Malang, Tugumalang.id – Dalam beberapa tahun terakhir, istilah self-love atau mencintai diri sendiri menjadi tren populer di media sosial. Banyak orang memaknainya sebagai bentuk memanjakan diri—mulai dari perawatan kulit, staycation, hingga membeli hadiah untuk diri sendiri. Namun, jika self-love hanya dipahami sebatas aktivitas yang menyenangkan, kita justru kehilangan makna terdalam dari konsep ini.
Padahal, self-love sejatinya adalah proses panjang yang berkaitan erat dengan cara seseorang mengenali, menerima, dan merawat dirinya secara menyeluruh, termasuk sisi yang rentan dan tidak sempurna. Untuk memahami makna self-love yang sesungguhnya, pendekatan psikologi bisa memberi sudut pandang yang lebih dalam dan bermakna.
1. Carl Rogers dan Konsep Self-Worth: Mencintai Diri Tanpa Syarat

Carl Rogers, tokoh utama dalam psikologi humanistik, memperkenalkan konsep aktualisasi diri—yakni potensi bawaan manusia untuk berkembang ke arah yang positif. Namun, hal ini hanya akan tumbuh dalam lingkungan yang memberikan penerimaan tanpa syarat (unconditional positive regard).
Bila seseorang hanya mendapatkan kasih sayang ketika ia berprestasi atau mengikuti ekspektasi, maka ia akan cenderung memiliki konsep diri yang tidak stabil. Dalam konteks self-love, Rogers menekankan pentingnya self-worth atau nilai diri yang tidak bergantung pada pencapaian atau validasi eksternal.
“Self-love bukan berarti merasa lebih baik dari orang lain, melainkan menghargai keberadaan diri, termasuk bagian yang lemah dan belum sempurna.”
Memiliki self-worth yang sehat memungkinkan seseorang untuk menetapkan batasan yang jelas, menolak hubungan yang toksik, dan tetap setia pada nilai pribadinya meskipun berbeda dari harapan sosial.
Baca juga: 5 Buku yang Cocok untuk Anak Muda Pejuang Self Love
2. Kristin Neff dan Self-Compassion: Peluk Diri Saat Gagal
Kristin Neff, profesor psikologi dari University of Texas, mengenalkan konsep self-compassion sebagai bentuk cinta diri yang lebih dalam dari sekadar afirmasi positif. Ia menjabarkan tiga elemen utama self-compassion:
-
Self-kindness: bersikap lembut pada diri saat gagal
-
Common humanity: menyadari bahwa penderitaan adalah pengalaman manusiawi
-
Mindfulness: hadir dan sadar tanpa menghakimi perasaan sendiri
Dalam praktiknya, banyak orang menjadi musuh bagi dirinya sendiri. Ketika melakukan kesalahan, suara batin yang muncul sering kali keras dan menghukum.
Alih-alih berkata “Aku gagal dan bodoh”, seseorang yang menerapkan self-compassion akan berkata, “Aku sedang belajar, dan itu hal yang wajar.”
Self-compassion membantu membentuk self-love yang kokoh, tidak mudah runtuh oleh kritik maupun tekanan sosial.
3. Deci & Ryan: Self-Determination Theory dan Autentisitas Diri
Edward Deci dan Richard Ryan melalui Self-Determination Theory (SDT) menyatakan bahwa manusia memiliki tiga kebutuhan dasar untuk tumbuh secara sehat:
-
Autonomy: kebebasan menentukan arah hidup
-
Competence: merasa mampu dan percaya diri
-
Relatedness: memiliki hubungan sosial yang sehat
Self-love yang otentik bukan sekadar merasa nyaman, tetapi juga berani membuat keputusan sulit demi pertumbuhan pribadi. Misalnya, keluar dari pekerjaan atau hubungan yang tidak selaras dengan nilai diri, meskipun itu menyakitkan.
Banyak orang tampak mencintai diri sendiri, padahal hanya mengikuti arus demi diterima. SDT membantu membedakan mana cinta diri yang sejati dan mana yang hanya topeng sosial.
Kesimpulan: Self-Love adalah Perjalanan, Bukan Pelarian
Self-love bukan produk instan, bukan pula sesuatu yang bisa dibeli dalam bentuk skincare mahal atau liburan singkat. Ia adalah proses batin yang mendalam, penuh kesadaran, dan sering kali tidak nyaman.
Mencintai diri sendiri artinya siap menghadapi luka lama, mengubah pola pikir destruktif, serta berdamai dengan kenyataan diri yang tak selalu sempurna.
Jika self-love terasa berat dan menyakitkan, itu bukan berarti kamu gagal. Justru itulah tanda bahwa kamu sedang menjalani proses self-love yang paling otentik—menerima dan mencintai diri sendiri, bahkan ketika itu terasa sulit.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Maysa Ayu Raddina (magang)
redaktur: jatmiko
























