Tugumalang.id – Rektor Universitas Brawijaya (Rektor UB), Prof Widodo mengkritisi Danantara University yang baru-baru ini diluncurkan. Pasalnya, pemerintah berencana menggandeng kampus top luar negeri asal China hingga Amerika untuk mengembangkan Danantara University.
Widodo mengatakan bahwa pemerintah harusnya fokus mengembangkan Danantara untuk menciptakan ekosistem industri yang progresif di Indonesia. Baginya, industrialisasi adalah kunci pertumbuhan ekonomi nasional.
“Harusnya Danantara digunakan untuk meningkatkan kualitas SDM dan ekosistem industri. Industri tak akan pernah maju kalau masih berdiri sendiri sendiri tanpa ekosistem yang baik,” ucapnya.
Baca Juga: Universitas Brawijaya Temukan Mikroalga Baru: 2 Genus dan 7 Spesies Perairan Nusantara
Ekosistem industri menurutnya bisa mencakup pemetaan industri mitra pendukung, pengelolaan bahan baku hingga regulasi yang memudahkan bisnis di Indonesia.
Ia menegaskan bahwa roodmap industrialisasi Indonesia harus benar-benar bisa diciptakan lewat keberadaan Danantara. Dari pada sibuk mencari gagasan pengembangan Danantara University dari SDM kampus luar negeri, Widodo menyebut potensi akademisi tanah air masih melimpah.
“Perguruan tinggi di Indonesia ini udah banyak, orang pintarnya banyak. Tapi orang pintar di Indonesia belum terhimpun untuk melakukan riset yang hitech atau riset untuk industri. Karena industri di Indonesia hampir gak ada risetnya. RnDnya rata-rata dikerjakan di luar,” bebernya.
Baca Juga: Tak Perlu Khawatir! Ini Daftar Beasiswa Universitas Brawijaya Tahun 2025/2026
Ia menyarankan, Danantara University melibatkan SDM akademisi dari Indonesia. Hal ini juga bisa menjadi wadah memajukan pendidikan yang terarah di Indonesia.
“Kalau itu tidak ada maka sebenarnya ada missing link antara dunia industri dengan pendidikan Indonesia. Kalau itu tak disambung ya gan akan pernah nyambung pendidikan kita,” urainya.
Baginya, langkah pengembangan Danantara dengan menggandeng kampus luar negeri akan mencederai kampus kampus tanah air. Akademisi akademisi hebat menurutnya akan terabikan.
“Orang orang hebat dalam negeri gak dipakai, pakainya dari luar negeri. Kerja sama dengan universitas top dunia, berarti kan gak memandang universitas dalam negeri bagus,” tegasnya.
“ITB kurang bagus apa, lalu ada UI, IPB. Kalau gak mau UB kan ITB bagus orang orangnya, UI, IPB bahkan UGM. Tapi mengandeng perguruan tinggi luar negeri. Kalau ini dilakukan terus menerus missing link, pendidikan kita gak akan pernah maju juga,” tandasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: M Sholeh
Editor: Herlianto. A





























