Oleh: Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., CRMP., CAHRM*
Selamat Hari Santri 2025.
Santri dan Pesantren tidak bisa kita pisahkan perannya dari republik ini. Namun, akhir-akhir ini entitas yang berperan penting bagi peradaban ummat manusia ini sedang mendapatkan ujian yang tak ringan.
Tragedi robohnya bangunan di Sidoarjo beberapa waktu lalu menjadi pintu masuk banyak tudingan yang kadang tidak masuk akal: pesantren dianggap lalai, memperkerjakan anak-anak, bahkan menjadi tempat terjadinya kekerasan fisik dan seksual.
Sebagian media menggiring narasi seolah pesantren adalah lembaga tertinggal—padahal dari sinilah fondasi karakter bangsa telah ditempa selama berabad-abad.
Sebagai seorang santri, saya miris menyaksikan pembusukan citra pesantren. Kritik memang perlu, tapi bukan untuk menghapus jati diri lembaga yang telah membangun peradaban Islam Nusantara ini. Pesantren justru harus menjawab tantangan zaman—tidak dengan bertahan dalam romantisme masa lalu, tetapi dengan bertransformasi.
Melebarkan Makna Pesantren
Pesantren hari ini hidup di tengah disrupsi teknologi, kecerdasan buatan, dan krisis lingkungan. Di sisi lain, pesantren tetap dituntut menanamkan akhlakul karimah dan menjaga keteduhan batin generasi muda.
Maka, pesantren tidak bisa hanya menjadi tempat mengaji kitab dan hafalan, tetapi juga menjadi laboratorium peradaban baru—yang inklusif, digital, dan berkeadilan ekologis.
Transformasi itu bisa dimulai dari banyak pintu: penguatan kelembagaan, digitalisasi layanan, pemberdayaan ekonomi, hingga filantropi. Namun ada satu gerakan yang terasa paling mendesak sekaligus paling “islami”: eco-pesantren—pesantren yang ramah lingkungan.
Ketika Santri Menjadi Penjaga Bumi
Istilah eco-pesantren mengandung makna yang sederhana tapi revolusioner: pesantren yang peduli pada lingkungan hidup. Di sini, para santri bukan hanya menghafal ayat tentang larangan berbuat kerusakan di bumi, tapi juga mempraktikkannya.
Al-Qur’an telah memberi peringatan jelas: “Telah tampak kerusakan di darat dan laut akibat ulah tangan manusia” (QS. Ar-Rum: 41). Maka, menjaga alam sejatinya bukan sekadar kegiatan sosial, tapi bagian dari ibadah dan tafsir nyata atas ayat-ayat kauniyah.
Baca juga: Pemprov Jatim Gandeng 138 Kampus Penyelenggara Beasiswa Santri, Fokus ke Program STEM
Peran pesantren dalam isu lingkungan bukan hal kecil. Tahun 2024, Kementerian Agama mencatat ada lebih dari 42 ribu pesantren dengan lebih dari 4,6 juta santri di seluruh Indonesia. Bayangkan, jutaan orang tinggal 24 jam dalam satu ekosistem tertutup: butuh air, listrik, makanan, dan menghasilkan tumpukan sampah setiap hari.
Hampir semua pesantren menghadapi persoalan klasik: limbah organik dan non-organik. Plastik menjadi ancaman utama. Mikroplastik kini bahkan ditemukan dalam paru-paru, darah, dan air susu ibu.
Jika pesantren mampu mengubah cara berpikir dan bertindak terhadap lingkungan, maka jutaan santri bisa menjadi agen perubahan ekologis paling masif di negeri ini.
Dari Sampah ke Spiritualitas
Gerakan eco-pesantren bukan sekadar ajakan menanam pohon atau memilah sampah, tapi mengubah kesadaran hidup. Spiritnya sederhana: manusia bukan penguasa bumi, tapi khalifah yang bertugas merawatnya.
Langkah kecil yang bisa dimulai di lingkungan pesantren antara lain:
Pemilahan sampah organik dan anorganik di asrama santri.
Penerapan gaya hidup 5R: Refuse, Reduce, Reuse, Recycle, Restore.
Penghematan energi dan air melalui panel surya atau biogas.
Pembuatan Ruang Terbuka Hijau (RTH) untuk tempat tafakur dan relaksasi alam.
Di banyak pesantren, praktik seperti ini sudah mulai berjalan. Ada pesantren yang mengolah sisa makanan menjadi kompos, mengganti plastik dengan daun, dan mengajarkan santri membuat eco-brick dari limbah plastik. Aktivitas yang dulu dianggap remeh kini menjadi bagian dari pelajaran akhlak: bagaimana mencintai bumi sebagaimana mencintai Sang Pencipta.
Santri, Akademisi, dan Kolaborasi Pentahelix
Untuk membangun ekosistem eco-pesantren yang berkelanjutan, dibutuhkan kolaborasi luas: santri sebagai penggerak, kiai sebagai inisiator nilai, akademisi sebagai pendamping, pemerintah sebagai fasilitator, dan media sebagai penguat narasi. Inilah konsep pentahelix—sinergi antara lima unsur untuk perubahan sosial yang nyata.
Perguruan tinggi, misalnya, bisa menempatkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) di pesantren untuk mendampingi manajemen sampah, konservasi air, atau pelatihan energi terbarukan. Pemerintah daerah bisa mendukung dengan program sanitasi dan insentif lingkungan. Dunia industri bisa menjadi mitra dengan CSR berorientasi hijau.
Baca juga: Peringati Hari Santri 2025, Wali Kota Malang Ajak Santri Jadi Motor Pembangunan Perdaban Dunia
Gerakan ini hanya akan hidup jika dimotori oleh tim inti di tiap pesantren: inisiator, aktivator, dan mobilisator.
Inisiator memikirkan ide dan perencanaan.
Aktivator mengatur kampanye dan promosi nilai-nilai hijau.
Mobilisator menggerakkan praktik nyata: dari memilah sampah hingga menanam pohon.
Ketiganya membentuk jantung perubahan: santri yang sadar bahwa menjaga lingkungan sama pentingnya dengan menjaga iman.
Pesantren sebagai Oase Baru
Dalam banyak hal, pesantren telah menjadi tempat “penyembuhan sosial” — dari dekadensi moral, kesenjangan ekonomi, hingga krisis spiritual. Kini, pesantren juga bisa menjadi penyembuh bumi.
Model eco-pesantren bukan sekadar tren hijau, tapi bagian dari maqashid syariah: menjaga jiwa (hifdzun nafs), harta (hifdzul mal), keturunan (hifdzun nasl), agama (hifdzud din), dan akal (hifdzul aql). Semua tujuan itu hanya bisa dicapai dalam lingkungan yang sehat dan lestari.
Maka, menjaga alam bukan hanya tanggung jawab ekologis, tapi juga spiritual. Alam yang lestari adalah bagian dari ibadah. Setiap daun yang tumbuh, setiap air yang jernih, adalah zikir dalam bentuk lain.
Pesantren harus menjadi teladan dalam hal ini—bukan hanya tempat mengaji, tetapi tempat belajar mencintai bumi. Karena pada akhirnya, bumi inilah pesantren terbesar yang Allah ciptakan untuk kita belajar menjadi manusia seutuhnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
*Penulis adalah Guru Besar dan Rektor UIN Maliki Malang.
redaktur: jatmiko





























