Kota Batu, Tugumalang.id – Dalam geliat pengembangan pariwisata Kota Batu, Jawa Timur, persoalan transportasi tak bisa diabaikan. Baru-baru ini, uji coba operasional shuttle bus wisata membawa angin segar dalam mewujudkan sistem transportasi berkelanjutan di kota yang dikenal dengan julukan Swiss van Java ini.
Meski belum bisa diterapkan secara menyeluruh dalam waktu dekat, sejumlah pihak menilai bahwa wacana ini layak untuk segera digagas secara serius. Penataan sistem transportasi masa depan di Kota Batu memerlukan perencanaan yang matang, terstruktur, dan tentunya dukungan anggaran yang tidak sedikit.
Sebagai informasi, ide awal mengenai shuttle bus wisata ini datang dari Kapolres Batu AKBP Andi Yudha Pranata. Saat uji coba selama libur Lebaran 2025, tercatat sebanyak 681 wisatawan mencoba layanan bus ini. Respons publik pun cukup menggembirakan. Banyak wisatawan berharap program ini menjadi layanan tetap.
Bagi wisatawan, keberadaan shuttle bus menghadirkan pengalaman baru dalam menjelajahi berbagai destinasi wisata di Kota Batu. Selain nyaman dan praktis, sistem ini juga dianggap sebagai solusi transportasi masa depan yang ramah lingkungan dan minim kemacetan.

Kenapa Penting?
Menurut Tourismologist Universitas Brawijaya, Dr. A. Faidlal Rahman, SE.Par., M.Sc., CHE, konsep connecting bus yang diusung dalam shuttle bus wisata sangat tepat diterapkan demi menunjang pariwisata berkelanjutan. Sistem ini dinilai mampu menghubungkan berbagai destinasi populer tanpa menambah beban lalu lintas.
Connecting bus menjadi solusi penting dalam menghadapi kemacetan yang kerap melanda Kota Batu, terutama saat musim liburan. Tak hanya itu, konsep ini juga memperkuat ekosistem pariwisata yang saling terintegrasi antar titik destinasi, hotel, dan pusat oleh-oleh.

Dr. Faid menegaskan bahwa jika pemerintah serius ingin menerapkan sistem ini, maka perlu disusun rencana komprehensif yang berbasis kajian akademik. Beberapa aspek krusial yang perlu diperhatikan antara lain: jaringan rute yang efisien, frekuensi operasional tinggi, aksesibilitas, tarif terjangkau, hingga layanan informasi yang lengkap.
“Jangan hanya berangkat dari ide spontan. Semua pembangunan, apalagi yang menyangkut transportasi publik, wajib dirancang berdasarkan kajian terukur dan perencanaan jangka panjang. Kalau tidak, bisa menimbulkan persoalan baru,” jelasnya.
Tak cukup hanya merancang, pemerintah daerah juga dituntut untuk tegas dalam implementasinya. Shuttle bus, kata Faid, jangan hanya dijadikan alternatif, tapi harus menjadi layanan utama. Bila hanya bersifat opsional, dikhawatirkan wisatawan tetap akan memilih kendaraan pribadi.
“Kalau begitu, shuttle bus bisa jadi mubazir. Bukan membantu mengurangi kemacetan, justru malah menambah beban jalan,” pungkasnya.
Baca juga: Wisatawan Antusias Coba Shuttle Bus Wisata di Kota Batu, Layak Jadi Layanan Permanen
Hal senada dikatakan Kapolres Batu AKBP Andi Yudha Pranata yang menilai bahwa pengendalian kemacetan di Kota Batu jika diukur menyesuaikan pada postur anggaran daerah, opsi paling tepat adalah mengaktifkan program shuttle bus.
”Solusi pertama dan paling memungkinkan dalam hal traffic engineering (kemacetan, red) ya shuttle bus ini. Tak hanya itu, bisa jadi daya tarik pariwisata tersendiri,” kata Andi.
Andi menuturkan jika bus berkapasitas 48 orang ini bisa mengurangi penggunaan 6 hingga 10 mobil pribadi. Selain menghubungkan alun-alun, tempat wisata, pusat oleh-oleh, dan hotel, bus ini juga menjadi wujud dari sistem transportasi wisata yang ramah lingkungan.
PAD Jalan, Level Rate Kota Meroket
Selain itu, imbuh dia, program ini juga menambah cash flow PAD pemerintah serta menyerap tenaga kerja warga Kota Batu sendiri. Tak hanya itu, jika dipandang secara makro, ketika dinamika transportasi kota ini berkembang, maka tata kota itu juga akan ikut berkembang.
”Level rate kota ini juga otomatis naik. Multiplier effect-nya gede banget. Saya kira kalau ini nanti jalan, saya yakin julukan Kota Batusebagai Swiss van Java bukan lagi hanya sekedar julukan,” ujarnya.
Sebelumnya, Wali Kota Batu Nurochman yang turut menjajal shuttle bus itu juga menuturkan apresiasi atas inovasi tersebut. Menurutnya, shuttle bus ini bisa menjadi opsi bagi Pemkot Batu mewujudkan transportasi umum yang terintegrasi dan ramah lingkungan.
”Dengan rute mencakup lokasi wisata dan pusat-pusat keramaian, layanan ini saya kira sangat memudahkan pergerakan warga dan wisatawan sekaligus mengurangi kemacetan di kawasan wisata,” tuturnya.
Diharapkan, kehadiran shuttle bus keliling Kota Batu dapat menjadi solusi transportasi yang efisien dan mendukung keberlanjutan pariwisata di kota yang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Jawa Timur ini.
Jika hasil evaluasi menunjukkan respons baik dari masyarakat, maka akan dipertimbangkan penerapan tarif serta kemungkinan integrasi dengan sistem parkir atau mekanisme tiket dan segala macam tetek-bengeknya.
Baca juga: Uji Coba Shuttle Bus Wisata di Kota Batu Selama Lebaran, Ini Rutenya!
Seberapa Jauh Kesiapannya?
Pasca uji coba shuttle bus, disinyalir mulai muncul optimisme untuk merealisasikannya. Bahkan turut berhembus kabar Pemkot Batu yang berencana mengalokasikan anggaran untuk pembelian bus ini. Diperkirakan biaya per unitnya mencapai Rp2 miliar dengan kebutuhan ideal sebanyak 5 hingga 6 unit bus.
Soal ini, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Batu Hendri Suseno membenarkan ada wacana itu. Hanya saja, kata dia, opsi ini memang belum dapat direalisasikan dalam waktu dekat.

Namun jika diajak membincang soal itu, menurut Hendri, model transportasi yang terintegrasi sangat dibutuhkan. Buktinya, lanjut dia, respon wisatawan saat uji coba shuttle bus itu juga sangat positif.
”Kalau diajak bicara potensinya, saya kira bagus sekali. Apalagi saya dengar Bu Gubernur kan mau ada wacana bikin operasional bus trans jatim di koridor Malang Raya. Saya kira itu bisa jadi sinyal positif bagi program shuttle bus kita ini,” ujarnya.
Namun sebelum menuju ke sana, kata dia, perlu ada persiapan yang matang dan tidak bisa grasa-grusu. Bagaimana pun, sistem baru ini harus disambut dengan persiapan yang baik agar tidak tumpang tindih dengan sistem sebelumnya.
Lalu, Nasib Sopir Angkot Gimana?
Lalu, operasional angkot bagaimana jika program ini terealisasi? Apakah kemudian para sopir angkot ini diberdayakan untuk menjadi sopir bus atau bagaimana? Menurut Hendri, angkot masih tetap akan beroperasi karena sudah pasti bus tidak mungkin bisa menjangkau keseluruhan destinasi.
”Skemanya masih banyak. Ini kan nanti sistemnya saling terintegrasi. Jalur bus kan ada sendiri, jalur angkot sendiri. Jadi win-win solution. Saya kira wisata Kota Batu nanti akan sangat bagus,” kata Hendri.
Meski begitu, permasalahan utama mewujudkan sistem ini masih berkutat pada hal klise, yaitu anggaran. Ia berharap realisasi ini bisa disokong dari anggaran Pemprov Jatim melalui program Bus Trans Jatim.
”Malang Raya ini kan sudah ada potensinya, tinggal dari Provinsi. Saya kira kemampuan anggaran di daerah itu terbatas. Untuk 1 unit bus saja Rp 2 miliar. Jadi begitu, harapannya sih bisa didukung Pemprov Jatim soal shuttle bus di Kota Batu,” harapnya.
Sementara menurut pengamat Tourismologist, Faif menjelaskan ada beberapa opsi yang bisa dilakukan untuk pemberdayaan moda transportasi angkot. Pertama, angkot masih dapat mengangkut penumpang dari area permukiman, desa wisata, hotel, atau lokasi-lokasi terpencil yang tidak bisa dijangkau shuttle bus.
Angkot, kata dia, akan mengangkut penumpang menuju titik pemberhentian (halte/terminal) utama connecting bus. Setelah penumpang tiba di titik pemberhentian, mereka dapat melanjutkan perjalanan dengan connecting bus.
Sementara opsi kedua, angkot dapat melebur menjadi connecting transportation. Nanti wisatawan tinggal memilih mau naik mini bus atau Angkot. Dalam hal ini, Faid melihat dibutuhkan regulasi dan ketegasan dalam penerapannya sehingga semua berjalan dengan baik.
Jadi, membincang soal wacana operasional shuttle bus wisata di Kota Batu ini, kamu mendukung atau tidak? Terlepas daripada itu, apapun solusinya diharapkan dapat menjadi perenungan bersama dalam mewujudkan sistem transportasi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
redaktur: jatmiko
























