Malang, Tugumalang.id – Pengalaman melihat teman sebaya terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba membuat Sayyaf Azzam, remaja berusia 15 tahun, memiliki kepedulian terhadap persoalan tersebut.
Siswa kelas X SMA Negeri 3 Malang itu memandang penyalahgunaan narkoba sebagai persoalan yang berakar dari lingkungan, keluarga, hingga kebutuhan seseorang untuk didengarkan.
Kepedulian tersebut mengantarkan Azzam menjadi salah satu finalis Duta Pelajar Anti Narkoba dari Jawa Timur. Melalui ajang itu, dia ingin menghadirkan pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan anak muda, yakni pendampingan melalui teman sebaya.
“Saya melihat, teman dari teman saya sempat terjerat narkoba. Sangat disayangkan karena di umur yang harusnya fokus belajar dan mengejar cita-cita, mereka malah terhalang dan terjerumus dalam hal yang tidak baik,” ujarnya kepada Tugu Malang ID, beberapa waktu lalu.
Ingin Menjadi Teman bagi Mereka yang Kehilangan Arah
Salah satu motivasinya mengikuti ajang Duta Pelajar Anti Narkoba adalah menghadirkan program pendampingan sebaya atau peer mentoring. Melalui program tersebut, remaja diharapkan memiliki ruang untuk bercerita, berbagi persoalan, sekaligus mendapatkan arahan yang tepat.
Baginya, pendekatan antinarkoba tidak cukup hanya dilakukan melalui penyampaian larangan. Anak muda juga membutuhkan lingkungan yang mendukung agar tidak merasa sendirian ketika menghadapi masalah.
“Melalui mentor sebaya, kami bisa mendengarkan cerita dari teman-teman sebaya. Lalu guru dan pihak lainnya juga bisa membantu mengarahkan,” jelasnya.
Baca juga: Racha Atha dan Revinda Mauliatiz Terpilih Jadi Duta Anti Narkoba Kabupaten Malang
Gagasan tersebut tidak lepas dari pengalaman pribadinya. Azzam mengaku pernah menjadi korban perundungan ketika masih kecil. Pengalaman itu membuatnya memahami pentingnya memiliki seseorang yang bisa dipercaya untuk berbagi cerita.
Berawal dari Perundungan, Berujung pada Dua Buku
Jauh sebelum mengikuti ajang Duta Pelajar Anti Narkoba, Azzam telah lebih dahulu menekuni dunia kepenulisan. Menariknya, dia mengaku awalnya bukan anak yang gemar menulis.
Perjalanan itu bermula ketika masih duduk di bangku kelas IV sekolah dasar. Suatu hari, ayah Azzam, drh Puguh Wiji Pamungkas, yang merupakan anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, mengajaknya menghadiri sebuah kajian.
Meski sempat enggan karena sudah memiliki rencana bermain bersama teman-temannya, Azzam akhirnya mengikuti ajakan tersebut. Pengalaman itu menjadi titik balik dalam hidupnya.
Sepulang dari kajian, dia mulai mempertanyakan mengapa orang-orang hebat memiliki buku atau karya yang bisa dikenang.
Baca juga: Pendidikan Anti Kekerasan, Bullying hingga Narkoba Warnai 2 Pekan Masa MPPLS Ponpes Al-Izzah Kota Batu
Pertanyaan sederhana tersebut kemudian mendorong sang ayah mengajaknya berdiskusi lebih kritis. Dari percakapan-percakapan itu, minat Azzam terhadap dunia literasi mulai tumbuh.
Dia kemudian memulai kebiasaan menulis melalui Facebook. Setiap hari, sebelum berangkat sekolah, Azzam berusaha konsisten menuangkan gagasannya dalam tulisan.
“Dari situ saya tertarik membuat buku,” kenangnya.
Kebiasaan menulis itu berlangsung selama beberapa waktu hingga akhirnya dia berhasil menerbitkan buku pertama berjudul Abik My Hero ketika masih duduk di kelas VI SD. Buku tersebut banyak terinspirasi dari sosok sang ayah yang dianggapnya sebagai pahlawan.
Perjalanannya sebagai penulis berlanjut ketika duduk di kelas I SMP. Dia menerbitkan buku kedua berjudul Lesson from Greatness in the World. Melalui buku tersebut, Azzam ingin memperkenalkan tokoh-tokoh dunia, termasuk ilmuwan yang mungkin belum banyak dikenal masyarakat.
Membagi Waktu dengan Skala Prioritas
Di usianya yang masih 15 tahun, Azzam tidak hanya disibukkan dengan kegiatan sekolah dan persiapan Duta Pelajar Anti Narkoba. Dia juga tengah mempersiapkan diri mengikuti Olimpiade Sains Nasional bidang Biologi (OSN Biologi) pada tahun mendatang.
Berbagai aktivitas tersebut membuatnya harus cermat mengatur waktu. Dia mengaku kerap menghabiskan waktu hingga malam untuk menyelesaikan tugas dan mempersiapkan berbagai kegiatan.
Salah satu caranya adalah menyusun skala prioritas berdasarkan tingkat kepentingan dan urgensi. Azzam membagi aktivitasnya ke dalam empat kuadran, mulai dari pekerjaan yang penting dan mendesak, penting tetapi tidak mendesak, hingga aktivitas yang tidak terlalu mendesak.
“Saya bikin skala prioritas terlebih dahulu. Mana yang penting, mana yang mendesak, mana yang penting tapi tidak mendesak, dan mana yang tidak mendesak sama sekali. Dari saya aku bisa menentukan hari ini harus melakukan apa,” ungkapnya.
Kemampuannya mengatur waktu juga didukung keluarga dan sekolah. Kedua orang tuanya mendukung keputusannya mengikuti ajang tersebut. Dukungan juga datang dari pihak sekolah, terutama guru bimbingan konseling (BK), yang memberikan semangat setelah mengetahui dirinya lolos sebagai finalis.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
redaktur: jatmiko





































