MALANG, Tugumalang.id – Desa Brongkal, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, Jawa Timur, menunjukkan kemandirian dalam mewujudkan ketahanan pangan dari desa. Desa ini telah menerapkan sistem ketahanan pangan berbasis ayam petelur sebagai solusi ekonomi dan pangan lokal.
Apabila pengelolaan lahan dilakukan secara lebih efisien, masyarakat Desa Brongkal bisa saja tak lagi membeli beras impor dan belanja pangan di pasar. Mereka bisa dengan mudah memenuhi kebutuhan pangan dasar bagi keluarga mereka.
Baca Juga: Capaian Pajak Perhotelan Kabupaten Malang Tembus 71 Persen, Bapenda Optimistis Target Tercapai
Pengabdian masyarakat yang digelar oleh Gawa Lelaku Community dan Kopri PC PMII Kabupaten Malang tengah menjalankan inisiatif besar untuk memperkuat ketahanan pangan lokal, khususnya di Desa Brongkal. Kegiatan digelar di Kantor Desa Brongkal pada Selasa (16/9/2025).
Pengabdian masyarakat ini melibatkan Dosen Ilmu Politik Universitas Islam Malang (UNISMA) sekaligus Direktur Gawa Lelaku, Dr Khoirun dan Dosen FISIP Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA), Dafis Ubaidillah Assiddiq.

Keduanya merupakan ujung tombak dari inisiatif ini dengan latar belakang akademik di bidang politik dan pengabdian masyarakat
Salah satu tujuan dari kegiatan ini adalah menunjukkan bahwa harmoni sosial dan kedaulatan pangan bisa jadi jalan menuju kesejahteraan desa yang berkelanjutan.
Butuh kolaborasi dari masyarakat untuk mewujudkan ketahanan pangan di tingkat desa yang manfaatnya akan kembali lagi ke masyarakat.
Baca Juga: Budaya Madura, Dayak Hingga Papua Meriahkan Karnaval Desa Pandanlandung Kabupaten Malang
Pada kegiatan ini, Dr Khoiron menyampaikan, rusaknya negara dimulai dari rusaknya rakyat yang bermula dari kepemimpinan yang tidak sehat. Oleh karena itu, penting untuk memilih pemimpin yang tahu nilai-nilai keberlanjutan.
Ia pun mengajak generasi muda untuk kembali menjadi petani sejati. “Apakah generasi penerus kita mau menanam? Kalau tidak, siapa yang akan memastikan desa tidak jadi kota?” ujarnya di hadapan mahasiswa dan masyarakat.
Sementara itu, Dafis menekankan pentingnya kembali ke pola hidup yang lebih bijak dan berkelanjutan. Ia mencontohkan, salah satu cara sederhana yang bisa dilakukan untuk memnuhi kebutuhan pangan adalah dengan menanam padi, beternak ayam petelur, dan menjaga sawah.
“Ini adalah bentuk ‘numbuk’ memenuhi kebutuhan sendiri sebelum berpikir untuk jual,” ujar Dafis.
Selain permasalahan ketersediaan pangan, keberlanjutan dan kesadaran masyarakat juga menjadi tantangan bagi ketahanan pangan lokal. Misalnya, masyarakat lebih memilih menjual sawahnya yang kemudian dibangun pabrik.
“Sawah dijual untuk pabrik, padahal itu jantungnya ketahanan pangan,” kata Dafis.
Kedua narasumber meminta agar pemerintah daerah bisa membuat peta potensi desa-desa berbasis ketahanan pangan, agar sumber daya alam dapat dikelola secara bijak. Pengelolaannya bisa dilakukan dengan kolaborasi antara desa dan universitas.
Pada praktiknya, mahasiswa yang tengah menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) bisa dipandu untuk membantu masyarakat dalam hal digitalisasi. Mahasiswa bisa mengajarkan masyarakat untuk menjual hasil pangan secara online.
Dalam era krisis pangan global dan kecenderungan urbanisasi, Desa Brongkal menunjukkan bahwa solusi bukan hanya datang dari pemerintah pusat, melainkan dari inisiatif lokal yang didukung oleh kolaborasi akademik dan masyarakat.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
Editor: Herlianto. A
























