. Buku ini menunjukkan bahwa menjaga alam adalah bagian dari jihad Nahdliyyin untuk kemanusiaan dan keadilan ekologis,” ungkapnya.
Peluncuran buku tersebut dilakukan secara simbolik oleh sejumlah tokoh terkemuka, antara lain:
-
Prof. KH. Said Aqil Siroj (Ketua Umum PBNU 2010–2021)
-
Prof. H. Sutima B. Sumitro (Guru Besar Universitas Brawijaya)
-
Prof. H. Imam Santoso (Wakil Rektor Bidang Akademik UB)
-
Prof. Hj. Hamidah Nayati Utami (Dekan FIA UB & Pengurus PCNU Kota Malang)
-
Dr. KH. Isroqunnajah (Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Malang)
Acara tersebut dihadiri lebih dari 300 peserta, terdiri dari pengurus NU, akademisi, santri, dan masyarakat umum yang antusias mendukung gerakan jihad ekologis Nahdliyyin.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: Lakpesdam PC NU Kota Malang
redaktur: jatmiko
























