MALANG – Cinta membutuhkan pengorbanan sekaligus konsistensi. Itulah semangat yang ditunjukkan para pemuda di Malang yang tergabung dalam Jama’ah Majelis Burdah Gubuk Shalawat, berpusat di Langgar Jati, Darul Futuh, Perum Bumi Banjararum, Singosari, Kabupaten Malang.
Mayoritas jamaahnya adalah anak muda dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU), meski ada pula pemuda yang baru mengenal Islam. Namun yang membuat komunitas ini patut diapresiasi adalah kekonsistenan mereka. Selama 40 malam berturut-turut, mulai 5 Agustus hingga 13 September 2025, mereka tanpa henti berkumpul membaca Shalawat Burdah.
Rutinan Berpindah dari Rumah ke Rumah

Rangkaian dimulai dari rumah Firdaus, salah satu anggota di Kecamatan Dau, hingga berakhir di markas utama Langgar Jati, Singosari. Tak pernah ada satu malam pun yang terlewat tanpa lantunan shalawat. Jumlah peserta pun dinamis, terkadang mencapai 30 orang, kadang hanya 10 orang.
Usai pembacaan shalawat selama sekitar satu jam, acara biasanya ditutup dengan makan bersama serta canda tawa. Menurut Winartono, alumnus UIN Maliki Malang yang memimpin majelis ini, beragama harus disertai kebahagiaan.
“Ber-Islam harus bahagia. Maka acara seperti pembacaan Shalawat Burdah ini harus menumbuhkan rasa syukur, bukan beban,” ungkapnya.
Romdloni, salah satu penggerak jamaah, menambahkan bahwa setiap tuan rumah tak perlu merasa terbebani. “Konsumsi secukupnya saja. Yang penting kebersamaan dan cinta kepada Nabi,” ujarnya.
Baca juga: Sambil Lantunkan Shalawat, Rombongan Chatour Travel Tiba di Madinah dengan Penuh Haru
Puncak Acara dengan Doorprize untuk Anak-Anak

Pada malam terakhir, Sabtu (13/9), acara ditutup dengan pembagian doorprize kepada anak-anak sekitar. Tujuannya agar mereka semakin mengenal dan mencintai Rasulullah SAW sejak dini.
Kegiatan ini juga menjadi rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. “Semua ini dilakukan karena kecintaan yang besar kepada Rasulullah,” tambah Winartono.
Shalawat Burdah dan Nilai Spiritualitas
Shalawat Burdah sendiri adalah karya monumental Imam al-Bushiri, berupa syair yang penuh cinta kepada Rasulullah SAW. Menurut NU Online, popularitas qasidah ini tidak lepas dari keikhlasan penulisnya yang berharap syafaat Nabi.
Qasidah Burdah juga banyak disyarahi ulama besar, seperti Syekh Ali al-Qari, Imam al-Baijuri, dan Syekh Badruddin Muhammad al-Ghazi. Isinya bukan hanya pujian, melainkan juga menggambarkan kelahiran Nabi, mukjizat Al-Qur’an, Isra’ Mi’raj, jihad Rasulullah, hingga pesan moral agar manusia menjauhi hawa nafsu.
Selain meningkatkan kecintaan kepada Nabi, Shalawat Burdah juga mengingatkan pentingnya pengendalian diri. Sebab hawa nafsu, jika terus dituruti, hanya akan menjerumuskan manusia.
Baca juga: Gema Ribuan Jemaah Berselawat Bareng Gus Iqdam di Unisma
Sejarah Acara Rutinan 40 Malam
Acara rutinan membaca shalawat burdah 40 malam ini, merupakan tahun ke-10. Hal ini bermula dari bincang santai pada 2015 silam. Ketika itu, Winartono, Rohim Idung, dan Ramdhloni ngobrol ngalur ngidul lalu terbersitlah kegiatan ini.
Ketika itu, mereka ingin melakukan riyadhoh atau latihan spiritual dalam rangka menyambut rabiul awal, bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
”Ini semata-mata ingin memupuk kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW,” kata Ramdloni, atau yang akrab disapa Cak Doni.
Bahkan, saat ada pandemi beberapa tahun silam, acara juga digelar melalui online.”Baru setelah pandemi mereda, acara digelar secara offline lagi,” katanya.
Bagi yang istiqomah mengikuti kegiatan ini, mereka mempunyai pengalaman batin tersendiri.”Ada kepuasan batin dan kecanduan bagi yang sering mengikuti,” imbuhnya.
Apalagi, kata dia, bagi generazi Z atau anak-anak mudah yang konon tidak mempunyai ketangguhan. Dengan mengikuti kegiatan seperti ini, ada komunikasi lintas generasi sehingga bisa saling belajar.
”Serta bisa upgrade kepercayaan diri dengan berbaur tanpa melihat ras, suku, dan kelas ekonomi,” ucapnya.
Mula-mula kegiatan ini hanya diikuti circle kecil saja. Lalu, meluas dari waktu ke waktu. Bahkan, pernah ada undangan ke Jawa Tengah.”Beberapa tahun lalu pernah kita baca burdah ke Pati, Jawa Tengah,” pungkasnya.
Sementara itu, Viki Maulana, salah satu jama’ah majelis ini mengaku belum mendapatkan manfaat yang konkrit. Misal, dia belum tambah kaya.
”Yang jelas manfaatnya bisa dapat makan dan bisa bersilaturahim dengan teman-teman, kadang dari jalan silaturahim di sini, jadi jalan rezeki yang tak terduga,” katanya lalu terkekeh.
Cendekiawan dari UIN Maliki Malang Dr Faishol Fatawi mengatakan bahwa kegiatan seperti ini sangat penting untuk menyirami jiwa-jiwa yang kering.
”Sehingga kegiatan seperti ini menjadi oase bagi jiwa-jiwa yang selalu merindukan kekasihnya (Nabi Muhammad SAW,” katanya.
Shalawat Juga DIgelar Sambut Bulan Ramadhan
Selain di acara memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, kegiatan pembacaan burdah 40 hari berturut-turut ini juga digelar dalam rangka menyambut bulan Ramadhan.”Ini juga sebagai ikhtiar penyucian jiwa dalam rangka bulan Ramadhan,” katanya.
Sedangkan Winartono menambahkan, dengan adanya kegiatan ini diharapkan semakin banyak yang mencintai Nabi Muhammad SAW. Bagi dia, mencintai sang kekasih bisa dilakukan dengan hanya mencintai.
”Misal tanpa motif ingin hidup enak, lancar rezeki, jadi kita perlu banyak melakukan sejumlah hal yang tanpa motif, melakukan kebaikan ya melakukan saja, tanpa motif apa-apa,” kata Cak Win, panggilannya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
reporter: Irham Thariq
redaktur: jatmiko
























