Malang, Tugumalang.id – Setelah setengah abad menghilang dari panggung seni, Topeng Menak kembali hadir di Malang. Seni pertunjukan wayang topeng yang pernah menjadi primadona pada era 1960-an ini sempat meredup di awal 1970-an hingga nyaris punah.
Kini, upaya menghidupkan kembali Topeng Menak dilakukan oleh Lesbumi PCNU Kota Malang bersama lintas sanggar Malang Raya. Hasil kerja sama tersebut diwujudkan dalam riset mendalam hingga lahir pertunjukan bertajuk “Burak Buwana Menak” sebagai perayaan kebangkitan Topeng Menak. Acara ini digelar di Pesantren Budaya Karanggenting, Sabtu malam (9/8/2025).
Apresiasi Kementerian Kebudayaan untuk Revitalisasi Topeng Menak
Kementerian Kebudayaan RI memberikan apresiasi atas langkah ini. Hadir langsung Dirjen Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan RI, Dr. Restu Gunawan, M.Hum, didampingi Ketua Lesbumi PBNU KH. M. Jadul Maula, sejarawan dan budayawan M. Dwi Cahyono, serta Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita.
Baca juga: Mahasiswa Seni Rupa UB Belajar Topeng Malang di Kampung Budaya Polowijen
Menurut Restu, revitalisasi Topeng Menak oleh Lesbumi sejalan dengan program pemerintah dalam pelestarian budaya. Ia mengaku hadir bersama Balai Pelestarian Kebudayaan secara khusus untuk menyaksikan kembali pertunjukan yang sudah 50 tahun tidak dipentaskan.
“Lesbumi selama ini menjadi mitra penting dalam membangun kebudayaan Indonesia. Anggota Lesbumi selalu menghadirkan gagasan segar dan terus menyuarakan nilai-nilai budaya bangsa,” ujarnya.
Topeng Menak Sebagai Warisan Budaya dan Potensi Ekonomi
Restu juga menegaskan, UNESCO telah mengakui Indonesia sebagai superpower dalam bidang kebudayaan. Oleh karena itu, warisan seni seperti Topeng Menak perlu terus dilestarikan sekaligus dimanfaatkan untuk memberi dampak ekonomi melalui kapitalisasi dan monetisasi budaya.
”Ini perlu kita lestarikan bersama. Saya bersyukur dan mengapresiasi teman-teman Lesbumi yang sudah melakukan riset, mencari sisa-sisa Topeng Menak dan menolak punah. Kami dari Pemerintah daerah siap bersinergi dalam pengembangan kebudayaan di Kota Malang,” tuturnya.
KH. Jadul juga mengapresiasi pagelaran Burak Buwana Menak yang digagas tim Lesbumi Kota Malang bersama sanggar-sanggar seni di Malang. Dia menyebut mala mini merupakan peristiwa penting, penanda hidup kembali Topeng Menak yang hampir punah.
Topeng Menak disebutnya, berasal dari Persia pada zaman Harun Arrasyid. Lalu diterjemahkan dalam Bahasa Melayu menjadi hikayat Amir Hamzah, di era Kesultanan Malaka. Kemudian para ulama membangun strategi kebudayaan, membangun narasi peradaban, dengan semangat menjaga kedaulatan bangsa, dan menjadi metode dakwah di zaman Wali Songo.
”Sunan Giri salah satu yang merancang dakwah islam dengan wawasan peradaban yang luas. Sunan Giri dikenal mempopulerkan kisah Panji jadi Wayang Gedep,” terangnya.
Dwi Cahyono yang menjadi Penasihat tim revitalisasi Wayang Topeng Menak ini, juga sangat bersyukur dan bangga, Wayang Topeng Menak kembali dipentaskan. Meskipun menurutnya, pementasan tersebut masih sebatas embrio.
”kita mesti menelisiknya lebih dalam, karena pementasan terakhir Wayang Topeng Menak d Malang itu sekitar akhir tahun enam puluhan atau awal tahun tujuh puluhan, setengah abad yang lalu. Tentunya banyak yang belum pernah melihat secara langsung,” jelasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: M. Ulul Azmy
redaktur: jatmiko





























