MALANG, Tugumalang.id – Museum Singhasari menghadirkan inovasi edukasi tentang topeng malangan yang sekaligus mengajarkan tentang kelestarian lingkungan. Sejak dua tahun terakhir, Museum Singhasari mengajarkan pembuatan topeng malangan dengan memanfaatkan limbah kertas.
Pengunjung cukup membayar biaya partisipasi sebesar Rp20 ribu. Dengan biaya tersebut, pengunjing bisa mempraktikkan langsung proses pembuatan topeng dari nol dan mewarnainya. Usai kegiatan, pengunjung dibolehkan membawa pulang hasil karya buatan tangan mereka sendiri sebagai kenang-kenangan.
Baca Juga: Topeng Menak Kembali Hidup Setelah 50 Tahun, Kementerian Kebudayaan Apresiasi Revitalisasi di Malang
Kepala Museum Singhasari, Yossy Indra Hardyanto mengatakan, inisiatif ini berawal dari kepedulian terhadap tumpukan kertas bekas yang kerap terbuang sia-sia setelah dihancurkan. Museum Singhasari kemudian memanfaatkannya sebagai sarana edukasi kebudayaan yang ramah lingkungan.

“Awalnya banyak sekali kertas-kertas bekas perkantoran yang tidak terpakai. Setelah masuk paper shredder, biasaya dibuang. Jadi kami recycle kertas-kertas ini jadi media pewarnaan topeng,” tutur Yossy, belum lama ini.
Yossy menambahkan, seiring berjalannya waktu, minat masyarakat terhadap kegiatan ini terus meningkat. Hal tersebut mendorong pihak museum untuk terus menambah koleksi cetakan karakter Topeng Malang yang dikenalkan kepada pengunjung.
Baca Juga: Mengenal 2.000 Koleksi Topeng Bersejarah di Museum D’Topeng Malang
“Nanti kami buatkan master-nya (cetakan) dulu. Ini untuk memperkenalkan bahwa ada 76 karakter topeng,” tambah Yossy.
Proses pembuatan topeng malangan dari limbah kertas ini dimulai dengan membuat bubur. Kertas-kertas sisa yang telah dihancurkan direndam hingga menjadi bubur kertas.

Usai menjadi bubur, limbah kertas tidak bisa langsung dicetak menjadi topengalang. Pencetakan dimulai dengan mencampur lem yang sudah dicairkan dengan gipsum. Campuran tersebut lalu dituangkan ke dalam cetakan karakter topeng sebagai lapisan dasar.
Apabila lapisan tersebut telah diratakan, langkah selanjutnya adalah membubuhkan bubur kertas secara merata di atasnya. Setelah lapisan kertas rata, topeng dijemur hingga benar-benar kering.
Tahap akhir adalah mewarnai sesuai imajinasi pengunjung. Museum tidak mematok warna khusus meski memang ada warna-warna yang identik dengan tokoh tertentu.
“Warnanya bebas, terserah pengunjung,” kata Yossy.
Selama ini, banyak anak-anak sekolah yang antusias mengikuti edukasi pembuatan dan mewarnai topeng malangan. Secara tradisional, topeng malangan terbuat dari kayu dan butuh keterampilan khusus untuk memahatnya. Dengan bahan limbah kertas, pembuatan topeng malangan diharapkan lebih banyak dikenal masyarakat karena cepat dan murah.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Editor: Herlianto. A


























