Malang, Tugumalang.id – Pernahkah Anda merasa hidup berjalan lancar, tetapi batin terasa kosong, hampa, dan kehilangan arah? Kondisi ini bukan sekadar stres biasa. Dalam dunia psikologi eksistensial, fenomena tersebut dikenal sebagai existential vacuum, istilah yang diperkenalkan Viktor Frankl, pelopor logoterapi.
Apa Itu Existential Vacuum dalam Psikologi Eksistensial?
Existential vacuum adalah kondisi di mana seseorang merasa hidupnya kehilangan makna dan tujuan, meski secara lahiriah tidak ada masalah besar. Viktor Frankl, seorang neurolog dan psikiater asal Austria, menjelaskan konsep ini dalam bukunya yang terkenal, Man’s Search for Meaning. Menurut Frankl, setiap manusia memiliki kebutuhan mendasar untuk menemukan makna hidup. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, muncul rasa bosan, kebingungan, bahkan kecemasan tanpa sebab yang jelas.
Penyebab Existential Vacuum: Kenapa Bisa Terjadi?
Berbagai faktor dapat memicu perasaan hampa tersebut. Michael F. Steger, profesor psikologi asal Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa kehilangan arah dan tujuan hidup membuat aktivitas sehari-hari terasa mekanis dan tidak bermakna.
Irvin Yalom, psikiater dan penulis Existential Psychotherapy, menambahkan bahwa hidup yang monoton tanpa tantangan bisa memperparah kondisi ini. Selain itu, teori Self-Determination yang dikembangkan Edward Deci dan Richard Ryan menegaskan pentingnya keterhubungan dengan nilai dan tujuan pribadi agar individu dapat berkembang secara psikologis.
Jika seseorang hanya hidup mengikuti ekspektasi orang lain atau terjebak dalam budaya konsumtif, seperti yang dikritik Tim Kasser dalam The High Price of Materialism, maka makna hidup semakin sulit ditemukan.
Baca juga: Yuk, Kenali 3 Jenis Stress yang Sering Kamu Alami!
Pentingnya Makna Hidup untuk Kesehatan Mental

Menurut Viktor Frankl, makna hidup bukanlah sesuatu yang datang dari luar, melainkan harus ditemukan atau diciptakan oleh diri sendiri. Orang yang menemukan makna dalam hidupnya akan lebih mampu menghadapi penderitaan dan tantangan.
Penelitian Michael F. Steger yang berjudul Making Meaning in Life (2012) menunjukkan bahwa individu dengan hidup yang bermakna cenderung memiliki kesehatan mental lebih baik, lebih tahan terhadap stres, dan lebih puas dengan kehidupannya.
Hal ini diperkuat oleh Carol Ryff dan Burton Singer, pakar psikologi yang fokus pada kesejahteraan psikologis. Mereka menyebutkan bahwa hubungan sosial yang bermakna dan kontribusi terhadap sesuatu yang lebih besar adalah kunci utama kebahagiaan dan ketahanan mental.
Baca juga: 10 Cara Menjaga Kesehatan Mental Menurut Psikologi, Lengkap dengan Pandangan Para Ahli
Hindari Hidup Terasa Hampa

Menemukan makna hidup adalah proses yang membutuhkan waktu dan refleksi. Berikut beberapa pendekatan yang bisa Anda terapkan, seperti dijelaskan dalam buku Manusia dalam Pandangan Psikologi karya Pasiska dan Takdir Alisyahbana (2020):
-
Refleksi diri secara rutin: Luangkan waktu untuk merenungkan apa yang benar-benar penting dalam hidup Anda.
-
Menetapkan tujuan sesuai nilai pribadi: Fokus pada hal-hal yang mencerminkan siapa diri Anda, bukan sekadar memenuhi harapan orang lain.
-
Menerima tantangan dan penderitaan: Menurut Frankl, makna juga bisa ditemukan dalam cara kita menghadapi kesulitan, bukan hanya dalam kesenangan.
-
Terhubung dengan orang lain: Hubungan sosial yang bermakna sering kali menjadi sumber makna dan kebahagiaan.
-
Berkontribusi untuk sesuatu yang lebih besar: Lewat pekerjaan, hobi, atau kegiatan sosial yang memberi rasa berguna dan berdampak bagi orang lain.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Maysa Ayu Raddina (Magang)
redaktur: jatmiko
























