Tugumalang.id – Buku berjudul 50 Tahun Perjalanan Kasih Surya dan Sjenny (1976-2026), karya Surya Burhanuddin, dibedah dan mendapat kritik tajam dari sastrawan nasional. Menariknya, kritik itu diberikan dalam bentuk buku yang berjudul Membaca Sastra 50 Tahun Surya & Sjenny yang baru terbit Agustus tahun 2026 ini.
Dalam buku autobiografinya, Surya Burhanuddin yang tinggal di daerah kawasan Villa Puncak Tidar, Malang, merangkum perjalanan kasih, karir hingga pengabdian selama 50 tahun bersama istri tercinta, yakni Sjenny Djamain.
Baca Juga: ITN Malang Kawal Dokumen Perencanaan Pengadaan Tanah Wisata dan Akses Perkantoran di Mahakam Ulu
Buku setebal 356 halaman itu diluncurkan tepat di syukuran setengah abad perjalanan cinta Surya Burhanuddin dan Sjenny Djamain pada Mei 2026 lalu di Jakarta.
Buku itu tak hanya mengisahkan perjalanan rumah tangganya selama lima dekade. Tetapi juga merekam perjalanan karier 32 tahun di PT Pupuk Sriwidjaja hingga 30 tahun pengalamannya menuntun generasi muda Indonesia menempuh pendidikan di luar negeri.
Buku itu kemudian direspons langsung oleh Narudin Pituin, sastrawan nasional yang mumpuni dalam bidang sastra dan terkenal aktif dan tajam dalam memberikan kritik sastra secara akademis.
Tak main-main, Narudin Pituin merespons buku itu dengan melahirkan karya buku berjudul Membaca Sastra 50 Tahun Surya & Sjenny.
Baca Juga: Penuh Kesan dan Menginspirasi, Tasyakuran Pernikahan 50 Tahun Surya Burhanuddin dan Sjenny Jamain
Dalam buku itu, Narudin Pituin mengakui bahwa, Surya Burhanuddin dengan kapasitasnya yang membuahkan karya yang padat dengan muatan sastra, sudah boleh dikatakan masuk golongan penyair atau sastrawan. Pengakuan itu tak hanya berdasarkan kata, tetapi juga kajian akademis mendalam terhadap karya sastra Surya Burhanuddin.
Merespons buku karya Narudin Pituin, Surya mengaku tak menduga bahwa buku autobiografinya akan dibedah langsung oleh sastrawan yang aktif di bidang kritik akademis buku-buku sastra nasional dan internasional.
“Saya ndak menduga bahwa buku saya akan dibedah oleh sosok sastrawan tanah air, yang sudah memiliki reputasi baik nasional maupun internasional. Kita tahu bahwa beliau adalah sastrawan kritis yang enerjik. Setelah membaca buku saya, langsung beliau memberikan kritik lewat karya yang berupa buku sastra setebal 228 halaman,” ungkapnya, Kamis (8/10/2026).
Menurutnya, Narudin Pituin memberikan pandangan pandangan akademik yang benar-benar kritis untuk buku yang ia tulis itu. Meski begitu, ia sangat mengapresiasi akan hal ini. Sebab, karya Narudin Pituin tak sekedar soal penilaian, tetapi juga soal kritikan yang membangun. Bahkan mendorong banyak orang untuk membaca bukunya.
Narudin Pituin juga memberikan penilaian bahwa buku karya Surya memiliki prosa kata yang segar dan baru, bahkan belum ada di buku sastra lain. Surya yang kini berusia 76 tahun itu dinilai merupakan sastrawan yang patut diteladani. Baik soal rekam jejak karirnya maupun karyanya.
“Saya kebetulan belum pernah ketemu sekalipun dan belum mengenal secara langsung, sosok Narudin Pituin. Tentu saya sangat kaget waktu buku saya kirimkan dan beliau membuat kritik yang sedemikian positif. Sementara beberapa sastrawan lain banyak meragukan, akan muncul kritik-kritik negatif,” ucapnya.
“Jadi saya terima kasih banyak kepada sosok Narudin Pituin, sastrawan muda tanah air yang cukup memiliki kapasitas keilmuan yang mumpuni,” tandasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Editor: Herlianto. A


















