MALANG, Tugumalang.id – Semua orang bisa mempelajari filsafat. Itulah tujuan Ach Dhofir Zuhry menulis buku Filsafat untuk Pemalas yang kini sudah memasuki cetakan keempat. Filsafat bisa dikemas secara ringan dan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.
Selain Filsafat untuk Pemalas, pria yang akrab disapa Gus Dhofir ini juga menulis buku berjudul Peradaban Sarung, Kondom Gergaji, Nabi Muhammad Bukan Orang Arab, dan Dadak Tidak Pernah Pergi. Semua buku tersebut bisa dibeli di toko-toko buku besar.
Semua buku karya Gus Dhofir ditulis dengan bahasa yang ringan sehingga mudah dipahami dan tidak membosankan. Ia ingin mengubah anggapan di masyarakat bahwa filsafat itu kaku dan ilmiah.
“Saya ingin mengganti konsep belajar filsafat yang sulit menjadi yang ringan, gampang. Dan itu (Filsafat untuk Pemalas) kasuistik semua,” kata Gus Dhofir saat ditemui Tugu Malang ID di rumahnya yang terletak di Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang beberapa waktu lalu.
Baca Juga: Bedah Buku Filsafat untuk Pemalas: Filsafat Hadir Menjumpai Kesadaran Kita
Gus Dhofir mengatakan bahwa selama ini orang beranggapan filsafat itu bersifat teoritis. Meski tak sepenuhnya salah, namun filsafat juga ada yang bersifat praktis dan selama ini dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Antri, sabar, hormat pada orang tua, punya etos kerja yang baik, menghargai waktu, itu termasuk filsafat,” kata Gus Dhofir.
Buku Filsafat untuk Pemalas berisi dua hal, yakni filsafat dalam keseharian manusia dan filsafat yang sehubungan dengan generasi muda. Dibandingkan dengan generasi sebelumnya, generasi masa kini lebih tidak sabaran.
Ia mencontohkan generasi sebelumnya harus menunggu Hari Raya Idulfitri untuk membeli baju baru atau makan daging. Namun sekarang, membeli baju baru dan makan daging bisa dilakukan kapan saja, tanpa menunggu acara tertentu.
“Generasi sekarang membaca tidak lebih dari 12-16 paragraf dan menonton video selama 3-5 menit. Padahal tidak mungkin mempelajari sesuatu dalam waktu sesingkat itu,” ujarnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Luhur Baitul Hikmah ini telah menyukai filsafat sejak belia. Saat duduk di bangku kelas 2 SMP, ia sudah membaca buku-buku filsafat.
Menurut Dhofir, peradaban manusia itu maju karena filsafat. Dengan mempelajari filsafat, masyarakat menjadi tidak mudah dibohongi. Mereka jadi punya sikap kritis dan objektif dalam melihat sesuatu.
“Kemajuan sebuah peradaban itu filsafat. Mulai dari Mesir, Babylonia, Yunani, Persia, sampai puncak kejayaan Islam,” tuturnya.
Baca Juga: Bedah Buku Filsafat untuk Pemalas: Tidak Ada Persoalan dalam Filsafat
Sejak tahun 2006, Gus Dhofir telah menulis 23 judul buku. Sebelumnya, ia sempat menulis buku dengan gaya bahasa ilmiah dan sulit dipahami orang awam. Namun, di tahun 2015, ia mulai menulis dengan gaya populer agar bukunya lebih mudah dipahami banyak orang.
“Sebelumnya buku-buku saya agak sulit diterima pasar karena buku ajar, agak kaku. Mulai dari itu (2015) sampai sekarang, tulisan saya ringan semua,” ujarnya.
Peralihan gaya bahasa ini ia lakukan karena ia ingin membagi ilmu kepada para pembaca yang lebih luas. Di sebuah toko buku, ia sempat melihat banyak buku yang sarat ilmu diobral begitu saja karena tidak banyak peminatnya. Ia pun tersadar dan mulai menulis buku yang mudah dipahami.
“Pengetahuan seharusnya dibagikan tidak dengan cara begitu (bahasa yang berat), tapi dengan bahasa yang membuat orang paham. Saya harus turunkan ego saya dan bicara dengan bahasa yang mudah dipahami,” ujar lulusan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta ini.
Di dalam menulis buku, Gus Dhofir melakukan riset dengan banyak membaca. Sejak kecil, ia sudah banyak membaca buku dan koran, serta karya sastra. Ia juga telah berkunjung ke berbagai negara sehingga tahu banyak tentang budaya dan regulasi di belahan dunia lain.
Buku yang ditulis Gus Dhofir pun tak melulu soal filsafat. Buku berjudul Nabi Muhammad Bukan Orang Arab berisi sejarah yang mengulik asal-usul Nabi Muhammad. Rupanya, Rasul umat Islam tersebut merupakan orang Babylonia.
“Banyak di antara kita tidak bangga jadi orang Indonesia, malah kepengen jadi orang Arab. Nah, padahal Nabi Muhammad itu bukan orang Arab, dia orang Babylonia,” ujarnya.
Dalam waktu dekat, Gus Dhofir akan menerbitkan dua buku lagi. Salah satunya merupakan buku motivasi Islam berjudul Kerjakan Doamu, Doakan Kerjamu. Buku itu rencananya akan dirilis sekitar dua atau tiga bulan lagi.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
editor: jatmiko




























