Malang, Tugumalang.id – Pernah nggak, di usia 20-an, kamu merasa hidup seperti dikejar waktu tapi nggak tahu harus lari ke mana? Teman-teman sudah menikah, punya karier mapan, atau lanjut kuliah, sementara kamu masih merasa stuck, overthinking tiap malam sambil scroll media sosial. Fenomena ini sering disebut Quarter Life Crisis — masa ketika anak muda merasa bingung, cemas, dan galau soal arah hidup.
Tapi, apakah ini benar-benar krisis? Atau sekadar proses mencari jati diri?
Erik Erikson dan Krisis Identitas: Mencari Diri atau Kehilangan Arah?
Psikolog perkembangan Erik Erikson menjelaskan bahwa setiap manusia melewati serangkaian tahap psikososial. Di usia 20-an, kita berada pada fase Identity vs Role Confusion — masa pencarian jati diri.
Di tahap ini, kita mulai mempertanyakan:
Mau kerja apa?
Nilai hidup yang gue pegang apa?
Pengen jadi orang seperti apa?
Sayangnya, jawabannya sering tak langsung ditemukan. Ekspektasi orang tua, tekanan sosial, dan perbandingan diri dengan orang lain kerap membuat kita makin bingung.
Kalau identitas belum terbentuk jelas, kita bisa terjebak dalam kebingungan peran. Ibarat memakai banyak topeng tanpa tahu mana wajah asli. Inilah yang memicu Quarter Life Crisis—perasaan kehilangan arah di tengah tuntutan menjadi “dewasa”.

Baca juga: Mengapa Kita Sering Membandingkan Diri di Media Sosial? Ini Penjelasan Psikologinya
Viktor Frankl dan Logotherapy: Menemukan Makna Hidup
Psikolog Viktor Frankl, penyintas kamp konsentrasi Nazi, menemukan bahwa manusia mampu bertahan bahkan di kondisi paling buruk jika memiliki makna hidup.
Menurutnya, yang membuat hidup terasa berat bukan hanya masalah, tapi ketiadaan alasan untuk hidup. Ia menyebutnya existential vacuum—kehampaan batin ketika kita tidak tahu untuk apa bangun pagi dan menjalani hari.
Makna hidup tidak bisa diberikan orang lain; kita sendiri yang menemukannya. Bisa dari hal-hal yang kita cintai, nilai yang kita pegang, atau bahkan dari penderitaan yang pernah kita alami. Bagi Frankl, rasa sakit pun bisa menjadi sumber makna jika kita melihatnya sebagai bagian dari proses, bukan akhir segalanya.
Baca juga: Mengapa Hidup Terasa Hampa Meski Semua Terlihat Lancar? Ini Penjelasan Psikologi Eksistensial

Gak Apa-Apa Kalau Masih Bingung
Quarter Life Crisis adalah fase yang wajar dan dialami banyak orang. Rasa bingung, lelah, dan merasa “tertinggal” bukan tanda kegagalan, tapi tanda bahwa kita sedang bertumbuh.
Teori Erikson, Frankl, dan Festinger mengajarkan bahwa proses mencari jati diri justru membentuk kita menjadi pribadi yang lebih matang. Jadi, tidak perlu terburu-buru menjadi “seseorang”. Nikmati prosesnya, temukan ritme hidupmu, dan percaya bahwa perlahan semuanya akan lebih jelas.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Maysa Ayu Raddina (magang)
redaktur: jatmiko





























