Tugumalang.id – Tidak semua yang dianggap buruk itu tidak baik, selalu ada hikmah besar yang bisa dipetik pada setiap yang disebut buruk. Begitulah kira-kira sudut pandang Gus Atho’ Lukman Hakim, Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Al-Hamid Kabupaten Malang, Jawa Timur, saat menyikapi program Xpose Uncensored di Trans7 yang dianggap menyerang kiai dan pesantren belakangan ini.
“Bagi kiai, dihina atau dicaci itu biasa-biasa saja. Bahkan jika dilihat dari sisi sufistik, kejadian ini malah bagus. Karena di balik itu semua pasti ada hikmahnya,” ujar Gus Atho’ saat diwawancarai di Universitas Al-Qolam pada 20 Oktober 2025 lalu.
Baca Juga: Pengabdian Tanpa Akhir Pesantren untuk NKRI
Namun demikian, menurutnya, kemarahan para santri terhadap tayangan televisi milik Chairul Tanjung itu tersebut wajar dan merupakan bentuk ekspresi cinta terhadap kiai dan pesantren.
“Santri yang marah itu bagus juga. Karena itu tanda cinta kepada kiai dan pesantrennya. Justru aneh kalau santri tidak marah ketika kiai dan pesantrennya diserang,” tambahnya.
Gus Atho’ juga mengingatkan agar kemarahan itu diarahkan secara visioner dan konstruktif. Para santri harus bisa beradaptasi dengan dunia yang sudah sangat berbeda ini.
“Marah boleh, tapi jangan berhenti di situ. Jadikan momentum ini untuk berpikir visioner, bagaimana pesantren dan para santri bisa memperkuat perannya dengan elegan didunia digital,” tegasnya.
Kritik Terhadap Media dan Hikmah di Baliknya
Terkait tayangan Trans7, Gus Atho’ menilai bahwa pihak stasiun televisi tidak profesional dalam kasus tersebut. Data yang diasajikan serampangan dan sama sekali tidak mendasar.
Baca Juga: Peduli Kesehatan Mental Para Santri, Fakultas Psikologi UIN Malang Luncurkan Program Goes to Pesantren
Tampak sekali orientasi media yang berfokus pada kepentingan modal dan daya tarik konten membuat mereka memilih narasi yang sensasional.
“Pelaku media harus jujur sejak dalam pikirannya dan harus punya orientasi yang luas dan mendasar tentang kebaikan, perdamaian, kemanusiaan dan kebangsaan. Jika tidak, media bisa menjadi alat keburukan, pemecah belah dan penistaan nilai-nilai keindonesiaan dan kemanusiaan ,” jelasnya.
Saat ditanya apakah dirinya marah atas tayangan tersebut, Gus Atho’ mengaku tentu saja merasa kecewa. “Marah itu pasti, tapi tidak perlu diperbesar. Yang penting kita ambil hikmahnya,” ungkapnya.
Sebagaimana diketahui, dunia pesantren tengah menjadi sorotan publik setelah tayangan program Xpose Uncensored di Trans7 menampilkan narasi yang dinilai merugikan citra pesantren.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Muhammad Jazuli (Magang)
Editor: Herlianto. A





























