MALANG, Tugumalang.id – Setidaknya dua orang talent mengungkapkan pengalaman mereka mengikuti syuting konten sumpah pocong yang berlokasi di sebuah pondok pesantren yang ada di wilayah Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.
Pengakuan pertama diunggah pada Senin (2/2/2026) oleh SN, warga Kabupaten Banyuwangi yang menetap di Kota Batu. Ia mengaku mendapatkan tawaran pekerjaan di sebuah pondok pesantren.
Awalnya ia mengira tawaran tersebut adalah sesi foto untuk konten makeup artist (MUA) yang sedikit berbeda dari biasanya karena ia diminta untuk akting. Tanpa ambil pusing, ia pun menerima tawaran tersebut.
Baca Juga: Atasi Trauma dan Stigma, Aplikasi “Miracle” Bantu Remaja Penyintas Pelecehan Seksual Pulih Mandiri
“Aku kira kayak photoshoot MUA tapi ada aktingnya. Aku kira take shoot (syuting) sekalian sama akting, jadi aku nggak nanya,” tulis SN dalam unggahannya di akun Instagram.
Sesampainya di lokasi, ia menemukan beberapa kejanggalan. Salah satunya adalah tak ada perempuan di lokasi syuting. Ia pun merasa lokasinya tidak wajar karena merupakan tempat penyembelihan hewan.
Kejanggalan berikutnya, ia mendapat banyak pertanyaan dari asisten seorang gus atau pengasuh pondok pesantren). SN kemudian disuguhi susu coklat dan merasa aneh setelah meminum suguhan tersebut.
“Yang awalnya aku nggak percaya sihir, seketika aku percaya,” ungkapnya.
Ia kembali mengungkapkan beberapa hal yang menurutnya tidak masuk akal, seperti kertas yang kembali utuh setelah dibakar, menebak tanggal lahir dengan tepat, dan meramal SN akan mendapat kesialan di masa depan.
Tak sampai di situ, asisten gus meminta SN untuk menghadap langsung pada gus dan menanyakan apa yang diinginkan oleh gus itu. Saat menghadap gus yang tidak disebutkan namanya tersebut, SN mendapat tawaran dzikir untuk menangkal ramalan yang buruk.
Baca Juga: Dugaan Pelecehan Seksual di Persada Hospital Malang, 3 Korban Baru Muncul
Namun, untuk mendapatkan dzikir penangkal, SN harus melakukan apa yang diperintahkan oleh gus. Salah satunya adalah memijit kaki gus tersebut.
Meski menuruti permintaan gus, SN memutar otak agar bisa kabur dari sana. Ia pun berpura-pura ngantuk dan tertidur.
“Beliau sepertinya merasa di-PHP (diberi harapan palsu) karena aku nggak melayani beliau,” kata SN.
Saat berpura-pura tidur, ia mendengar si gus kesal. SN kemudian dibangunkan oleh seorang asisten dan ia berhasil kabur dari lokasi.
Hal serupa juga diungkapkan seorang talent berinisial R yang pernah mendapatkan tawaran pekerjaan di sebuah tempat yang ada di Desa Bunutwetan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Penawaran pekerjaan yang ia terima kurang rinci, namun ia tidak menaruh curiga.
Hingga akhirnya ia merasa ada banyak hal yang janggal. Salah satunya adalah jalan cerita yang berubah-ubah dan ia pun merasa ceritanya tidak masuk akal.
Saat istirahat, ia mendapat beberapa pertanyaan dari asisten gus. Di antaranya sudah punya pacar atau belum, gajinya berapa, mau atau tidak jadi partner si gus.
R mengaku dirinya diiming-imingi uang agar mau bekerja untuk gus. Namun, R dengan tegas menjawab tidak bisa memutuskan di hari itu juga.
Karena merasa tidak nyaman, ia mencari cara agar bisa kabur dari lokasi tersebut. Menurutnya syuting memakan waktu terlalu lama dan ia menolak untuk melakukan sumpah pocong yang merupakan bagian dari konten.
“Aku (berperan) sebagai sekretaris diminta sumpah pocong karena tidak mau mengakui kesalahan. Aku spontan ganti cerita. Aku bilang kalau aku sekretaris yang jahat. Aku mengakui kesalahan, jadi aku nggak usah sumpah pocong,” tulis R dalam akun Instagram-nya, Selasa (3/2/2026).
R kemudian mengunggah video pada Rabu (4/2/2026) untuk menjelaskan bahwa ia tidak sampai mendapatkan pelecehan seksual dari gus yang dimaksud. Akan tetapi, gus tersebut sempat menawari bantuan pada R yang kesulitan berbaring karena dalam masa pemulihan usai mengalami patah tulang.
Dalam unggahannya R memberikan beberapa petunjuk terkait gus ini. Di antaranya memiliki dua juta subscriber di YouTube dan jutaan followers di Tiktok.
Ia juga mengaku mendapatkan banyak pesan dari perempuan-perempuan yang mengalami kejadian serupa. Mereka tidak berani berbicara atau melapor karena tidak memiliki bukti yang kuat.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
Editor: Herlianto. A





























