Warga Terdampak Gempa Malang Keluhkan Bantuan yang Tak Merata

  • Whatsapp
Mistiani, warga Desa Majang Tengah, berbicara dengan tim Peduli gempa Malang Tugu Media Group. Foto: Rubianto

MALANG – Gempa magnitude 6,1 yang terjadi di Malang Selatan menimbulkan korban dan banyak rumah rusak. Akibatnya banyak warga mengungsi dan bergantung pada bantuan pemerintah.

Namun, ternyata sebagian warga mengaku belum tersentuh bantuan baik sembako sampai rekonstruksi rumah yang dijanjikan oleh pemerintah setempat.

Salah satunya seorang warga Dusun Warak, Desa Majang Tengah, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, yang mengaku belum mendapatkan bantuan sama sekali.

“Kalau untuk bantuan terus terang ini tidak merata, contohnya saya sendiri sebagai korban tidak menerima bantuan dari mana-mana,” terangnya saat dikonfirmasi tugumalang.id beberapa waktu lalu.

Perempuan yang atap rumahnya ambruk ini memiliki banyak spekulasi yang membuat dirinya tidak dilirik bantuan baik sembako maupun rekonstruksi rumah.

“Mungkin karena yang mendata, atau mungkin karena yang tidak terdampak ikut-ikutan antri (sembako). Mungkin juga bantuan masih liar atau belum terstruktur, mungkin juga kurang jeli mana yang berhak mana yang tidak,” ujarnya.

Ia juga mengatakan jika pendataan terhadap korban sendiri juga belum sempurna, sehingga masih ada warga terdampak tapi tidak terdata sebagai korban.

“Pendataan korban sejak awal memang ada, tapi belum semua yang terdata, sehingga yang tidak terdata ini harus mengusahakan dirinya sendiri untuk mendapat bantuan,” tukasnya.

Warga Desa Majang Tengah lain, Mistiani, mengaku juga tidak mendapat bantuan pakaian sama sekali. Padahal, seluruh pakaiannya sudah tertimbun puing-puing bangunan rumahnya yang rata dengan tanah.

“Kalau bantuan itu katanya tidak merata, saya yang rumahnya hancur aja kalau dicari gak ada langsung gak dikasih (bantuan). Soal baju aja saya gak dikasih meskipun katanya ada 5 kardus, padahal masalah baju itu semua terpendam di situ,” ucap ibu rumah tangga ini usai menerima bantuan sembako dari Tugu Media Peduli.

Baca Juga  Sosok Mayat Wanita Bekerja sebagai Pemandu Lagu Freelance

Di tempat terpisah, relawan bencana di Ampelgading, Muhammad Yasin Arif, mengatakan jika bantuan di Ampelgading juga tidak merata.

“Mungkin karena sulitnya akses itu yang membuat bantuan itu tidak merata. Karena kebanyakan butuh terpal gak hanya sembako, jadi itu mungkin yang belum tersentuh. Kalau sembako ada kemarin, tapi tidak tersentuh semuanya,” bebernya.

“Yang belum merata bantuannya itu seperti Desa Tamanasri di beberapa RT belum tersentuh,” imbuhnya.

Ia menilai jika bantuan ini tidak merata karena rumah-rumah warga yang terdampak lokasinya terpencar dan tidak menjadi satu blok yang mudah ditandai.

“Bantuan itu masih terkonsentrasi ke daerah yang dampaknya menyeluruh, Kalau di Tamanasri ini banyak yang terdampak tapi secara geografis letaknya terpencar. Jadi, bantuan itu melihat kok kanan kiri baik-baik saja, sehingga bantuan itu ke lokasi yang secara geografis dampaknya ngeblok atau satu RT semua (roboh),” jelasnya.

“Kalau di sini dijumlah banyak, cuma letaknya mencar-mencar,” sambungnya.

Yasin mengungkapkan jika saat ini yang paling dikeluhkan oleh warga adalah terbatasnya tenda darurat dan terpal.

“Karena rumah-rumah yang rusak itu bingung penghuninya mau ke mana. Sehingga warga tidur di emperan rumahnya dan tetangganya. Ada juga yang tinggal di kandang kambing bersama kambing-kambingnya,” ungkapnya.

“Kesehatannya pasti terdampak, bayangkan setiap hari tidur bersama kambing,” lanjutnya.

Terakhir, pria berkacamata ini mengatakan agar para donatur lebih membuka mata saat akan menyalurkan bantuan. Pasalnya menurutnya banyak warga yang terdampak tapi tidak tersentuh bantuan hanya karena wilayahnya tidak signifikan terdampak gempa, padahal rumah warga tersebut tidak layak huni lagi.

“Harapannya kalau donatur mau membantu ayo survei ke sinilah, selain sembako, yang dibutuhkan itu rekonstruksi rumah. Karena Itu butuh biaya banyak, dan pemerintah hanya menjamin saja, itupun masih simpang siur beritanya dan hanya menjamin yang meninggal atau rumahnya rusak parah,” jelasnya.

Baca Juga  Masa Pandemi Covid-19, Perumda Tugu Tirta Layani Masyarakat dengan Integrasi Sistem Informasi

“Padahal yang rusaknya sedang itu banyak juga yang tidak layak huni,” tutupnya.

Sementara itu, Bupati Malang, Muhammad Sanusi, saat dikonfirmasi terkait banyak warga yang tidak tersentuh bantuan, pria asli Gondanglegi ini menampik kabar tersebut.

“Lho endak (tidak), sudah tersentuh semua dan tidak ada yang terisolir,” tegasnya.

Alumni Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 1 Ganjaran ini yakin bahwa Camat adalah kepanjangan tangan dari pemerintah yang sudah mendata setiap warganya. “Camat itu sama saja sebagai wakil pemerintah,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *