Senin, Agustus 31, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home News

Produksi Dupa di Dalisodo Wagir Kian Surut, Puluhan Perajin Gulung Tikar

Redaksi by Redaksi
Maret 2, 2024 6:55 pm
in News
Produksi dupa dilakukan menggunakan mesin. Foto: Aisyah Nawangsari Putri

Produksi dupa dilakukan menggunakan mesin. Foto: Aisyah Nawangsari Putri

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

MALANG, Tugumalang.id – Desa Dalisodo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang pernah menjadi sentra produksi dupa yang cukup tersohor. Dulu, ada sebanyak 42 perajin dupa yang ada di desa tersebut, khususnya di Dusun Bedali.

Namun, kini hanya tersisa empat perajin yang masih konsisten memproduksi dupa. Dua di antaranya memproduksi dengan jumlah besar. Sementara dua lainnya memproduksi dengan skala kecil. Penurunan jumlah perajin ini terjadi secara bertahap sejak tahun 2016.

READ ALSO

RSUD Kanjuruhan Masuk Green Book Bappenas, Gedung dan Layanan KJSU Bakal Ditambah

Kunjungan Wisatawan ke Kota Batu Tembus 6,4 Juta Orang

Dupa yang diproduksi di Dalisodo ini rata-rata dijual ke Bali. Pulau Dewata menjadi pasar utama penjualan dupa karena meayoritas pengguna dupa ada di sana. Banyak yang menggunakan dupa untuk keperluan beribadah.

Baca Juga: Penjelasan Polisi Soal Dugaan Perundungan Pelajar di Sukun Kota Malang

Dupa yang tengah dijemur. Foto: Aisyah Nawangsari Putri
Dupa yang tengah dijemur. Foto: Aisyah Nawangsari Putri

Selain mengonsumsi sendiri, pembeli atau distributor di Bali juga mengekspor dupa dari Dalisodo ke luar negeri. Mereka menjual dupa-dupa tersebut ke negara yang mayoritas agamanya Hindu.

Kasi Kesejahteraan Desa Dalisodo, Nail menjelaskan, kemerosotan produksi di Dalisodo saat ini disebabkan karena warga Bali sudah bisa memproduksi dupa sendiri. Sehingga, mereka tak lagi membutuhkan dupa yang diproduksi di Dalisodo.

“Di kisaran tahun 2016 pengusaha dupa memang agak menonjol. Pada waktu itu orang-orang di Bali belum tahu cara membuat dupa,” kata Nail saat ditemui Tugu Malang ID belum lama ini.

Baca Juga: Dugaan Perundungan Pelajar di Kota Malang, Pihak SMP Nasional Akan Berikan Tindakan

Lidi dupa yang dijejer di depan rumah Giman. Foto: Aisyah Nawangsari Putri
Lidi dupa yang dijejer di depan rumah Giman. Foto: Aisyah Nawangsari Putri

Saat ini, produsen dupa telah menjamur di Bali sehingga penjualan dupa dari Dalisodo kian merosot karena kalah saing. Perajin dupa di Dalisodo pun banyak yang gulung tikar dan beralih profesi menjadi petani, kuli bangunan, dan sebagainya.

Produsen dupa di Bali belajar dari perajin Dalisodo

Menjamurnya produsen dupa di Bali tak serta merta terjadi begitu saja. Mereka belajar terlebih dahulu, membeli mesin untuk membuat dupa, baru melakukan produksi.

Menurut Nail, para perajin di Bali tersebut juga belajar dari perajin dupa di Dalisodo. Mereka mengambil tenaga ahli dari Dalisodo untuk mengajari mereka cara membuat dupa. Bahkan, ada juga perajin Dalisodo yang menjual mesin mereka ke perajin di Bali karena ada masalah ekonomi.

“Lidi dupa dan bahan baku, termasuk tepung-tepung yang sudah ditentukan untuk dupa dikirim ke sana. Kemudian tenaga ahli ngambilnya dari sini,” kata Nail.

Sejarah produksi dupa di Dalisodo

Perajin dupa di Dalisodo sudah eksis selama puluhan tahun. Nail menyebut ia tidak begitu tahu persis sejak tahun berapa perajin dupa mulai ada di Dalisodo.

Dua karyawan memproduksi dupa. Foto: Aisyah Nawangsari Putri
Dua karyawan memproduksi dupa. Foto: Aisyah Nawangsari Putri

Awalnya, di desa tersebut berdiri pabrik lidi dupa. Dari situ, warga tertarik untuk membuat dupa. Kualitas serta kuantitas produksi dupa di Desa Dalisodo ini pun kemudian meningkat.

“Dulu orang-orang dari Sumatra itu pernah studi banding ke sini, kaitannya dengan bambu (untuk lidi),” kata Nail.

Saat ini, produksi lidi dupa pun telah menghilang dari Desa Dalisodo. Nail mengatakan bahwa perajin dupa lebih menyukai lidi impor dari Cina karena teknologi pembuatannya sudah canggih.

Pindah ke pasar Jakarta

Salah seorang perajin dupa di Desa Dalisodo, Giman mengatakan saat ini ia tak lagi mengirim dupa ke Bali. Ia telah beralih pasar dan mengirim dupa ke Jakarta. Sebagian lagi ia jual di sekitaran Malang.

“Kalau orang-orang kirim ke Bali, saya nggak kirim ke Bali. Saya ke Jakarta dan Malang,” kata Giman saat ditemui di rumahnya yang juga berfungsi sebagai tempat produksi dupa.

Dulu ia juga menjual dupa ke Bali, namun kini ia beralih ke Jakarta karena dirasa pasarnya lebih bagus. Seperti yang sudah disebutkan di atas, produsen dupa di Bali sudah banyak permunculan sehingga persaingan lebih ketat.

Di dalam satu bulan, Giman bisa menjual 3-4 ton dupa. Ia menjualnya dalam jumlah besar. Per kilogram dipatok Rp 21 ribu setibanya di Jakarta.

Jumlah penjualan ini sudah mengalami penurunan jika dibandingkan saat produksi dupa di Dalisodo sedang dalam masa kejayaannya. Menurut Giman, saat ia masih menjadi karyawan, atasannya bisa menjual sampai sembilan ton dupa per bulan.

“Saya dulu ikut orang. Tahun 2016 baru beli mesin (untuk produksi sendiri),” imbuh Giman.

Pilih lidi impor karena murah dan berkualitas

Giman mengaku dirinya menggunakan lidi impor dari Cina untuk membuat dupa. Salah satu alasannya adalah karena harganya lebih murah dibandingkan produksi sendiri.

Giman mengatakan ada percobaan untuk memproduksi lidi sendiri karena takut produksi lidi di Cina dihentikan. Akan tetapi, ternyata modalnya terlalu besar.

“Nggak nutut (modalnya). Nggak kuat sama listriknya,” kata Giman.

Di samping itu, lidi impor memiliki abu berwarna putih yang lebuh disukai oleh konsumen. Sedangkan lidi lokal memiliki abu berwarna hitam. “Orang-orang suka abu berwarna putih,” tutur Giman.

Di dalam memproduksi dupa, Giman mempekerjakan dua orang karyawan. Namun, saat masa mewarnai dupa, ia bisa mempekerjakan hingga empat orang karyawan.

Dalam sehari, Giman bisa memproduksi 60-90 kilogram dupa saat musim hujan. Sementara di musim kemarau ia bisa memproduksi 120-180 kilogram dupa. Perbedaan ini disebabkan karena dupa harus dijemur hingga kering sebelum dikemas.

“Kalau cuaca panas, dijemur pagi sampai sore itu sudah kering. Tapi kalau hujan, bisa lebih dari dua hari,” terangnya.

 

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Reporter: Aisyah Nawangsari Putri

Editor: Herlianto. A

Tags: Desa Dalisodo WagirDupaHeadlinekabupaten malangProduksi Dupa

Related Posts

RSUD Kanjuruhan Masuk Green Book Bappenas, Gedung dan Layanan KJSU Bakal Ditambah
News

RSUD Kanjuruhan Masuk Green Book Bappenas, Gedung dan Layanan KJSU Bakal Ditambah

Senin, 31 Agu 2026
Kunjungan Wisatawan ke Kota Batu Tembus 6,4 Juta Orang
News

Kunjungan Wisatawan ke Kota Batu Tembus 6,4 Juta Orang

Senin, 31 Agu 2026
Kandang Ayam di Kota Batu Ludes Terbakar, Kerugian Capai Rp600 Juta
News

Kandang Ayam di Kota Batu Ludes Terbakar, Kerugian Capai Rp600 Juta

Senin, 31 Agu 2026
66 Angkot Pelajar Gratis Mulai Beroperasi di Kota Malang
News

66 Angkot Pelajar Gratis Mulai Beroperasi di Kota Malang

Senin, 31 Agu 2026
Muktamar NU ke-35 Tetapkan Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU
News

Muktamar ke-35 NU Tetapkan Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU

Senin, 31 Agu 2026
Gus Muhaimin Dorong Pesantren Jadi Pusat Ilmu Pengetahuan dan Kemajuan
Advertorial

Gus Muhaimin Dorong Pesantren Jadi Pusat Ilmu Pengetahuan dan Kemajuan

Minggu, 30 Agu 2026
Next Post
Sebanyak 124 pasukan dilibatkan untuk Operasi Keselamatan Semeru 2024. Foto: Polres Malang

Operasi Keselamatan Semeru 2024 di Kabupaten Malang Libatkan 124 Personel

BERITA POPULER

  • Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 08272026 2
Iklantm 08272026 1
17 Iklan HUT RI UIN Mlg.jpg
Iklantm 08172026 Pemkab
13 Iklan HUT RI BPJS2.jpg
12 Iklan HUT RI UM.jpg
07 Iklan HUT RI Prokopim Batu.jpg
Backdrop Kemerdekaan 434x390 Cm 1
Ucapan HUTRI2
HUTRI81 PKB 90X100.jpg
15 Iklan HUT RI PKS.jpg
16 Iklan HUT RI DPMPTSP Kota Batu.jpg
11 Iklan HUT RI Perumdam Among Tirto.jpg
06 Iklan HUT RI Dishub Kota Batu.jpg
08 Iklan HUT RI Satpol PP Batu.jpg
10 Iklan HUT RI Dinas Pendidikan Batu.jpg
14 Iklan HUT RI Dinas Perpus Batu.jpg
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.