Tugumalang.id – Hingga kini, proyek Geotermal atau pemanfaatan energi panas bumi atau di Kota Batu, Jawa Timur belum ada kejelasan pasti. Namun, sejumlah pihak mulai kasak-kusuk dan resah terkait dampak buruknya bagi lingkungan jika itu benar terealisasi.
Keresahan ini salah satunya diungkapkan oleh kolektif pemuda dari berbagai kalangan peduli lingkungan di Kota Batu seperti WALHI, Komunitas Jurnal Warga Gunung hingga Titik Dua Kolektif. Berbagai macak dampak buruk bagi lingkungan berpotensi terjadi, mulai rusaknya sumber mata air hingga pencemaran lingkungan.
Baca Juga: Daftar Lokasi Salat Idul Adha di Kota Batu 2025: Pilih Lokasi Terdekat!
Informasi dihimpun dari data Kementerian ESDM yang sudah disosialisasikan tahun 2024 lalu, ada manifestasi air panas untuk pembangkit listrik di Kota Batu pada titik yang ditetapkan. Informasinya ada 2 Wilayah Kerja Panas Bumi (WTP) yakni di Arjuno-Welirang dan Songgoriti.
”Iya, informasinya ada di beberapa titik. Salah satu ada di sekitaran Cangar, lereng Arjuno-Welirang wilayah Kota Batu, sebagian lagi di Mojokerto. Desas-desusnya juga bakal direalisasikan pada 2030 mendatang,” ungkap Ciwen Ilusi, anggota Titik Dua Kolektif Kota Batu.
Meski belum ada kejelasan dan pernyataan resmi dari pusat, maupun juga Pemkot Batu, pihaknya menilai proyek itu lebih banyak dampak buruk daripada manfaatnya. Salah satunya ancaman bagi sumber mata air yang tanpa proyek itu sudah mulai berkurang drastis.
Baca Juga: Tampil Perdana! Atlet Cabor Grasstrack Kota Batu On Fire Bidik 4 Medali Emas di Porprov IX Jatim 2025
Selama 15 tahun terakhir, data yang dihimpun dari WALHI Jatim, Kota Batu sudah mengalami adanya penyusutan sumber mata air secara drastis. Dalam 15 tahun terakhir, sumber mata air aktif yang semula berkisar 111 titik hanya tersisa separuhnya. Yakni 58 sumber air di tiga kecamatan.
Rinciannya, di Kecamatan bumiaji dari 57 titik mata air menjadi 28 titik. Di Kecamatan Batu dari 32 titik menjadi 15 titik. Dan di Kecamatan Junrejo dari 22 titik menjadi 15 titik.
Begitu pula dengan hutan di Kota Batu. Dari 11.227 ha hutan di kota batu, 5.900 hektare mengalami kerusakan, mencapai 50 persen luasan hutan yang ada.
Menimbang kerusakan lingkungan hidup yang ada, menurut Ciwen, isu proyek geotermal ini sudah jadi bahan kasak-kusuk di kalangan aktivis lingkungan hidup Kota Batu.
Ketidakjelasan sosialisasi proyek ini menjadi indikasi kuat masih banyak rencana-rencana pembangunan yang tidak diketahui oleh masyarakat.
”Meski sampai hari ini belum ada kejelasan infonya, kami tetap sepakat dan sadar menolak rencana pembangunan proyek geotermal tersebut. Kami harap ini menjadi pemantik bagi kelompok lain untuk aware soal ini,” tegasnya.
Pasalnya, jika berkaca dari imbas proyek Geotermal yang sudah berjalan di daerah lain seperti di Dieng itu terjadi bencana lain seperti kebocoran gas. Dengan pipa besar yang terpasang, seperti di Dieng, Jawa Tengah, juga soal berkurangnya kualitas air oleh karena percampuran zat.
“Geotermal dinarasikan pemerintah jadi energi terbarukan, tapi ternyata tidak, lantaran boros pada air, dan mengancam sumber mata air. Perlu dikawal terus,” tegasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
Editor: Herlianto. A





























