MALANG, Tugumalang.id – Di tengah arus besar transformasi digital, Co Founder dan Chief Executive Officer (CEO) Radya Labs, Puja Pramudya memiliki gagasan visioner tentang pendidikan di Indonesia menghadapi era Artificial Intelligence (AI).
Sebagai alumni Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB), pria yang akrab disapa Puja itu melihat perkembangan AI sebagai peluang di masa depan. Untuk mencapai ke sana, menurutnya perlu menjembatani dunia pendidikan, teknologi, dan kepemimpinan.
Sosok Puja yang kini namanya masuk dalam bursa calon Ketua Ikatan Alumni ITB (IKA ITB), tidak hanya dikenal karena kiprah profesionalnya di bidang teknologi digital. Ia juga dikenal karena dedikasinya membangun ekosistem pendidikan yang lebih adaptif, inklusif, dan berbasis inovasi.
Baca Juga: MK Wajibkan Pendidikan 9 Tahun Gratis, DPRD Kota Malang Soroti Dampaknya ke Sekolah Swasta
Alasan itulah yang kemudian mendorong Puja terlibat dalam bursa calon Ketua IKA ITB, sebuah posisi strategis yang ia pandang sebagai panggung kolaborasi lintas generasi dan bidang.
AI Bukan Ancaman, Tapi Peluang
Sebagai sosok yang sudah lama berkecimpung di dunia teknologi digital dan inovasi. Puja kurang sepakat apabila keberadaan Artificial Intelligence (AI) disebut sebagai ancaman bagi manusia.
Menurutnya justru manusia yang tidak mau mengenal dan belajar tentang teknologi bernama AI, akan digantikan oleh manusia yang mengerti dan menggunakan AI, bukan robot yang seperti dikhawatirkan selama ini.
“Akan produktif sekali dengan AI kalau kita paham, jadi bukan (AI) menggantikan tapi orang yang enggak pakai AI akan digantikan dengan orang yang pakai AI. Bukan robot, tapi manusia yang pakai AI, istilahnya seperti homo sapiens akan digantikan homo intelligence, seperti itu,” ungkap Puja kepada Tugumalang.id, Minggu (8/6/2025).
Baca Juga: 12 SD Islam Terbaik di Kota Malang 2025: Pilihan Unggul untuk Pendidikan Anak
Ia mengambil contoh pemanfaatan AI di bidang pendidikan, jika dahulu tenaga pendidik atau guru membuat media pembelajaran edukatif membutuhkan waktu yang lama.
Kehadiran AI dapat membantu guru menyiapkan materi pembelajaran lebih cepat dengan tidak menghilangkan esensi dari kegiatan belajar mengajar itu sendiri.
Inilah yang bagi Puja dibutuhkan kemauan dan kemampuan untuk adaptif serta mau berinovasi terhadap sebuah perubahan yang memberi dampak positif.
“Dulu membuat ide content learning bisa menatap laptop berjam-jam gitu, dapat ide dari mana?. Tapi dengan adanya chat gpt, kita paham prompt, bagaimana AI bisa meningkatkan produktivitas,” imbuhnya.
AI dan Inovasi Pendidikan, Peran Strategis Alumni ITB
Dengan rekam jejak yang cukup panjang di dunia teknologi digital dan pengembangan inovasi pendidikan melalui Tech Advisor Komodo Water, Board Advisor Sakola Kembara, Co Director Pengembangan Talenta Korika, Co Founder & CEO Alkademi, dan Co Founder & CEO Radya Labs.
Puja melihat alumni ITB memiliki peran signifikan dalam memajukan pengembangan AI di Indonesia, khususnya untuk Pendidikan.
Terlepas dari momen Pemilu Alumni ITB untuk mencari Ketua IKA ITB periode 2025-2029, ia menilai banyak di antara alumni yang kini berada di beberapa posisi strategis.
Baik sebagai peneliti, pendiri start up teknologi pendidikan, maupun pembuat kebijakan yang secara aktif mendorong penggunaan teknologi AI dalam dunia akademik.
“Melalui jaringan ITB kita bisa lebih banyak memasarkan pembelajaran berbasis AI, karena ITB ini alumninya ada di semua daerah. Kita manfaatkan jaringan alumni ITB sebagai center of excellence pelatihan AI di daerah-daerah,” ujarnya.
Puja pun sudah memulainya dengan sebuat website pembelajaran AI, belajar.bersamapuja.org yang akan dikerjakan untuk seluruh Indonesia.
Melalui medium pembelajaran tersebut, putra putri terbaik Indonesia berkesempatan mendapatkan beasiswa dan menjadi talenta digital yang membawa perubahan di masa depan.
Apa yang dilakukannya itu merupakan wujud penerjemahan semangat alumni ITB untuk berkontribusi pada kemajuan bangsa.
“Ini (media pembelajaran AI) bakti kita untuk bangsa, karena ITB janjinya salam Ganesha, bakti kami untuk Tuhan, bangsa, dan almamater. Bati almamater satu hal, kita membantu ITB dengan kegiatan-kegiatan kami, tapi ada kata Tuhan dan bangsa,” ucap Puja.
“Kalau Tuhan mungkin ranah private, tetapi kalau bangsa sebagai institut teknologi tertua harus berkontribusi secara sporadis untuk program innovation dan education,” imbuhnya.
Perubahan Melalui Kolaborasi
Di lain sisi, Puja juga melihat ada peluang perubahan di masa depan melalui Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan telah mengusai pemanfaatan teknologi digital, AI.
Kolaborasi tiga kementerian yang memiliki peran strategis terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) menjadi langkah konkret meningkatkan kualitas SDM di Indonesia.
Ketiga kementerian yang dimaksud olehnya adalah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti saintek), Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
Ketiga kementerian tersebut, dapat berkolaborasi dengan IKA ITB dalam memperluas jangkauan akses peningkatan kualitas SDM, salah satunya jangkauan pembelajaran AI di Indonesia.
“Kita ada peluang, tiga Kementerian yang berkaitan dengan IPM, ada Pendidikan Tinggi, Tenaga Kerja, dan Kesehatan kebetulan semua menterinya alumni ITB. Saya merasa IKA ITB bisa ikut memberikan kontribusi yang lebih besar,” terang Puja.
“Kita mulai dulu dari alumninya sendiri, kalau alumni ITB tidak mengenal AI ya sama saja. Setelah ITB beres, kita masuk ke seluruh Indonesia,” sambungnya.
Inovasi Butuh Edukasi
Puja mengatakan bahwa sebagus apapun inovasi yang dikembangkan tanpa adanya dukungan edukasi yang baik, menurutnya tidak akan berjalan dengan baik.
Karena tantangan mengembangkan sebuah inovasi di Indonesia cukup besar. Di mana permasalahan utama adalah tingkat pendidikan, sehingga inovasi yang dikembangkan harus disertai dengan langkah konkret, yakni edukasi.
“Inovasi tanpa edukasi, enggak akan masuk dia (inovasi). Mau innovate apapun kalau kita secara science engineering masih kurang, senggak akan jalan,” tegasnya.
“Lulusan S1 (sarjana Strata 1) kita masih 5 persen dari 200 juta penduduk, jadi yang kuliah 30 persen dan yang lulus 5 persen. Inilah mengapa untuk melakukan sebuah perubahan, dari pendidikan dulu terus kita melakukan inovasi,” beber Puja.
Mengenang Masa Kuliah di ITB, Jalur KN dan Peran Sang Ibunda
Menjadi bagian civitas akademika ITB, bagi Puja merupakan sebuah kebanggaan tersendiri. Ia mengenang masa kuliahnya di ITB yang dimulai masuk kampus melalui Jalur Kemitraan Nusantara (KN) ITB.
Sebagai anak muda yang jauh-jauh datang dari Pekanbaru, Riau untuk menuntut ilmu ke Bandung. Puja mendapatkan beasiswa dari pemerintah daerah setempat. Tetapi perjalannnya tidak semuanya mulus.
Ia pernah dihadapkan pada permasalahan beasiswa yang sempat mengalami keterlambatan dan sempat mengurungkan niat berangkat ke Bandung.
Tetapi dengan segala upaya, sang ibunda mendukung langkah puja untuk menempuh studi meski harus menggadaikan emas sebagai uang saku perjalanan ke Bandung.
“Masuk ITB itu dulu, kami via jalur KN memang mendapat bantuan beasiswa dari pemda. Tapi telat cair dan orang tua harus pinjam sana sini untuk genapin. Terutama mama, enggak segan-segan menggadaikan emasnya supaya saya bisa berangkat ke Bandung,” kenangnya.
Terinspirasi dari ketulusan dan keteguhan sang ibunda dalam mendukung Puja menempuh studi pendidikan tinggi. Lahirlah Alkademi (Almeria Akademi), yang namanya diambil dari nama sang ibunda, yakni Ibu Almeria.
“Izin memperkenalkan Ibu Almeria, dari beliau makanya sampai bikin Alkademi dari Almeria Akademi,” ujar Puja.
Alkademi kini menjadi medium bagi talenta-talenta generasi muda yang sadar akan pentingnya pemanfaatan teknologi untuk memberi kontribusi pada perubahan di masa depan.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Bagus Rachmad Saputra
Editor: Herlianto. A





























