Malang, Tugumalang.id – Tidak banyak orang yang tekun, terlebih dalam menjalani jalan yang telah dipilih. Prof Khudori Sholeh adalah bagian dari sedikit orang itu.
Saat saya baru masuk kuliah S1 pada 2008 silam, lalu kembali menempuh S2 di fakultas dan kampus yang sama pada 2026, ada satu hal yang tidak berubah dari Prof Khudori, yakni ketekunannya terhadap ilmu dan pengetahuan.
Wajahnya juga tidak banyak berubah. Cara beliau berargumen, berjalan, dan berpakaian nyaris sama. Begitu pula ketekunannya dalam dunia akademik, mulai membaca, menulis, hingga meneliti.
Saya masih ingat betul saat perkuliahan S1, mungkin pada 2009. Sambil berdiri, beliau kira-kira mengatakan begini: dunia semakin kompetitif, kita harus rajin membaca. Kalau tidak rajin membaca, bagaimana kita bisa bersaing?
Beliau juga menceritakan kebiasaannya membaca sejumlah buku setiap bulan, mungkin sekitar empat hingga lima buku. Saya tidak tahu persis jumlahnya. Yang jelas, waktu itu beliau membaca banyak buku setiap bulan.
Beliau menyebut jumlah buku yang dibacanya tentu agar para mahasiswa juga rajin membaca.
Beberapa pekan lalu, setelah berselang sekitar 17 tahun, Prof Khudori kembali menyampaikan ketekunannya dalam dunia akademik. Kali ini bukan soal membaca, melainkan menulis jurnal.
Baca juga: Perkuat Jejaring Kolaborasi Internasional, UIN Malang Tekankan Moderasi Beragama
Bagi beliau, menulis adalah hiburan. Menulis juga menjadi jalan ninja bagi seorang akademisi.
“Kita harus mencintai apa yang kita lakukan, dan harus enjoy. Dan menulis sudah menjadi hiburan saya. Bagi dosen, menulis harus menjadi hiburan,” kata Prof Khudori.

Beliau termasuk produktif menulis jurnal. Umumnya, beliau tidak mau menulis di jurnal berbayar, termasuk jurnal Scopus Q1 dan Q2.
“Saya kira tidak masuk logika, kita sudah capek nulis, meneliti, kok masih disuruh bayar. Tapi kalau kalian punya banyak uang mau bayar agar diterbitkan, ya silakan,” kata Prof Khudori.
Ketekunan Prof Khudori Sholeh di Dunia Akademik
Sebagai dosen studi Islam, Prof Khudori tentu sangat mahir dalam ilmu Al-Qur’an. Ilmu inilah yang beliau ajarkan kepada kami di S2.
Perkuliahan berlangsung setiap Senin, awal pekan, pukul 08.10. Ini menjadi jadwal kuliah paling pagi bagi kami. Kesibukan pada awal pekan akhir-akhir ini pun semakin terasa dengan adanya perkuliahan tersebut.
Meski cukup menyita energi di awal pekan, kuliah Prof Khudori cukup mengasyikkan. Penyampaiannya tidak tekstual. Ada keluasan ilmu dan wawasan yang beliau hadirkan dalam setiap perkuliahan.
Selain memahami ilmu Al-Qur’an beserta berbagai penjelasannya, pria yang juga mengasuh Pesantren Mahasiswi Al Azkiya’, Merjosari, Kota Malang, ini ternyata rajin membaca Al-Qur’an. Membaca kalamullah sudah menjadi wirid atau aktivitas kesehariannya.
Senin pagi (12/10/2026), saat mengajar, beliau menjelaskan bahwa seseorang akan dikumpulkan dengan orang yang memiliki frekuensi sama. Orang baik akan berkumpul dengan orang baik. Begitu pula sebaliknya.
“Makanya kalau Anda ingin suami yang baik, maka perbaiki diri Anda dulu,” kata Prof Khudori kepada para mahasiswi di kelas, yang kebetulan memang banyak belum menikah.
Baca juga:
Setelah itu, beliau mencontohkan dirinya yang sering bertemu dengan orang-orang yang memiliki wirid membaca Al-Qur’an. Kebetulan, Prof Khudori terbiasa membaca satu juz Al-Qur’an dalam sehari.
“Sehingga dalam satu bulan, khatam satu kali,” katanya.
“Saya sering sekali mimpi Gus Baha, beliau kan suka Al-Qur’an, mungkin karena itu. Pernah mimpi Gus Baha, foto bareng, yang motret Gus Kautsar,” kata beliau.
Wirid Membaca Al-Qur’an dan Pertemuan dengan Orang Baik
Prof Khudori ingin menyampaikan bahwa jika ingin bertemu dengan orang-orang yang gemar membaca Al-Qur’an, biasakanlah membaca kitab suci itu setiap hari. Jadikan sebagai rutinitas. Terlebih, membaca Al-Qur’an memiliki banyak manfaat.
Apa yang disampaikan Prof Khudori ini mengingatkan saya pada pesan guru saya, Habib Ismail dari Gresik. Suatu ketika, beliau mengatakan, “Kalau ente tidak baca Al-Qur’an, mungkin kita tidak ketemu, ada semacam hijab begitu, yang tak terlihat,” kata beliau.
Saya kemudian mengecek Al-Qur’an. Hijab tersebut mungkin merujuk pada istilah hijaban masturo, yakni penghalang yang tertutup.
Baca juga: Fakultas Psikologi UIN Malang Benchmarking ke Unpad, Perkuat Laboratorium dan Pembelajaran Teknologi
Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Isra’ ayat 45 yang kurang lebih artinya:
Apabila engkau (Nabi Muhammad) membaca Al-Qur’an, Kami adakan suatu tabir yang tertutup antara engkau dan orang-orang yang tidak beriman pada kehidupan akhirat.
Jadi, ayo kita biasakan membaca Al-Qur’an setiap hari.
Apa yang disampaikan Prof Khudori Senin pagi itu begitu berkesan. Kesan tersebut semakin lengkap karena perkuliahan pagi itu berlangsung dengan lengkap. Seluruh anggota angkatan kami, sebanyak 12 orang, hadir semua.
Hal seperti ini sangat jarang terjadi. Kadang ada saja yang absen. Karena itulah, pagi itu kami berfoto bersama. Cekrek.
Semoga hari-hari kami selalu penuh dengan kesan yang baik. Amin.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
redaktur: jatmiko


















