Jombang, Tugumalang.id – Pesantren harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, termasuk artificial intelligence (AI). Pesantren juga harus menjadi pusat ilmu pengetahuan dan kemajuan.
Hal itu ditegaskan Dewan Pembina Forum Percepatan Transformasi Pesantren (FPTP) sekaligus Menko Pemberdayaan Masyarakat RI Dr HC Muhaimin Iskandar atau Gus Muhaimin dalam Pelatihan Transformasi Pesantren Melalui Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dan Ekonomi Digital di Aula Nyai Hj Nur Khodijah MTsN 4 Ponpes Mambaul Maarif Denanyar Jombang, Jumat (28/8/2026).
“Kita harus betul-betul memahami (teknologi AI) dan mempelajarinya. Hari ini tidak ada satu pun yang tidak belajar. Semua belajar. Bahkan para ahli juga belajar,” kata Gus Muhaimin.
Pelatihan tersebut diselenggarakan FPTP bekerja sama dengan Google, Kaizen, Sae Karya Sejahtera, dan didukung penuh oleh BRI.
Pelatihan sehari penuh itu bertujuan meningkatkan pemahaman dan literasi digital SDM pesantren mengenai konsep dan pemanfaatan AI. Selain itu, membangun kesiapan SDM pesantren dalam menghadapi perkembangan teknologi AI.
Baca juga: Fakta Menarik Muktamar NU ke-35 di Jombang, Kembali ke Tanah Kelahiran
Tidak kalah penting, kegiatan tersebut bertujuan mendukung terwujudnya pesantren yang adaptif, komunikatif, dan kompetitif tanpa meninggalkan identitas, ciri khas, serta tradisi pesantren.
“Pelatihan AI dan ekonomi digital harus terus-menerus dilakukan. Bisa jadi para pencipta AI sudah memprediksi dan mendesain. Mengeluarkannya dicicil, sementara pesantren korban cicilannya. Kalau lihat film-film Amerika, sejak tahun 1970-an, semua sudah ada,” ujar Gus Muhaimin.
“Mestinya pesantren tahu lebih dulu. Akhirat itu kan pesantren lebih dulu tahu. Ada Bu Nyai ceramahnya sangat bagus, ternyata saat ditanya, mengaku pakai chatgpt. Fintech itu juga melebihi apa yang kita bayangkan. Saya ketika ditanya, apa yang bisa dibanggakan dari Indonesia, saya jawab salah satunya qris,” ujar Gus Muhaimin.
“Pesantren bukan sekadar ngaji, tapi harus diletakkan sebagai pusat ilmu pengetahuan, dan pusat kemajuan. Perencanaan pesantren sebagai pusat ilmu pengetahuan dan perekonomian itu sudah direncanakan sejak awal dulu zaman Mbah Hasyim dan Mbah Bisri,” lanjut Gus Muhaimin.
“Terimakasih pada FPTP. Lembaga ini lahir dari hasil keprihatinan situasi pesantren. Maka harus ada reformasi dengan melakukan kesungguhan percepatan. Bahkan kemajuan fisik sekalipun tidak menjamin tidak adanya ketertinggalan itu. Semoga FPTP terus mendorong percepatan transformasi pesantren ini,” ujar Gus Muhaimin.
FPTP Dorong Pesantren Beradaptasi
Direktur FPTP KH Saifullah Ma’shum mengatakan AI merupakan instrumen untuk memberdayakan santri maupun pengurus pesantren.
“Di tengah-tengah forum muktamar, kita ikut memikirkan nasib pesantren 10 hingga 20 tahun yang akan datang. Jika semua yang hadir di sini diberi asupan yang baik-baik, baik terkait metodologi, sistem, dan pemanfaatan teknologi digital, insyallah masa depan pesantren akan lebih baik,” ujarnya.
“FPTP adalah sebuah forum agar ke depan pesantren di tengah keroyokan beragam ideologi pendidikan modern, mampu bertahan dan beradaptasi. Dua tahun terakhir terjadi kemerosotan animo masyarakat memasukkan anaknya ke pesantren karena ada framing negatif kekerasan seksual, dan diviralkan kelompok yang sejak awal tidak rela pesantren menjaga moral bangsa. Berhasil mereka mem-framing itu,” ujar Kiai Saifullah Ma’shum.
“Hari ini kita belajar bagaimana mengimbangi framing itu. Allah sudah berfirman soal teknologi: jika kita ingin menembus batas langit dan bumi, maka harus punya ilmunya. Saya yakin kita sudah menggunakan AI. Tapi pertanyaannya: apakah kita sudah profesional dan bertanggung jawab?” lanjut Kiai Saifullah.
“Bapak-Ibu kita undang agar memahami bagaimana sikap kita terhadap AI. Kita sebetulnya menghadapi gelontoran informasi yang banyak sekali yang tidak jelas. Allah berfirman: ketika engkau memviralkan berita, padahal belum dicek, recheck, kroscek, tiga hal ini, kemudian menyebarkan, itu kata Allah besar risiko, dampak, dan dosanya, fahuwa ’indallahi ’adziim. Jangan dianggap sepele medsos dan AI,” ujar Kiai Saifullah.
Ada dua narasumber dalam kegiatan tersebut, yakni Rizqika Alya Anwar, Master Trainer AI Ready ASEAN dan Project Officer Kaizen Collaborative Impact, serta Andi Taru, CEO Educa Studio, Gamelab and Co-Founder PesantrenMandiri.id.
Rizqika mengatakan program AI Ready ASEAN tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh negara ASEAN.
“AI atau akal imitasi bisa digunakan untuk banyak hal. Ada chatgpt, gemini, meta, deepseek, grok, itu semua AI generatif. Ada juga AI Rekomendasi, yakni AI yang memberi rekomendasi, misalnya soal produk yang mau dibeli, hingga iklan yang muncul akibat kita memberi akses audio. Ada pula AI Prediksi, misalnya AI yang memprediksi kemacetan jalan,” ujar Rizqika.
“Diella, adalah Perdana Menteri Albania dari AI, yang menjanjikan lelang publik akan 100 persen bebas korupsi dan setiap dana publik 100 persen transparan. Dengan berbagai perkembangan teknologi, kita harus sadar bahwa AI hanya tools, dia tidak bisa mengganti peran. AI tidak akan pintar kalau kita tidak pintar. AI tidak akan mengerti kalau kita sendiri tidak ngerti. Kita harus bisa menyesuaikan. AI tergantung siapa yang menggunakannya. AI bisa cepat, tapi manusia yang bisa bijak,” ujar Rizqika.
Sementara itu, Andi Taru sebagai pemateri berikutnya mengenalkan Sandaya (Pesantren dan Santri Berdaya), yakni program kerja sama FPTP dengan Educa Group untuk penguatan ekonomi digital pesantren.
“Medsos itu sebenarnya tidak gratis, tapi kita bayar dengan waktu yang kita habiskan. Bagaimana cara dapat duitnya? Ketika aplikasi digunakan, akan muncul iklan. Nah iklan inilah yang membayar,” ujar Andi.
Menurut Andi, konten yang dibuat sebaiknya memberikan manfaat.
“Jika kita mengonsumsi konten yang tidak bagus, FYP, konten itu yang akan naik terus. Itu prinsip dasar ekonomi digital. Semangatnya adalah bagaimana pesantren bisa menjadi kekuatan ekonomi yang benar-benar kuat,” ujar Andi.
Peserta pelatihan merupakan para pengasuh pesantren, mulai dari kiai, gus, bu nyai, ning, serta para aktivis organisasi maupun santri dari berbagai ponpes di Jombang.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: Rilis Panitia Muktamar NU
editor: jatmiko






























