MALANG, Tugumalang.id – Menanggapi beredarnya video penceramah, Sica Farisa Dona di Malang Selatan yang menuduh banyak pesantren cabul di wilayah Malang.
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Keagamaan, Dr. H. Ahmad Fahrur Rozi menyesalkan pernyataan penceramah tersebut.
Menurutnya tuduhan seperti itu tidak boleh disampaikan secara serampangan di depan publik, karena akan menimbulkan stigma negatif dan merugikan banyak pihak.
“Saya menyayangkan adanya pernyataan penceramah sdri Sisca yang menyebut seolah-seolah banyak pesantren cabul di Malang tanpa disertai data dan fakta yang jelas,” ujar pria yang akrab disapa Gus Fahrur ini kepada Tugumalang.id, Minggu (31/5/2026).
“Tuduhan seperti ini tidak boleh disampaikan secara serampangan di muka publik karena dapat menimbulkan stigma dan merugikan ribuan santri, kiai, ustadz, serta lembaga pesantren yang selama ini berjuang mendidik generasi bangsa di Kabupaten Malang,” imbuhnya.
Dukung Penindakan Hukum Secara Tegas jika Tuduhan Terbukti
Di sisi lain, Gus Fahrur juga mendorong penindakan hukum secara tegas jika tuduhan yang disampaikan oleh penceramah tersebut didukung oleh fakta dan bukti yang kuat.
Tetapi pihaknya juga mengingatkan jangan sampai karena ulah beberapa oknum, kemudian digeneralisasikan ke semua pondok pesantren yang ada di Malang.
Baca juga: Kakek Terdakwa Kasus Pencabulan di Ponpes Kota Batu Divonis 3 Tahun Penjara
“Kalau memang ada kasus pidana atau kekerasan seksual di lingkungan tertentu, silahkan disebutkan secara jelas dan diproses sesuai hukum,” tegasnya.
“Kita semua mendukung penindakan tegas terhadap pelaku. Namun jangan karena beberapa oknum, lalu seluruh pesantren di Malang digeneralisasi dan diberi cap buruk,” tambah pria yang juga menjabat Ketua MUI Bidang Pesantren ini.
Tuduhan tersebut amat disayangkan, sebab di Kabupaten Malang terdapat ratusan pesantren dengan puluhan ribu santri yang setiap hari belajar agama, akhlak, dan ilmu pengetahuan.
Bagi Gus Fahrur pernyataan yang disampaikan tentang kasus pencabulan di lingkungan pondok pesantren, seyogyanya didukung oleh data yang akurat, berapa jumlah pesantren yang mengalami kasus tersebut, dan dari mana sumber datanya.
Amat disayangkan jika tuduhan yang dilontarkan tanpa dasar, bisa menjadi fitnah dan pembunuhan karakter bagi lembaga pendidikan Islam.
Yakini Lebih Banyak Pesantren yang Mengabdikan Diri untuk Bangsa
Gus Fahrur meyakini masih banyak pesantren yang bersih dan benar-benar mengabdikan diri untuk mendidik anak bangsa dibandingkan oknum-oknum yang melakukan pelanggaran.
Untuk itu, pihaknya mengajak semua pihak untuk tidak menghukum pondok pesantren dengan tuduhan yang tidak disertai dengan fakta dan bukti yang valid.
“Karena itu, mari bersikap adil. Jika ada yang salah, sebut pelakunya dan tindak tegas. Tetapi jangan menghukum seluruh pesantren dengan tuduhan yang tidak proporsional,” ucapnya.
Baca juga: Kakek Terdakwa Pencabulan Santri di Kota Batu Dituntut Penjara Maksimal
Menyinggung tentang tradisi keilmuan dan etika publik, bagi Gus Fahrur setiap pernyataan harus didasarkan pada data yang valid, bukan asumsi atau sensasi.
“Kebebasan berbicara harus disertai tanggung jawab moral. Agar tidak menimbulkan keresahan dan merusak kepercayaan masyarakat terhadap lembaga yang telah banyak berjasa bagi bangsa ini,” pungkasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Bagus Rachmad Saputra
redaktur: jatmiko




























