Irham Thoriq*
Teman lama adalah cerminan diri kita. Berbicara dengan teman lama seperti bercakap dengan diri kita di masa lalu.
Jika teman adalah energi, sejatinya teman lama merupakan pantulan diri kita pada waktu yang telah lewat. Orang baik akan dipertemukan dengan orang-orang baik, begitu pula sebaliknya. Jika ingin melihat kualitas seseorang, lihatlah teman-temannya. Begitu kata bijak menyebutkan.
Di tengah hidup yang mungkin menghimpit, kesibukan yang mengecoh, serta persoalan yang datang silih berganti, kita perlu bercakap dengan diri kita sendiri. Salah satu caranya adalah melalui teman-teman lama.

Berbicara dengan mereka membuat kita sadar bahwa kita telah menempuh perjalanan yang panjang. Perjalanan itu mungkin tidak mudah, tetapi nyatanya bisa kita lalui.
Percayalah, hal itu akan menjadi energi yang membahagiakan. Sayangnya, hubungan pertemanan yang panjang umur kini semakin jarang. Berdasarkan riset Center on American Life tahun 2021, sekitar 91 persen orang dewasa kehilangan sahabat yang telah dikenalnya 10 tahun lalu.
Baca juga: Teman Lama
Padahal, teman lama merupakan salah satu sumber kebahagiaan. Kita memerlukan jeda di tengah kesibukan yang menghimpit dengan membangun hubungan sosial yang sehat, saling mendukung satu sama lain. Hubungan sosial yang sehat, dalam banyak riset, membuat seseorang lebih bahagia dan sehat secara kejiwaan.
Minggu-Senin (14-15/12/2025) kemarin, saya mengikuti reuni di sebuah vila di Kota Batu bersama teman-teman lama semasa kuliah. Reuni ini sebenarnya sudah sering direncanakan, namun kerap gagal. Kadang ada alasannya, kadang pula tidak.
Kami semua dipertemukan dalam sebuah organisasi bernama Rayon Penakluk Adawiyah, sebuah entitas di Fakultas Psikologi UIN Maliki Malang, di bawah naungan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Yang hadir dalam pertemuan tersebut adalah teman-teman yang masih aktif bertegur sapa di grup WhatsApp “Sahabat Seduluran”. Grup ini terbentuk secara alami, dengan anggota yang mayoritas berasal dari angkatan kuliah 2006, 2007, 2008, dan 2010.
Kami lulus kuliah sekitar tahun 2012 hingga 2015. Hingga kini, sudah sekitar tiga kali kami menggelar reuni informal yang selalu dilaksanakan di vila.
Baca juga: 17 Tahun Tangani Travel Umrah, H Muhibbin Billah Ingin Selamatkan Masyarakat dari Penipuan Biro Bodong (2)
Tidak ada agenda resmi dalam setiap pertemuan. Hanya guyonan, obrolan santai, bermain kartu, memasak bersama, dan aktivitas ringan lainnya. Kegiatan sederhana tersebut cukup membahagiakan batin.
Suasana selalu cair dan penuh kelucuan, sesuatu yang mungkin jarang kita temui bersama teman-teman baru, baik teman kerja, teman komunitas, maupun relasi lainnya.
Dalam berinteraksi dengan teman lama, sebisa mungkin kita tidak merasa kecil dengan status ekonomi saat ini. Dalam kehidupan, tentu ada siklus. Ada yang sukses dan ada pula yang berjalan biasa-biasa saja.
Yang jelas, kehidupan kita saat ini mayoritas lebih baik dibandingkan masa kuliah dulu, dan itu patut disyukuri. Dalam Alquran juga dijelaskan bahwa ada orang yang dititipi harta banyak dan ada yang sedikit. Sedikit atau banyaknya harta tidak perlu dirisaukan.
Itu adalah garis tangan dan takdir masing-masing. Terima sambil terus bekerja maksimal untuk meningkatkan kesejahteraan. Lawan terbesar kita adalah diri sendiri, agar selalu lebih baik dari masa lalu, bukan lebih baik dari orang lain.
Harta, baik banyak maupun sedikit, pada akhirnya akan kita tinggalkan. Kita akan diuji apakah harta tersebut memberi manfaat bagi orang lain atau tidak.
Akhir Tahun, Momen Kita Menyapa Teman-Teman
Momen akhir dan awal tahun merupakan waktu yang tepat untuk menekan tombol pause dalam hidup. Salah satunya dengan menggelar pertemuan hangat bersama teman-teman akrab, baik teman lama maupun teman baru.
Tombol pause ini penting sebagai pengingat sejauh mana kita telah melangkah dan apa yang perlu diperbaiki. Tidak ada manusia yang sempurna. Kita membutuhkan teman yang mampu mengingatkan sekaligus menghibur. Karena itu, perbanyaklah teman-teman yang lucu.
Selain menjaga hubungan dengan teman lama, kita juga perlu membangun jejaring pertemanan melalui komunitas baru, komunitas hobi, komunitas profesi, dan lainnya.
Dengan memiliki banyak teman, terlebih yang berkualitas, kita akan memiliki sudut pandang yang lebih beragam dalam melihat kehidupan. Juga sebagai refleksi agar kita terus menjadi pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
*Penulis CEO Tugu Media Group
redaktur: jatmiko
























