Jombang, Tugumalang.id – Seminar Turots Internasional digelar di aula lantai dua MAN 3 Jombang, Minggu (30/8). Kegiatan yang digelar Nahdlatut Turots (NT) itu diikuti sedikitnya 200 pegiat turots dari seluruh Nusantara.
Hadir sebagai narasumber panel pertama Syaikh Prof Mu’taz As-Syubaini dari Damaskus, Syaikh Muhammad Syadi Arbasy dari Suriah, dan Prof Oman Fathurrohman dari UIN Jakarta. Panel kedua menghadirkan Prof Islah Gusmian, Direktur Pascasarjana UIN Surakarta, dan Prof Faisal Fatawi dari UIN Malang.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Prof Brian Yuliarto mengapresiasi kegiatan tersebut. “Karena turots sebagai sumber pengetahuan, nilai, dan kebijaksanaan dalam kehidupan kita, jadi harus terus dikaji dan diteliti,” ujarnya melalui video.
Turots, menurut dia, memberikan peluang pengetahuan baru. “Maka harus didigitalisasi secara modern agar generasi muda makin dekat dengan khazanah keilmuan Nusantara,” tandasnya.
Baca juga: Buku Imaji NU Masa Depan Diluncurkan di Tengah Muktamar ke-35
Pengkajian turots, lanjutnya, juga bertujuan agar generasi muda makin percaya diri dengan akhlak yang mampu berdiri sendiri. “Sehingga bisa berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain,” pintanya.
Turots ulama sebagai kemuliaan umat
Saat menyampaikan materi, Syaikh Syadi menegaskan bahwa turots ulama merupakan kemuliaan bagi umat. “Karena melestarikan karya ulama sebagai sebuah jihad bagi keilmuan untuk para penerus,” ujarnya.
Kewajiban umat Islam sekarang, lanjutnya, adalah bagaimana men-tahqiq karya para ulama tersebut. “Lalu menyebarkan ilmu di dalam turots itu,” ujarnya.
Syaikh Mu’taz menegaskan hal serupa. Peneliti yang fokus pada manuskrip era sebelum Wali Songo itu mengapresiasi pihak-pihak yang terus bergelut dengan turots ulama Nusantara.
Dia memberikan contoh adanya pendapat Imam Syafii yang lama (qodim) dengan pendapat yang baru (jadid). “Itu yang menulis adalah dari ulama Nusantara,” jelasnya.
Prof Oman mendorong NT sebagai bagian terpenting dalam membangkitkan Islam di Nusantara. “Maka harus bergerak aktif menghidupkan dan menggerakkan roda ekosistem turots ulama Nusantara,” ujarnya.
Dia juga mengajak para peneliti untuk belajar kearifan lokal dari manuskrip di Nusantara. “Karena bangsa Indonesia sudah darurat komitmen nilai, membutuhkan inspirasi dan kebijaksanaan yang bersumber dari warisan tertulis ulama Nusantara,” tambahnya.
Baca juga: Kongkow Santri Bareng Masyayikh Bahas Ulang Qonun Asasi NU Jelang Muktamar ke-35
Dunia pernaskahan Nusantara, lanjutnya, membutuhkan regulasi yang berpihak, pemilik yang aktif melakukan konservasi, SDM unggul berkualifikasi, dan publikasi di semua lini. “Juga perlu didukung kognitif, infrastruktur dan komitmen untuk melakukan rekognisi, afirmasi dan fasilitasi dari negara,” pesannya.
NU juga diharapkan memberikan fatwa bahwa melestarikan turots menjadi wajib kifayah. “Tidak perlu menjadi banom atau lembaga, tapi kultural saja sudah cukup untuk terus berjuang bagi peradaban dari turots,” pesannya.
Ditemui di lokasi acara, Ketua Panitia Ahmad Karomi mengakui seminar ini sebagai kegiatan terakhir yang mengiringi Muktamar NU Tambakberas. “Ini sebagai puncak kegiatan NT di Muktamar NU Tambakberas yang enam kegiatan,” ujarnya.
Dia menegaskan bahwa turots sering dipahami khalayak ramai. “Padahal turots adalah kajian keilmuan, sehingga tokoh-tokoh yang diambil inspirasinya dari manuskrip karyanya,” pungkasnya. (*)
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: Rilis panitia muktamar/ Panji Nur Muhammad Sholih
editor: jatmiko






























