Minggu, Mei 31, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home News

Produksi Dupa di Dalisodo Wagir Kian Surut, Puluhan Perajin Gulung Tikar

Redaksi by Redaksi
Maret 2, 2024 6:55 pm
in News
Produksi dupa dilakukan menggunakan mesin. Foto: Aisyah Nawangsari Putri

Produksi dupa dilakukan menggunakan mesin. Foto: Aisyah Nawangsari Putri

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

MALANG, Tugumalang.id – Desa Dalisodo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang pernah menjadi sentra produksi dupa yang cukup tersohor. Dulu, ada sebanyak 42 perajin dupa yang ada di desa tersebut, khususnya di Dusun Bedali.

Namun, kini hanya tersisa empat perajin yang masih konsisten memproduksi dupa. Dua di antaranya memproduksi dengan jumlah besar. Sementara dua lainnya memproduksi dengan skala kecil. Penurunan jumlah perajin ini terjadi secara bertahap sejak tahun 2016.

READ ALSO

Tanggapi Pernyataan Soal Banyak Pesantren Cabul di Malang, Gus Fahrur: Tidak Boleh Menggeneralisir!

Satlantas Polres Malang Bekali 80 Warga Lewat Coaching Clinic Keselamatan Berkendara

Dupa yang diproduksi di Dalisodo ini rata-rata dijual ke Bali. Pulau Dewata menjadi pasar utama penjualan dupa karena meayoritas pengguna dupa ada di sana. Banyak yang menggunakan dupa untuk keperluan beribadah.

Baca Juga: Penjelasan Polisi Soal Dugaan Perundungan Pelajar di Sukun Kota Malang

Dupa yang tengah dijemur. Foto: Aisyah Nawangsari Putri
Dupa yang tengah dijemur. Foto: Aisyah Nawangsari Putri

Selain mengonsumsi sendiri, pembeli atau distributor di Bali juga mengekspor dupa dari Dalisodo ke luar negeri. Mereka menjual dupa-dupa tersebut ke negara yang mayoritas agamanya Hindu.

Kasi Kesejahteraan Desa Dalisodo, Nail menjelaskan, kemerosotan produksi di Dalisodo saat ini disebabkan karena warga Bali sudah bisa memproduksi dupa sendiri. Sehingga, mereka tak lagi membutuhkan dupa yang diproduksi di Dalisodo.

“Di kisaran tahun 2016 pengusaha dupa memang agak menonjol. Pada waktu itu orang-orang di Bali belum tahu cara membuat dupa,” kata Nail saat ditemui Tugu Malang ID belum lama ini.

Baca Juga: Dugaan Perundungan Pelajar di Kota Malang, Pihak SMP Nasional Akan Berikan Tindakan

Lidi dupa yang dijejer di depan rumah Giman. Foto: Aisyah Nawangsari Putri
Lidi dupa yang dijejer di depan rumah Giman. Foto: Aisyah Nawangsari Putri

Saat ini, produsen dupa telah menjamur di Bali sehingga penjualan dupa dari Dalisodo kian merosot karena kalah saing. Perajin dupa di Dalisodo pun banyak yang gulung tikar dan beralih profesi menjadi petani, kuli bangunan, dan sebagainya.

Produsen dupa di Bali belajar dari perajin Dalisodo

Menjamurnya produsen dupa di Bali tak serta merta terjadi begitu saja. Mereka belajar terlebih dahulu, membeli mesin untuk membuat dupa, baru melakukan produksi.

Menurut Nail, para perajin di Bali tersebut juga belajar dari perajin dupa di Dalisodo. Mereka mengambil tenaga ahli dari Dalisodo untuk mengajari mereka cara membuat dupa. Bahkan, ada juga perajin Dalisodo yang menjual mesin mereka ke perajin di Bali karena ada masalah ekonomi.

“Lidi dupa dan bahan baku, termasuk tepung-tepung yang sudah ditentukan untuk dupa dikirim ke sana. Kemudian tenaga ahli ngambilnya dari sini,” kata Nail.

Sejarah produksi dupa di Dalisodo

Perajin dupa di Dalisodo sudah eksis selama puluhan tahun. Nail menyebut ia tidak begitu tahu persis sejak tahun berapa perajin dupa mulai ada di Dalisodo.

Dua karyawan memproduksi dupa. Foto: Aisyah Nawangsari Putri
Dua karyawan memproduksi dupa. Foto: Aisyah Nawangsari Putri

Awalnya, di desa tersebut berdiri pabrik lidi dupa. Dari situ, warga tertarik untuk membuat dupa. Kualitas serta kuantitas produksi dupa di Desa Dalisodo ini pun kemudian meningkat.

“Dulu orang-orang dari Sumatra itu pernah studi banding ke sini, kaitannya dengan bambu (untuk lidi),” kata Nail.

Saat ini, produksi lidi dupa pun telah menghilang dari Desa Dalisodo. Nail mengatakan bahwa perajin dupa lebih menyukai lidi impor dari Cina karena teknologi pembuatannya sudah canggih.

Pindah ke pasar Jakarta

Salah seorang perajin dupa di Desa Dalisodo, Giman mengatakan saat ini ia tak lagi mengirim dupa ke Bali. Ia telah beralih pasar dan mengirim dupa ke Jakarta. Sebagian lagi ia jual di sekitaran Malang.

“Kalau orang-orang kirim ke Bali, saya nggak kirim ke Bali. Saya ke Jakarta dan Malang,” kata Giman saat ditemui di rumahnya yang juga berfungsi sebagai tempat produksi dupa.

Dulu ia juga menjual dupa ke Bali, namun kini ia beralih ke Jakarta karena dirasa pasarnya lebih bagus. Seperti yang sudah disebutkan di atas, produsen dupa di Bali sudah banyak permunculan sehingga persaingan lebih ketat.

Di dalam satu bulan, Giman bisa menjual 3-4 ton dupa. Ia menjualnya dalam jumlah besar. Per kilogram dipatok Rp 21 ribu setibanya di Jakarta.

Jumlah penjualan ini sudah mengalami penurunan jika dibandingkan saat produksi dupa di Dalisodo sedang dalam masa kejayaannya. Menurut Giman, saat ia masih menjadi karyawan, atasannya bisa menjual sampai sembilan ton dupa per bulan.

“Saya dulu ikut orang. Tahun 2016 baru beli mesin (untuk produksi sendiri),” imbuh Giman.

Pilih lidi impor karena murah dan berkualitas

Giman mengaku dirinya menggunakan lidi impor dari Cina untuk membuat dupa. Salah satu alasannya adalah karena harganya lebih murah dibandingkan produksi sendiri.

Giman mengatakan ada percobaan untuk memproduksi lidi sendiri karena takut produksi lidi di Cina dihentikan. Akan tetapi, ternyata modalnya terlalu besar.

“Nggak nutut (modalnya). Nggak kuat sama listriknya,” kata Giman.

Di samping itu, lidi impor memiliki abu berwarna putih yang lebuh disukai oleh konsumen. Sedangkan lidi lokal memiliki abu berwarna hitam. “Orang-orang suka abu berwarna putih,” tutur Giman.

Di dalam memproduksi dupa, Giman mempekerjakan dua orang karyawan. Namun, saat masa mewarnai dupa, ia bisa mempekerjakan hingga empat orang karyawan.

Dalam sehari, Giman bisa memproduksi 60-90 kilogram dupa saat musim hujan. Sementara di musim kemarau ia bisa memproduksi 120-180 kilogram dupa. Perbedaan ini disebabkan karena dupa harus dijemur hingga kering sebelum dikemas.

“Kalau cuaca panas, dijemur pagi sampai sore itu sudah kering. Tapi kalau hujan, bisa lebih dari dua hari,” terangnya.

 

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Reporter: Aisyah Nawangsari Putri

Editor: Herlianto. A

Tags: Desa Dalisodo WagirDupaHeadlinekabupaten malangProduksi Dupa

Related Posts

PEsantren Cabul
News

Tanggapi Pernyataan Soal Banyak Pesantren Cabul di Malang, Gus Fahrur: Tidak Boleh Menggeneralisir!

Minggu, 31 Mei 2026
Satlantas Polres Malang
News

Satlantas Polres Malang Bekali 80 Warga Lewat Coaching Clinic Keselamatan Berkendara

Minggu, 31 Mei 2026
Rumah warga terbakar
News

Rumah Warga Kalipare Terbakar Hebat, Kerugian Capai Rp400 Juta

Minggu, 31 Mei 2026
Cuaca Kota Malang
News

Prakiraan Cuaca Kota Malang Minggu 31 Mei 2026: Berawan di Seluruh Wilayah

Minggu, 31 Mei 2026
Siswa SD di Tumpang jalani Skrining Penyakit Jantung Rematik. Foto: Pemkab Malang
News

370 Siswa SD di Kabupaten Malang Jalani Skrining Penyakit Jantung Rematik

Sabtu, 30 Mei 2026
Prakiraan cuaca Malang, terutama di wilayah Kota Malang pada Sabtu, 30 Mei 2026 dalam kondisi berawan dan udara kabur. /Foto: Ilustrasi dibuat dengan AI.
News

Udara Kabur Mendominasi, Prakiraan Cuaca Malang Sabtu 30 Mei 2026

Sabtu, 30 Mei 2026
Next Post
Sebanyak 124 pasukan dilibatkan untuk Operasi Keselamatan Semeru 2024. Foto: Polres Malang

Operasi Keselamatan Semeru 2024 di Kabupaten Malang Libatkan 124 Personel

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemkab Malang Targetkan Bongkar Ratoon di Lahan 7.500 Hektare Tahun Ini

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Waspada Hujan Ringan! Prakiraan Cuaca Kota Malang Minggu 15 Maret 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.