Sabtu, Mei 30, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Catatan

Pesantren Hijau, Jalan Baru Peradaban Santri

Redaksi by Redaksi
Oktober 22, 2025 6:59 pm
in Catatan
Hari santri

Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., CRMP., CAHRM

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., CRMP., CAHRM*

Selamat Hari Santri 2025.

READ ALSO

Menolak Kolaborasi Sesat: Refleksi Lempar Jumrah dan Krisis Integritas di Era Modern

Hari Kebangkitan Nasional, Refleksi Ketua PP ISNU, Zainal Habib: Saatnya Bebas dari Algoritma

Santri dan Pesantren tidak bisa kita pisahkan perannya dari republik ini. Namun, akhir-akhir ini entitas yang berperan penting bagi peradaban ummat manusia ini sedang mendapatkan ujian yang tak ringan.

Tragedi robohnya bangunan di Sidoarjo beberapa waktu lalu menjadi pintu masuk banyak tudingan yang kadang tidak masuk akal: pesantren dianggap lalai, memperkerjakan anak-anak, bahkan menjadi tempat terjadinya kekerasan fisik dan seksual.

Sebagian media menggiring narasi seolah pesantren adalah lembaga tertinggal—padahal dari sinilah fondasi karakter bangsa telah ditempa selama berabad-abad.

Sebagai seorang santri, saya miris menyaksikan pembusukan citra pesantren. Kritik memang perlu, tapi bukan untuk menghapus jati diri lembaga yang telah membangun peradaban Islam Nusantara ini. Pesantren justru harus menjawab tantangan zaman—tidak dengan bertahan dalam romantisme masa lalu, tetapi dengan bertransformasi.

Melebarkan Makna Pesantren

Pesantren hari ini hidup di tengah disrupsi teknologi, kecerdasan buatan, dan krisis lingkungan. Di sisi lain, pesantren tetap dituntut menanamkan akhlakul karimah dan menjaga keteduhan batin generasi muda.

Maka, pesantren tidak bisa hanya menjadi tempat mengaji kitab dan hafalan, tetapi juga menjadi laboratorium peradaban baru—yang inklusif, digital, dan berkeadilan ekologis.
Transformasi itu bisa dimulai dari banyak pintu: penguatan kelembagaan, digitalisasi layanan, pemberdayaan ekonomi, hingga filantropi. Namun ada satu gerakan yang terasa paling mendesak sekaligus paling “islami”: eco-pesantren—pesantren yang ramah lingkungan.

Ketika Santri Menjadi Penjaga Bumi

Istilah eco-pesantren mengandung makna yang sederhana tapi revolusioner: pesantren yang peduli pada lingkungan hidup. Di sini, para santri bukan hanya menghafal ayat tentang larangan berbuat kerusakan di bumi, tapi juga mempraktikkannya.

Al-Qur’an telah memberi peringatan jelas: “Telah tampak kerusakan di darat dan laut akibat ulah tangan manusia” (QS. Ar-Rum: 41). Maka, menjaga alam sejatinya bukan sekadar kegiatan sosial, tapi bagian dari ibadah dan tafsir nyata atas ayat-ayat kauniyah.

Baca juga: Pemprov Jatim Gandeng 138 Kampus Penyelenggara Beasiswa Santri, Fokus ke Program STEM

Peran pesantren dalam isu lingkungan bukan hal kecil. Tahun 2024, Kementerian Agama mencatat ada lebih dari 42 ribu pesantren dengan lebih dari 4,6 juta santri di seluruh Indonesia. Bayangkan, jutaan orang tinggal 24 jam dalam satu ekosistem tertutup: butuh air, listrik, makanan, dan menghasilkan tumpukan sampah setiap hari.

Hampir semua pesantren menghadapi persoalan klasik: limbah organik dan non-organik. Plastik menjadi ancaman utama. Mikroplastik kini bahkan ditemukan dalam paru-paru, darah, dan air susu ibu.
Jika pesantren mampu mengubah cara berpikir dan bertindak terhadap lingkungan, maka jutaan santri bisa menjadi agen perubahan ekologis paling masif di negeri ini.

Dari Sampah ke Spiritualitas
Gerakan eco-pesantren bukan sekadar ajakan menanam pohon atau memilah sampah, tapi mengubah kesadaran hidup. Spiritnya sederhana: manusia bukan penguasa bumi, tapi khalifah yang bertugas merawatnya.

Langkah kecil yang bisa dimulai di lingkungan pesantren antara lain:

  • Pemilahan sampah organik dan anorganik di asrama santri.

  • Penerapan gaya hidup 5R: Refuse, Reduce, Reuse, Recycle, Restore.

  • Penghematan energi dan air melalui panel surya atau biogas.

  • Pembuatan Ruang Terbuka Hijau (RTH) untuk tempat tafakur dan relaksasi alam.

Di banyak pesantren, praktik seperti ini sudah mulai berjalan. Ada pesantren yang mengolah sisa makanan menjadi kompos, mengganti plastik dengan daun, dan mengajarkan santri membuat eco-brick dari limbah plastik. Aktivitas yang dulu dianggap remeh kini menjadi bagian dari pelajaran akhlak: bagaimana mencintai bumi sebagaimana mencintai Sang Pencipta.

Santri, Akademisi, dan Kolaborasi Pentahelix

Untuk membangun ekosistem eco-pesantren yang berkelanjutan, dibutuhkan kolaborasi luas: santri sebagai penggerak, kiai sebagai inisiator nilai, akademisi sebagai pendamping, pemerintah sebagai fasilitator, dan media sebagai penguat narasi. Inilah konsep pentahelix—sinergi antara lima unsur untuk perubahan sosial yang nyata.

Perguruan tinggi, misalnya, bisa menempatkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) di pesantren untuk mendampingi manajemen sampah, konservasi air, atau pelatihan energi terbarukan. Pemerintah daerah bisa mendukung dengan program sanitasi dan insentif lingkungan. Dunia industri bisa menjadi mitra dengan CSR berorientasi hijau.

Baca juga: Peringati Hari Santri 2025, Wali Kota Malang Ajak Santri Jadi Motor Pembangunan Perdaban Dunia

Gerakan ini hanya akan hidup jika dimotori oleh tim inti di tiap pesantren: inisiator, aktivator, dan mobilisator.

Inisiator memikirkan ide dan perencanaan.
Aktivator mengatur kampanye dan promosi nilai-nilai hijau.

Mobilisator menggerakkan praktik nyata: dari memilah sampah hingga menanam pohon.
Ketiganya membentuk jantung perubahan: santri yang sadar bahwa menjaga lingkungan sama pentingnya dengan menjaga iman.

Pesantren sebagai Oase Baru

Dalam banyak hal, pesantren telah menjadi tempat “penyembuhan sosial” — dari dekadensi moral, kesenjangan ekonomi, hingga krisis spiritual. Kini, pesantren juga bisa menjadi penyembuh bumi.

Model eco-pesantren bukan sekadar tren hijau, tapi bagian dari maqashid syariah: menjaga jiwa (hifdzun nafs), harta (hifdzul mal), keturunan (hifdzun nasl), agama (hifdzud din), dan akal (hifdzul aql). Semua tujuan itu hanya bisa dicapai dalam lingkungan yang sehat dan lestari.

Maka, menjaga alam bukan hanya tanggung jawab ekologis, tapi juga spiritual. Alam yang lestari adalah bagian dari ibadah. Setiap daun yang tumbuh, setiap air yang jernih, adalah zikir dalam bentuk lain.

Pesantren harus menjadi teladan dalam hal ini—bukan hanya tempat mengaji, tetapi tempat belajar mencintai bumi. Karena pada akhirnya, bumi inilah pesantren terbesar yang Allah ciptakan untuk kita belajar menjadi manusia seutuhnya.

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

*Penulis adalah Guru Besar dan Rektor UIN Maliki Malang.

redaktur: jatmiko

Related Posts

Abdul Hamid. Foto/dok
Catatan

Menolak Kolaborasi Sesat: Refleksi Lempar Jumrah dan Krisis Integritas di Era Modern

Selasa, 26 Mei 2026
Momentum Hari Kebangkitan Nasional, refleksi Ketua PP ISNU, Zainal Habib tentang kedaulatan algoritma di era digital. /Foto: Dok. Istimewa.
Catatan

Hari Kebangkitan Nasional, Refleksi Ketua PP ISNU, Zainal Habib: Saatnya Bebas dari Algoritma

Rabu, 20 Mei 2026
Tiko Ari. Foto/dok
Catatan

Hari Kebangkitan Nasional dan Tantangan Nyata Pekerja Indonesia di Tengah Perubahan Zaman

Rabu, 20 Mei 2026
Agama
Catatan

Ketika Ilmu Dipisahkan dari Agama (1)

Selasa, 19 Mei 2026
Prophetic Intelligence
Catatan

Prophetic Intelligence: Menyatukan Ideologi dan Strategi Politik PKB di Era Gen Z

Selasa, 12 Mei 2026
Sains dan Agama
Catatan

Paradigma Baru: Mengakhiri “Perang Dingin” antara Sains dan Agama

Minggu, 10 Mei 2026
Next Post
Implementasi Program Light Up The Dream

Implementasi Program Light Up The Dream, PLN Pasang Listrik Gratis untuk Warga Malang

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemkab Malang Targetkan Bongkar Ratoon di Lahan 7.500 Hektare Tahun Ini

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Malang PSI Tancap Gas Perkuat Akar Partai, 84 Ribu Bendera Disebar di Jatim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam Seribu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.