Malang, Tugumalang.id – Meski hingga kini belum ditemukan di Indonesia, masyarakat tetap diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi ancaman sebaran virus Nipah. Virus ini termasuk penyakit infeksi emerging dengan tingkat fatalitas tinggi dan dampak serius bagi kesehatan manusia, terutama karena kemampuannya menyebabkan peradangan otak atau ensefalitis.
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB), dr. Milanitalia Gadys Rosandy, Sp.PD, menegaskan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dan tenaga kesehatan dalam menghadapi potensi ancaman virus tersebut.
Virus Nipah Serang Otak dan Paru-Paru
Ia menjelaskan bahwa virus Nipah tergolong sangat berbahaya karena dapat menyerang organ-organ vital tubuh. Virus ini mampu menembus sistem saraf pusat dan menyebabkan peradangan otak yang bersifat progresif.
“Virus ini dapat berkembang sangat cepat, mulai dari demam tinggi, penurunan kesadaran, hingga pasien mengalami koma,” jelasnya, Rabu (4/2/2026).
Baca juga: Bukan Karena Virus, Belasan Domba Mati di Sumbermanjing Wetan Akibat Keracunan
Selain sistem saraf, virus Nipah juga dapat menimbulkan peradangan hebat pada paru-paru. Kondisi ini berpotensi menyebabkan gagal napas akut dan meningkatkan risiko kematian. Menurutnya, kombinasi gangguan pada otak dan paru-paru inilah yang membuat tingkat kematian akibat virus Nipah relatif tinggi dibandingkan infeksi virus lainnya.
Gejala Awal Sulit Dibedakan
Dalam praktik klinis sehari-hari, dr. Milanitalia mengungkapkan bahwa tantangan utama dalam mendeteksi virus Nipah terletak pada kemiripan gejala awal dengan penyakit infeksi lain. Oleh karena itu, dokter dituntut memiliki kewaspadaan tinggi terhadap tanda-tanda klinis tertentu.
“Gejala yang perlu menjadi alarm antara lain demam tinggi yang tidak membaik, sesak napas, penurunan kesadaran, serta kejang. Perubahan kondisi yang cepat harus segera dicurigai sebagai infeksi yang lebih serius,” paparnya.
Ia menambahkan bahwa virus Nipah dapat menyerang berbagai kelompok usia. Namun, risiko lebih tinggi dialami kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, serta individu dengan imunitas rendah atau kondisi immunocompromised. Pada kelompok ini, dampak klinis yang muncul cenderung lebih berat dan berkembang cepat.
Belum Ada Vaksin, Penanganan Bersifat Suportif
Terkait penanganan pasien, hingga saat ini belum tersedia vaksin maupun terapi khusus untuk virus Nipah. Penanganan medis masih bersifat suportif dan simptomatik, disesuaikan dengan kondisi pasien.
“Pasien dengan demam diberikan obat penurun panas, pasien dengan sesak napas diberikan oksigen. Jika terdapat kecurigaan virus Nipah, pasien harus dirawat di ruang isolasi dan dipisahkan dari pasien lain,” jelasnya.
Selain itu, tenaga medis diwajibkan menerapkan protokol pengendalian infeksi secara ketat, mulai dari penggunaan alat pelindung diri, kebiasaan mencuci tangan yang benar, hingga penerapan standar isolasi sesuai prosedur. Menurutnya, kesiapan tenaga kesehatan menjadi faktor kunci dalam mencegah penularan di fasilitas pelayanan kesehatan.
Menanggapi wacana karantina dan pembatasan mobilitas, dr. Milanitalia menekankan pentingnya penguatan skrining, khususnya bagi individu dengan risiko tinggi. Ia menilai pengalaman pandemi COVID-19 memberikan pelajaran berharga mengenai pentingnya deteksi dini.
“Skrining di bandara dan terminal harus dilakukan secara ketat agar virus yang belum ada di Indonesia tidak masuk melalui perjalanan internasional,” tegasnya.
Dari sisi fasilitas kesehatan, ia menilai rumah sakit di Kota Malang dan wilayah Jawa Timur secara umum telah memiliki ruang isolasi khusus untuk menangani penyakit infeksi emerging. Meski demikian, ia berharap kesiapan tersebut tidak sampai diuji oleh terjadinya wabah besar.
“Jangan sampai kita kembali menghadapi situasi pandemi seperti COVID-19,” ujarnya.
Lebih lanjut, peningkatan kewaspadaan juga memerlukan peran institusi pendidikan kedokteran dalam memperkuat edukasi publik. Upaya ini penting agar masyarakat memiliki pemahaman yang benar terkait virus Nipah dan tidak mudah terpengaruh informasi yang menyesatkan.
Ia mengimbau masyarakat untuk tetap waspada tanpa kepanikan berlebihan dalam menyikapi isu virus Nipah. “Waspada bukan berarti takut berlebihan. Masyarakat cukup menerapkan protokol kesehatan, menggunakan masker di area berisiko, rajin mencuci tangan, dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala,” pungkasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
redaktur: jatmiko





























