Malang, Tugumalang.id – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, relasi antara manusia dan teknologi kian sulit dipisahkan. Namun, muncul pertanyaan mendasar: apakah manusia benar-benar mengendalikan teknologi, atau justru hanya menjadi penonton dari kemajuannya sendiri? Kegelisahan tersebut menjadi benang merah dalam kuliah tamu internasional bertajuk Digital Technology and Evolving Challenges yang digelar Fakultas Teknologi Industri (FTI), Institut Teknologi Nasional Malang, Selasa (03/02/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Amphi Mesin Lantai 2, Kampus 2 ITN Malang ini menghadirkan diskusi akademis yang dinamis. Suasana kuliah berubah menjadi ruang dialog interaktif saat Dr. Chinthake Wijesooriya, pakar dari RMIT University Vietnam, mulai membedah cara kerja dan tantangan kecerdasan buatan di masa depan.
AI Bukan Sekadar Otomatisasi
Dalam pemaparannya, Chinthake menegaskan bahwa artificial intelligence (AI) tidak sekadar dipahami sebagai alat otomatisasi. Ia menguraikan spektrum AI, mulai dari Narrow AI yang telah akrab digunakan dalam kehidupan sehari-hari, hingga konsep Strong AI yang menargetkan kecerdasan setara manusia.
Ia juga menjelaskan bahwa saat ini dunia telah berada pada fase Limited Memory, di mana mesin mampu belajar dari data masa lalu. Kondisi inilah yang membuat berbagai aplikasi digital mampu memprediksi kebutuhan pengguna. Namun, kekuatan AI sesungguhnya, menurut Chinthake, terletak pada integrasi Machine Learning dan Deep Learning yang meniru cara kerja jaringan saraf manusia.
Baca juga: ITN Malang Gandeng SMK Sore Tulungagung Hadapi Tantangan Otomasi Industri
Dorongan Kolaborasi Global dan Mentalitas Industri
Rektor ITN Malang, Awan Uji Krismanto, ST., MT., Ph.D., menilai kuliah tamu internasional ini sebagai suntikan pengetahuan yang sangat penting bagi sivitas akademika. Ia menekankan pentingnya kesiapan lulusan menghadapi ekosistem industri yang semakin terdigitalisasi.
“Kedepan, kolaborasi riset dan studi lanjut dengan RMIT, serta mitra internasional lainnya, akan terus kami dorong. Kami ingin mahasiswa tidak hanya kuat secara teori, tetapi juga memiliki mentalitas global,” ungkapnya.
Pandangan serupa disampaikan Dekan FTI, Dr. Eng. I Komang Somawirata, ST., MT. Ia mengapresiasi antusiasme mahasiswa yang tetap aktif mengikuti materi meskipun disampaikan dalam bahasa Inggris, sekaligus membuka peluang kerja sama lanjutan di bidang riset dan publikasi.
Data, Etika, dan Tantangan Transformasi Digital
Selain AI, Chinthake juga menyoroti peran strategis Data Analytics dalam transformasi digital. Data mentah diibaratkan sebagai lumpur yang, setelah dibersihkan dan divisualisasikan dengan tepat, dapat menjadi sumber nilai tinggi dalam pengambilan keputusan bisnis maupun teknologi.
Baca juga: Kampus 2 ITN Malang Jadi “Laboratorium Raksasa” Pemetaan SMKN 1 Singosari Skala Besar
Di akhir sesi, Chinthake menyampaikan pesan reflektif agar mahasiswa tidak berhenti pada pemahaman teknis semata. Ia mendorong peserta untuk berpikir kritis, memahami etika teknologi, dan berperan aktif sebagai pencipta solusi, bukan sekadar pengguna.
Kuliah tamu ini kemudian ditutup dengan pandangan ke depan mengenai perkembangan Internet of Things (IoT), Blockchain, hingga Gamifikasi. Pesan yang mengemuka, transformasi digital bukan hanya soal mengganti perangkat atau sistem, tetapi juga tentang perubahan pola pikir secara menyeluruh. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Artikel ini disusun melalui kerja sama publikasi dengan ITN Malang
redaktur: jatmiko





























