Jumat, September 4, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Ruang Cendekia

Ekspedisi Menulis Penatani.id: Upaya Penyadaran Kelestarian Alam dan Lingkungan

Redaksi by Redaksi
Agustus 25, 2021 4:14 pm
in Ruang Cendekia
Ekspedisi - Ekspedisi Menulis Penatani.id: Upaya Penyadaran Kelestarian Alam dan Lingkungan

Melalui kegiatan kolaborasi dari Yayasan Saka Warga dan PenaBulu yang didukung Ford Foundation. dok/Khotaman/Yayasan Sakawarga

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Falahi Mubarok*

Silvia begitu semangat mengeksplorasi potensi yang ada di kampunya. Berbekal kamera smart phone dia begitu lihai merekam setiap apa yang dia jumpa, petani yang sedang bercocok tanam misalnya, atau juga tentang keindahan alam yang ada di kampung halamannya.

READ ALSO

Pendidikan Karakter sebagai Penyelamat Fenomena Sound Horeg di Tengah Arus Budaya Populer

Siapa yang Berhak Disebut NU?

Layaknya jurnalis profesional, perempuan asal Desa Padan Aranghulu, Kecamatan Kota Agung, Kabupaten Lahat, Sumatra Selatan, juga tidak malu bertanya kepada petani yang dia temui. Usai melakukan peliputan di lapangan, data itu kemudian dia olah sebelum pada akhirnya diunggah di platform Penatani.id.

“menyenangkan sekali, bagi saya ini merupakan pengalaman pertama kali. Selain bisa berbagi cerita potensi kampung, di platform Penatani.id saya juga jadi tahu rupanya kawan-kawan di daerah Mulak Ulu sudah mulai menanam tanaman pendamping kopi, seperti lada,” kesan perempuan yang didapuk menjadi duta literasi dalam kegiatan Ekspedisi Menulis Penatani.id ini.

Dari artikel yang dibaca itu, perempuan yang juga petani muda ini mengaku tertarik untuk menyemai tanaman lada (Piper nigrum). Selain itu, melalui platform tersebut Silvia juga merasa senang karena bisa mendapatkan nomer kontak langsung dengan narasumber atau petani lain, sehingga dia bisa saling berbagi pengalaman.

Kendati demikian, dia berharap platform Penatani.id jaringannya bisa lebih diperluas, tidak hanya dinikmati di daerahnya saja. Hal senada disampaikan Memosoando, pria yang juga peserta Ekspedisi Menulis Penatani.id lainnya mengaku bangga dilibatkan dalam kegiatan ini, baginya melalui kegiatan kolaborasi dari Yayasan Saka Warga dan PenaBulu Foundation dia bisa memberikan dan mendapatkan informasi tentang dunia pertanian, wisata.

“dampak pribadi yang saya rasakan adalah bisa membuat pupuk organic secara mandiri, dengan cara melihat tutorial yang ada di Penatani.id,” kata pria dari Desa Mengenang, Mulak Ulu, Kabupaten Lahat ini.

Menggali Potensi

Melalui kegiatan kolaborasi dari Yayasan Saka Warga dan PenaBulu yang didukung Ford Foundation. dok/Khotaman/Yayasan Sakawarga

Pengalaman Silvia dan Memosoando hanya sebagian kisah dari kegiatan Ekspedisi Menulis Penatani.id kolaborasi dari Yayasan Saka Warga dan PenaBulu Foundation. Pengalama serupa juga terjadi pada sebagian besar dari 200 peserta yang diambil dari Desa-Desa di Kecamatan Mulak Ulu dan Kecamatan Kota Agung lain yang dilakukan secara bertahap. Pada umumnya, peserta menemukan pengalaman pertama menggali potensi tentang desanya.

Khotaman, koordinator Ekspedisi Menulis mengatakan, pelibatan warga setempat untuk mengikuti kegiatan ini agar warga menjadi tahu cerita-cerita menarik dari desanya sendiri. Peserta bisa menggunakan pengetahuan dan kemampuan yang dipelajari selama pelatihan, mereka juga bisa menyebarluaskan cerita-cerita menarik itu kepada publik lebih luas.

Ekspedisi Menulis biasanya diadakan selama dua hari disetiap Desa. Hari pertama untuk belajar teori dasar junalistik, foto dan videografi. Misalnya membedakan fakta dan fiksi, menentukan nilai berita, menggali informasi, sampai dengan merangkai berita. Begitu juga dengan materi foto dan videografi, ini menjadi penting karena pengguna Internet dan pembaca media di Indonesia semakin menyukai visual, terutama anak-anak muda.

Berbekal pengetahuan dan keterampilan baru, pada hari kedua para peserta kemudian ditugaskan untuk mencari cerita-cerita yang menarik di kampungnya, misalnya seperti kopi yang selama ini mereka kelola secara konvensional, potensi budaya, tradisi, kearifan lokal dan ekowisata.

“rata-rata peserta yang kami jaring dari anak muda, alasannya karena mereka yang paling berpotensi sebagai agen perubahan. Anak-anak muda masih bisa berfikir buat memajukan daerahnya, masih bisa berfikir terbuka. Anak muda masih mempunyai kesempatan untuk berkembang,” ujarnya.

Saat memasuki materi jurnalisme para peserta terlihat semangat dan kooperatif. Karena mereka sudah tahu materi apa yang akan diangkat, yang tentunya itu berasal dari daerahnya sendiri. Bukan tentang berita-berita yang ada di media arus utama. Pada dasarnya, para peserta rata-rata sudah suka menulis. Sehingga kadang juga menemukan potensi-potensi baru dari peserta.

“mereka semangatnya terpacu disitu. Jadi selama ini memang menginginkan wadah, dan kita hanya bisa memfasilitasi wadah tersebut,” katanya. Lanjut dia, bahkan ada peserta yang memang sudah menunggu kegiatan ini. Pihaknya mencari peserta yang mau bekerjasama dan mau mengembangkan diri supaya skilnya bertambah.

Secara personal Khotaman juga merasa terkesan, bahwa Ekspedisi Menulis ini bisa dijadikan ajang belajar. Bagi dia, banyak juga pelajaran yang penting, seperti manajemen kegiatan atau mengelola kegiatan, dan interaksi yang selama ini hanya sebatas dari instruktur dan peserta kini berkembang jauh. Seperti mempunyai pewarta baru. Selain itu bisa sama-sama saling mengembangkan diri baik itu instruktur ataupun peserta.

Selama Ekspedisi Menulis Khotaman juga mengalami berbagai kendala, pertama karena berada di daerah terpencil sehingga untuk membangun kepercayaan dari masyarkat agak susah. Awal-awal dirinya seolah-olah dianggap orang yang mau menawarkan jasa, atau juga dikira akan melakukan penipuan. Tetapi karena pendekatan ke masyarakat itu menjadi penting, membangun kepercayaan kepada mereka. Sehingga akhirnya masyarakat bisa terbuka dan menerima kedatangannya.

Selain itu, kondisi jalan yang rusak juga menjadi kendala. Sehingga dia mengaku terjatuh hingga dua kali saat naik motor. “karena jauh dari jalan raya, jadi luput dari perhatian pemerintah. Apalagi saat hujan, lubangnya tambah banyak. Kadang-kadang berkabut juga, sehingga membahayakan,” kisahnya.

Merekam Kondisi Petani

Ekspedisi Menulis ini juga merekam kondisi petani, sebab profesi petani ini yang cukup mewakili dua kecamatan tersebut, jika disensus hampir 80 persen mata pencaharian warga setempat merupakan petani. Untuk peserta Ekspedisi Menulis sendiri cukup bervariasi, seperti guru honorer, staf kantor Kecamatan.

Meski berprofesi lain, para peserta ini juga bercocok tanam, karena mereka mempunyai lahan yang harus dikelola secara turun-temurun, merupakan bagian dari identitas budaya yang ada. Pada dasarnya kegiatan ekspedisi Menulis ini dilakukan di daerah perbatasan langsung dengan hutan lindung. Sehingga salah satu misinya yaitu untuk penyadaran terhadap kelestarian lingkungan. Jadi, tema-tema yang diambil juga tentang pengolahan pembuatan kerajinan berbahan baku sampah, juga budaya yang mendukung kelestarian lingkungan seperti halnya hutan adat dan hutan larangan.

Melalui kegiatan kolaborasi dari Yayasan Saka Warga dan PenaBulu yang didukung Ford Foundation. dok/Khotaman/Yayasan Sakawarga

“kan ada itu secara adat dilarang untuk ditebang, itu yang mencoba kita angkat. Karena disini yang saya tahu ternyata banyak juga yang masih belum tahu terkait dengan hal itu,” kata pria penghobi petualangan ini.

Meiardhy Mujianto, (42), Koordinator Pengembangan Kemitraan Area Model PenaBulu Foundation menjelaskan, kolaborasi kegiatan tersebut tidak hanya tentang jurnalisme warga saja. Melainkan ada juga pendampingan masyarakat terkait dengan Sustainable Natural Resource Management. Khususnya kepada petani yang sudah mempunyai izin perhutanan social, untuk bisa mengelola sebuah komoditas yang sudah ditanam, seperti kopi misalnya. Mengambil strategi bekerjasama dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES).

Bahwa nanti setelah BUMDES bisa menjalin kemitraan yang baik dengan kelompok-kelompok perhutanan sosial, peluang akan semakin terbuka, atau pembangunan dalam skala yang lebih luas, misalnya ditingkat Kabupaten.

Karena faktanya, lanjutnya, selama ini petani yang ada disekitar kawasan hutan itu kesulitan untuk mengakses aksistensi teknis baik lewat Dana Desa (DD) maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Dengan kerjasama antara kelompok-kelompok perhutanan sosial dengan BUMDES bisa menjadi sebuah celah alternatif agar. Pertama, kegiatan-kegiatan di dalam hutan kawasan hutan bisa masuk dan terintegrasi ke pembangunan Desa. Kedua, ada peluang DD meskipun tidak langsung melalui BUMDES, disini bisa dikucurkan melalui skema berkelanjutan kepada petani-petani yang ada di dalam kawasan hutan.

“jadi kita ini sebenarnya ingin mengintegrasikan antara isu-isu yang ada di perhutanan sosial, minimal dengan isu pembangunan desa,” kata Anto, panggilan akrabnya.

Anto beralasan petani kopi menjadi focus pendampingan sebab kopi merupakan gantungan eksisting masyarakat Suku Basemah dan Suku Semedo, ini merupakan suku-suku asli yang ada di Daerah Pagar Alam, Kabupaten Lahat dan Kabupaten Muara Enim.

Dimana kopi sudah bukan lagi hanya sebuah komoditas. Tapi Bertani kopi sudah dilakukan puluhan tahun, mungkin juga sudah menjadi bagian dari culture mereka. Harapanya, dengan kegiatan-kegiatan seperti ini bisa menemukan praktik-praktik baik yang sudah ada, termasuk dengan mengelola kopi menjadi lebih baik.

Selain pendampingan, pihaknya juga memfasilitasi mesin roasting kopi. Setelah dihitung-hitung, kopi yang berkualitas dijual dengan harga yang terjangkau itu bisa. Tidak harus melalui café, namun bisa juga menjual kopi dengan bentuk bubuk.

“Kita bahkan cita-citanya jualan itu kopi curah atau kiloan. Kalau orang mau beli bikin sendiri di rumah ya silahkan. Kalau mau beli terus untuk di packing sendiri ya silahkan,” imbuhnya. Selain pasar ekspor, pihaknya juga ingin meningkatkan level kualitas konsumsi kopi di masyarakat, yang itu merupakan sudah bagian dari kultur setempat.

Tags: alamKele

Related Posts

Pendidikan Karakter sebagai Penyelamat Fenomena Sound Horeg di Tengah Arus Budaya Populer
Ruang Cendekia

Pendidikan Karakter sebagai Penyelamat Fenomena Sound Horeg di Tengah Arus Budaya Populer

Jumat, 4 Sep 2026
Siapa yang Berhak Disebut NU?
Ruang Cendekia

Siapa yang Berhak Disebut NU?

Kamis, 3 Sep 2026
Karya Surya Burhanuddin, 50 Tahun Perjalanan Kasih: Surya & Sjenny (1976-2026). Foto/dok
Ruang Cendekia

Makna Hidup dan Kasih Sayang dalam Puisi

Kamis, 3 Sep 2026
Kuliah S2 Penting Apa Tidak? Sebuah Perdebatan
Ruang Cendekia

Kuliah S2 Penting Apa Tidak? Sebuah Perdebatan

Rabu, 2 Sep 2026
Kontestasi, Konstelasi, dan Hasil Dua Muktamar NU: Cipasung vs Tambakberas
Ruang Cendekia

Kontestasi, Konstelasi, dan Hasil Dua Muktamar NU: Cipasung vs Tambakberas

Senin, 31 Agu 2026
Menyelamatkan Marwah NU: Mengakhiri Akrobat Angka dan Mengembalikan Khittah Musyawarah
Ruang Cendekia

Menyelamatkan Marwah NU: Mengakhiri Akrobat Angka dan Mengembalikan Khittah Musyawarah

Minggu, 30 Agu 2026
Next Post
APBD Kabupaten Malang ditandatangani Bupati Malang

Prioritas Rancangan KUPA-PPAS Perubahan APBD Kabupaten Malang 2021

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pengorbanan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 08272026 2
Iklantm 08272026 1
17 Iklan HUT RI UIN Mlg.jpg
Iklantm 08172026 Pemkab
13 Iklan HUT RI BPJS2.jpg
12 Iklan HUT RI UM.jpg
07 Iklan HUT RI Prokopim Batu.jpg
Backdrop Kemerdekaan 434x390 Cm 1
Ucapan HUTRI2
HUTRI81 PKB 90X100.jpg
15 Iklan HUT RI PKS.jpg
16 Iklan HUT RI DPMPTSP Kota Batu.jpg
11 Iklan HUT RI Perumdam Among Tirto.jpg
06 Iklan HUT RI Dishub Kota Batu.jpg
08 Iklan HUT RI Satpol PP Batu.jpg
10 Iklan HUT RI Dinas Pendidikan Batu.jpg
14 Iklan HUT RI Dinas Perpus Batu.jpg
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.