Malang, Tugumalang.id-Pernah nggak sih, kamu baru saja menikmati momen bahagia-nonton film favorit, ngobrol bareng teman, atau menyelesaikan tugas penting-tapi begitu buka Instagram atau TikTok, tiba-tiba ngerasa kurang? Kayak hidup orang lain jauh lebih keren, lebih sukses, lebih ‘wah’ daripada kita.
Fenomena ini nggak datang begitu saja. Secara psikologis, otak kita memang punya mekanisme alami untuk merasa “cukup.” Tapi di era media sosial, standar ‘cukup’ itu sering kali bukan berasal dari dalam diri, melainkan dari apa yang kita lihat di layar. Dan yang kita lihat? Biasanya cuma potongan-potongan terbaik dari hidup orang lain.
Media sosial, yang awalnya jadi tempat terhubung dan hiburan, malah berubah jadi cermin pembanding. Kita buka HP buat santai, tapi malah pulang dengan rasa hampa. Kenapa bisa begitu?
Social Comparison Theory: Saat Otak Selalu Cari Cermin

Menurut Leon Festinger, seorang psikolog sosial, manusia punya kecenderungan alami untuk mengevaluasi diri dengan cara membandingkan diri dengan orang lain. Ini dikenal sebagai Social Comparison Theory.
Baca juga: Brain Rot: Ketika Otak Lelah karena Media Sosial
Sebenarnya, membandingkan diri itu bisa positif—kalau tujuannya untuk berkembang. Tapi di media sosial, kita nggak cuma membandingkan diri dengan teman sekolah atau rekan kerja, tapi juga dengan selebgram, influencer, dan orang-orang yang bahkan nggak kita kenal. Mereka tampil dengan gaya hidup sempurna, wajah glowing, prestasi segudang, dan liburan mewah. Akibatnya, kita mulai merasa tertinggal, tidak cukup, bahkan gagal.
Self-Esteem yang Tergantung Like dan Views

Harga diri (self-esteem) seharusnya datang dari dalam diri—dari rasa bahwa kita berharga hanya karena kita ada. Tapi menurut Jennifer Crocker dan Connie T. Wolfe, saat ini kita cenderung mengalami yang disebut contingent self-esteem, yaitu harga diri yang bergantung pada faktor eksternal seperti jumlah likes, views, atau komentar.
Masalahnya, validasi digital ini sifatnya sangat rapuh. Satu komentar negatif bisa menghancurkan kepercayaan diri. Satu unggahan yang sepi respons bisa bikin kita merasa nggak dianggap. Padahal, angka-angka itu sama sekali bukan penentu nilai hidup kita. Ada orang yang luar biasa inspiratif tapi nggak viral. Sebaliknya, ada juga yang ‘biasa saja’ tapi jago membangun citra menarik di media sosial.
Citra Diri: Siapa Kita Saat Kamera Mati?
Donald Winnicott, seorang psikoanalis, memperkenalkan konsep false self, yaitu versi diri yang dibentuk untuk memenuhi harapan orang lain. Di media sosial, kita cenderung menampilkan versi ideal diri: selalu bahagia, produktif, cantik, dan sukses.
Tapi kalau setiap unggahan hanya tentang pencitraan, kita bisa kehilangan jati diri. Lama-lama kita takut terlihat “biasa,” takut jujur, bahkan takut mengenal diri sendiri lebih dalam. Kita sibuk memoles citra, sampai lupa siapa sebenarnya kita ketika kamera mati.
Jadi, Media Sosial Itu Jahat? Belum Tentu

Media sosial bukan musuh. Ia cuma alat. Bisa jadi sumber inspirasi, hiburan, bahkan tempat membangun komunitas positif. Tapi ia juga bisa menjadi jebakan, kalau kita kehilangan kesadaran saat menggunakannya.
Baca juga: Ramai jadi Perbincangan di Media Sosial, Berikut Penjelasan Istilah Tone Deaf
Yang penting adalah: jangan biarkan kehidupan digital mengaburkan realita personal. Tetap terhubung dengan diri sendiri. Sadari kapan harus berhenti scrolling dan mulai mendengarkan hati.
Kesimpulan: Keseimbangan Adalah Kunci
Membandingkan diri di media sosial adalah hal yang wajar, tapi perlu disadari dampaknya. Dengan memahami proses psikologis di baliknya, kita bisa lebih bijak menggunakan media sosial-bukan sebagai tolok ukur nilai diri, tapi sebagai sarana koneksi, ekspresi, dan inspirasi.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Maysa Ayu Raddina (Magang)
redaktur: jatmiko





























