Jumat, Oktober 16, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Insight

Jejak Sufistik Surya dan Sjenny

Redaksi by Redaksi
Oktober 16, 2026 8:43 am
in Insight
Jejak Sufistik Surya dan Sjenny

Surya dan Sjenny. Foto/dok

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Narudin Pituin

Tugumalang.id – Sebagai seorang penulis dan kritikus sastra yang membedah lembar demi lembar perjalanan kreatif dalam buku 50 Tahun Perjalanan Kasih Surya dan Sjenny (1976-2026), saya menyadari bahwa karya ini bukanlah sekadar dokumentasi romantisme pernikahan emas selama setengah abad.

READ ALSO

Film Anak Malang Tembus Panggung Internasional

KH Abdullah Amiin, Perintis Pendidikan Islam dan Penggerak NU di Urek-Urek Gondanglegi

Dalam kacamata tasawuf, teks autobiografis, prosa liris, dan puisi di dalamnya menjelma menjadi sebuah hikayat tentang perjalanan ruhani (safar al-qulub).

Sebagaimana ditegaskan oleh Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulum Al-Din, hati manusia ibarat cermin; jika ia dibersihkan dari debu duniawi melalui zikir dan tobat, ia akan memantulkan cahaya Ilahi. Surya dan Sjenny merefleksikan cermin hati yang bersih itu melalui kesetiaan yang diuji oleh waktu.

Baca Juga: Membaca Sastra 50 Tahun Surya dan Sjenny

Dalam pembacaan sufistik yang saya lakukan, waktu senja yang kerap dinarasikan oleh Surya bukanlah simbol kelemahan, melainkan manifestasi dari fana — peleburan ego personal menuju kesadaran kosmik bahwa segala sesuatu akan kembali kepada Sang Pencipta.

Hal ini sejalan dengan pandangan teoretis Ibnu Taimiyah dalam kerangka akidah Islam yang murni, di mana amal perbuatan manusia tidak memiliki nilai hakiki kecuali jika disandarkan pada keikhlasan mutlak dan kepasrahan total kepada takdir Allah Swt. Jika fana dimaknai sebagai keikhlasan dan tawakal, maka ia sejalan dengan penekanan Ibnu Taimiyah tersebut.

Perjalanan Surya melintasi batas-batas geografis dunia — dari Nusantara hingga Malaysia, Inggris, hingga Jepang — bukanlah ekspansi ambisi duniawi, melainkan sebuah bentuk perjalanan untuk mencari ilmu (rihlah ilmiyah) dan manifestasi risalah kekhalifahan di muka bumi.

Baca Juga: Penuh Kesan dan Menginspirasi, Tasyakuran Pernikahan 50 Tahun Surya Burhanuddin dan Sjenny Jamain

Saya secara jeli menangkap esensi puitis ini dengan menyejajarkan gaya kepengarangan Surya dengan tradisi prosa liris Imam Al-Ghazali. Ketika Surya merumuskan filsafat hidupnya melalui metafora “kebun durian” — di mana duri kesusahan menyembunyikan manisnya ilmu dan keberkahan — ia sedang mengajarkan konsep sabar dan syukur secara aplikatif.

Tasawuf tidak mengajarkan umatnya untuk lari dari dunia, melainkan hadir di tengah carut-marut kehidupan sosial untuk menjadi “cahaya bagi sesama”. Konsep filantropi pendidikan yang mengantarkan lebih dari 700 generasi muda menembus pendidikan global adalah bentuk nyata dari amal jariyah, di mana tangan kanan memberi tanpa membiarkan tangan kiri mengetahuinya.

Ibnu Taimiyah dalam berbagai risalahnya sering mengingatkan pentingnya menempatkan akal dan ikhtiar di bawah bimbingan syariat serta orientasi kemaslahatan umat.

Surya mempraktikkan pandangan ini tatkala ia memandang bahwa keberhasilan tertinggi bukanlah seberapa banyak harta yang digenggam, melainkan seberapa besar kemampuan seseorang untuk memerdekakan pikiran orang lain dari belenggu kebodohan.

Puisi-puisi yang saya analisis dalam buku ini, seperti “Filosofi Kehidupan”, mempertegas bahwa ikhtiar insaniah harus selalu diiringi dengan kepasrahan total kepada kehendak Allah (la hawla wala quwwata illa billah).

Akhirnya, ulasan sastra yang saya hadirkan menegaskan bahwa buku 50 Tahun Perjalanan Kasih Surya dan Sjenny adalah sebuah monumen kemanusiaan. Perjalanan 50 tahun ini mengajarkan kepada kita bahwa cinta sejati dan pengabdian sosial yang tulus adalah kendaraan paling ampuh untuk mendekatkan diri kepada Sang Khalik, menitiskan kedamaian jiwa di usia senja, dan meninggalkan warisan abadi bagi peradaban. (*)

 

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Editor: Herlianto. A

Tags: SufistikSurya dan Sjenny

Related Posts

Herlambang Hashemi yang membuat film anak malang tembus ke panggung internasional. Foto/M Sholeh
Insight

Film Anak Malang Tembus Panggung Internasional

Kamis, 15 Okt 2026
KH Abdullah Amiin. Foto: dok. keluarga
Insight

KH Abdullah Amiin, Perintis Pendidikan Islam dan Penggerak NU di Urek-Urek Gondanglegi

Rabu, 14 Okt 2026
Prof Khudori Sholeh dan Kebiasaan Wirid Membaca Al-Qur’an Setiap Hari
Insight

Prof Khudori Sholeh dan Kebiasaan Wirid Membaca Al-Qur’an Setiap Hari

Selasa, 13 Okt 2026
Lansia 76 tahun di Malang terbitkan Buku “50 Tahun Perjalanan Kasih Surya & Sjenny”, pada April 2026, Sastrawan Narudin Pituin Terbitkan Buku kritik “Membaca Sastra 50 Tahun Surya & Sjenny”
Insight

Lansia 76 tahun di Malang terbitkan Buku “50 Tahun Perjalanan Kasih Surya & Sjenny”, pada April 2026, Sastrawan Narudin Pituin Terbitkan Buku kritik “Membaca Sastra 50 Tahun Surya & Sjenny”

Jumat, 9 Okt 2026
Cerita Lansia di Malang, Yang Bersyukur 4 Cucunya Bisa Berpendidikan di Luar Negeri Mulai Inggris, Jepang, hingga Malaysia
Insight

Cerita Lansia di Malang, Yang Bersyukur 4 Cucunya Bisa Berpendidikan di Luar Negeri Mulai Inggris, Jepang, hingga Malaysia

Kamis, 8 Okt 2026
Dari Gerobak Kayu ke Tanah Suci, Kisah Perjuangan Umrah Lansia Asal Batu Bareng Chatour Travel
Insight

Dari Gerobak Kayu ke Tanah Suci, Kisah Perjuangan Umrah Lansia Asal Batu Bareng Chatour Travel

Kamis, 1 Okt 2026
Next Post
Tingkatkan Kualitas, FKIP Unisma Berikan Pemahaman tentang Case Method dan Project Based Learning

Tingkatkan Kualitas, FKIP Unisma Berikan Pemahaman tentang Case Method dan Project Based Learning

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Makeup Look Korean Ulzzang, Japanese Igari, dan Chinese Douyin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam Seribu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 10042026 1
Iklan10032026
21440510 796c 4a78 A1cd 0e5e0bd76582
8de19c4a 6fa9 471a 91a6 756e384f3221
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.