Malang, Tugumalang.id – Stres selama musim liburan kerap dianggap sepele. Namun, menurut Mayo Clinic, tekanan emosional yang meningkat justru berpotensi memicu gangguan serius pada kesehatan jantung, termasuk serangan jantung, terutama pada wanita.
Musim liburan sering kali membawa tuntutan sosial, pekerjaan, dan keluarga yang menumpuk. Bagi banyak wanita, rutinitas yang sudah padat menjadi semakin melelahkan. Dalam kondisi ini, gejala penyakit jantung kerap diabaikan, padahal penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian nomor satu bagi pria dan wanita di dunia.
Lebih banyak wanita meninggal akibat penyakit jantung dibandingkan kanker payudara. Karena itu, menjaga kesehatan jantung tidak hanya soal pola makan dan olahraga, tetapi juga mengelola faktor risiko yang kerap luput diperhatikan, seperti stres mental dan emosional.
Faktor Risiko Penyakit Jantung Tak Hanya Fisik

Selama ini, faktor risiko penyakit jantung identik dengan kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, merokok, dan obesitas. Namun, Mayo Clinic menegaskan bahwa faktor non-tradisional juga berperan besar.
Stres, kecemasan, dan depresi terbukti memengaruhi kesehatan jantung. Stres psikososial muncul dari tekanan hidup yang berat, seperti konflik keluarga, perceraian, kehilangan orang tercinta, penyakit berkepanjangan, hingga bencana alam.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa stres psikososial dan depresi berkaitan erat dengan peningkatan risiko serangan jantung. Bahkan, tingkat stres yang tinggi dapat memperlambat proses pemulihan setelah serangan jantung terjadi.
Baca juga: Jangan Salah! Ini Perbedaan Angin Duduk dan Serangan Jantung yang Wajib Diketahui
Bagaimana Stres Bisa Memicu Serangan Jantung?
Stres dapat bersifat jangka pendek maupun jangka panjang, dan keduanya berdampak pada jantung. Secara fisiologis, stres emosional dapat meningkatkan tekanan darah dan memicu penumpukan plak di arteri koroner.
Selain itu, stres meningkatkan produksi hormon kortisol yang memengaruhi fungsi trombosit serta sistem saraf otonom, termasuk pengaturan detak jantung dan tekanan darah. Kombinasi faktor ini berkontribusi pada berkembangnya penyakit jantung.
Tak hanya itu, stres sering mendorong perilaku tidak sehat, seperti makan berlebihan, kurang aktivitas fisik, konsumsi alkohol berlebihan, hingga merokok, yang semuanya memperburuk risiko penyakit jantung.
Dalam kondisi ekstrem, stres berat dalam waktu singkat dapat memicu gagal jantung sementara yang dikenal sebagai sindrom patah hati atau kardiomiopati takotsubo.
Faktor Risiko Penyakit Jantung yang Perlu Diwaspadai Wanita
Penyakit jantung dapat menyerang wanita di segala usia. Wanita di bawah 65 tahun, terutama yang memiliki riwayat keluarga penyakit jantung, perlu lebih waspada terhadap sejumlah faktor risiko berikut:
-
Diabetes
-
Stres mental dan depresi
-
Merokok
-
Kurang aktivitas fisik
-
Konsumsi alkohol
-
Menopause, terutama menopause dini sebelum usia 40 tahun
-
Komplikasi kehamilan, seperti hipertensi atau diabetes gestasional
-
Penyakit inflamasi, seperti lupus atau rheumatoid arthritis
Baca juga: Ini Deretan Manfaat Teh Hijau bagi Metabolisme, Otak, hingga Jantung
Gejala Penyakit Jantung pada Wanita Kerap Tidak Khas
Nyeri dada tetap menjadi gejala utama penyakit jantung pada pria maupun wanita. Namun, wanita lebih sering mengalami gejala tambahan yang kerap disalahartikan sebagai kelelahan biasa, seperti:
-
Rasa tidak nyaman di leher, rahang, bahu, punggung atas, atau perut
-
Sesak napas
-
Nyeri pada salah satu atau kedua lengan
-
Mual atau muntah
-
Berkeringat berlebihan
-
Pusing atau kepala terasa ringan
-
Kelelahan yang tidak biasa
Jika nyeri dada disertai gejala-gejala tersebut, segera cari pertolongan medis darurat.
Mengelola Stres Agar Liburan Tetap Sehat
Meski liburan sering diidentikkan dengan kebahagiaan, ekspektasi berlebihan justru kerap menjadi sumber stres. Gambaran ideal tentang kebersamaan keluarga tidak selalu sesuai dengan realitas, dan perbedaan itu dapat menimbulkan tekanan emosional.
Kunci utama mengelola stres, terutama saat liburan, adalah menetapkan harapan yang realistis. Diskusikan bersama keluarga apa yang benar-benar membuat liburan bermakna, dan lepaskan hal-hal yang justru menambah beban.
Beberapa langkah sederhana yang dapat membantu menjaga kesehatan mental dan jantung selama liburan dan sepanjang tahun antara lain:
-
Meningkatkan aktivitas fisik
-
Melakukan latihan relaksasi
-
Menjaga koneksi spiritual
-
Mencari bantuan profesional bila diperlukan
-
Mengonsumsi makanan sehat
-
Membatasi konsumsi alkohol
-
Berhenti merokok
-
Memantau kesehatan jantung secara rutin
Mengelola stres bukan hanya soal kenyamanan mental, tetapi juga langkah penting untuk melindungi jantung dan menjaga kualitas hidup jangka panjang.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: jatmiko
redaktur: jatmiko
























