Malang, Tugumalang.id-Doom: The Dark Ages menjadi entri terbaru dalam franchise FPS legendaris yang kini tampil dengan pendekatan berbeda dibanding dua pendahulunya: DOOM (2016) dan DOOM Eternal. Meski tetap solid dari sisi teknis—terbukti dari 86% ulasan positif dari lebih dari 10.000 pemain di Steam—game ini memicu perdebatan di kalangan penggemar. Banyak yang merasa arah barunya terlalu menyimpang dari fondasi yang telah dibangun sebelumnya. Artikel ini membahas apa yang membuat sebagian fans merasa tak sepenuhnya cocok dengan evolusi Doom kali ini.
Doom Versi Abad Pertengahan: Gelap, Fantastik, dan Lebih Sinematik
Alih-alih suasana futuristik penuh neon seperti di Eternal, The Dark Ages menghadirkan dunia gelap bernuansa fantasi abad pertengahan. Doom Slayer kini dilengkapi senjata seperti Shield Saw, BFC (Big Fing Crossbow)*, hingga kemampuan menunggang naga dan robot raksasa bernama Atlan.
Pendekatan ini menanggalkan gaya “sirkus senjata” khas Eternal dan memberi kebebasan lebih besar kepada pemain untuk menggunakan senjata favorit mereka tanpa harus terus berganti. Seorang pemain bernama IceReaper menyebut game ini tetap brutal dan cepat, meski terasa lebih berat dalam pergerakan. Namun, ia juga mencatat bahwa level yang lebih terbuka membuat ritme permainan terkadang terasa lepas kendali.
Narasi Lebih Dalam, Tapi Tak Semua Suka

Salah satu perubahan paling signifikan adalah pendekatan naratif yang kini lebih sinematik. The Dark Ages menghadirkan cutscene penuh dialog yang mendalami latar belakang dunia dan karakter Doom Slayer.
Bagi sebagian pemain, ini adalah penyegaran yang membuat pengalaman bermain lebih imersif. Tapi bagi fans lama, narasi yang terlalu serius justru dianggap mengganggu. “Saya tak peduli rencana perang Sentinel atau siapa yang duduk di kursi kerajaan. Saya hanya ingin menembak sesuatu,” tulis THE RTN dalam ulasannya.
Baca juga: 7 Games Google Gratis, Nomor 5 Bisa Main Tanpa Internet
Doom The Dark Ages Gameplay Lebih Aksesibel, Tapi Kurang Menggigit?
Perubahan besar juga terjadi dalam struktur gameplay. The Dark Ages terasa lebih ramah bagi pemain baru. Tak perlu lagi hafal kombinasi senjata atau berpindah senjata tiap detik. Sistem parry yang lebih longgar juga membuat aksi lebih mudah dipelajari.
Namun, inilah yang menuai kritik dari kalangan veteran. Level yang cenderung datar, eksplorasi berbasis peta, serta absennya beberapa power-up klasik membuat gameplay kehilangan tensi adrenalin khas DOOM. “Sensasi berkeringat seperti di 2016 atau Eternal hilang,” lanjut THE RTN.
Masalah Denuvo dan Kinerja Game
Di luar soal gameplay, The Dark Ages juga diwarnai isu teknis. Beberapa pemain mengeluhkan sistem DRM Denuvo yang membatasi akses meskipun game dibeli secara legal. Salah satunya, pengguna blitzfc, bahkan meminta refund karena tidak bisa melewati proses verifikasi ulang.
Sementara dari sisi performa, game ini menunjukkan lompatan visual berkat teknologi id Tech 8 dan dukungan penuh ray tracing. Di pengaturan tertinggi, The Dark Ages memang terlihat memukau—namun juga sangat menuntut spesifikasi hardware.
“Di setup Ryzen 7950X3D dan RX 7900 XTX, game ini berjalan mulus di 4K HDR,” tulis IceReaper. Tapi ia juga mengakui bahwa tuntutan spesifikasi tinggi bisa menjadi penghalang bagi sebagian besar gamer.
Baca juga: Slime Rancher 2, Dapatkan Akses Awal Perilisan Game Lucu Ini Di PC Bulan Depan
Kesimpulan: Doom yang Berevolusi, Tapi Tetap Brutal
Doom: The Dark Ages bukan sekadar lanjutan Eternal, tapi transformasi yang mencoba menjangkau audiens lebih luas. Bagi pemain baru, ini mungkin jadi pintu masuk yang ramah dan sinematik. Bagi veteran, ini adalah Doom yang terasa kurang tajam dan kehilangan sensasi tempo tinggi yang selama ini menjadi ciri khas.
Namun satu hal yang tak berubah: Doom Slayer masih mengaum, dan darah iblis tetap membanjir.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Muhammad Veri Adrianto Ivansa / Magang
redaktur: jatmiko
























