MALANG, Tugumalang.id – Di tengah gemuruh modernisasi dan dominasi bacaan digital, Pasar Buku dan Seni Velodrome Malang tetap bertahan sebagai oase bagi pecinta literatur lawas.
Terletak di kawasan Velodrome Malang yang berada di Madyopuro, Kedungkandang, Kota Malang, ada banyak lapak buku yang menjajakan buku atau majalah tahun lama. Keberadaan lapak tersebut menjadi surga pemburu buku dan majalah bekas yang haus akan nostalgia.
Walaupun suasana terbilang sepi, tetapi masih banyak pedagang yang membuka lapak dengan deretan buku dan majalah yang tersusun rapi di rak-rak lapak berukuran 2 x 3 meter, yang berjajar di sekitar area Velodrome.
Baca Juga: Pemkot Malang Anggarkan Rp 1,5 Milyar untuk Revitalisasi Pasar Buku Wilis
Salah satunya adalah Sanda (42) yang masih membuka lapak buku miliknya meski kondisi di Pasar Buku Velodrome dalam setahun terakhir cukup sepi.

Tetapi ia bersyukur masih ada beberapa orang yang mampir ke lapaknya untuk mencari buku perkuliahan maupun pelajaran terbitan baru dan juga lama.Termasuk para kolektor majalah-majalah lawas yang sering mampir ke lapak buku nomor 2 dan 4 di Pasar Buku Velodrome.
Sanda mengaku perkembangan teknologi memang berdampak pada antusias masyarakat untuk datang langsung ke lapak-lapak buku yang ada di pasar tersebut.
Baca Juga: Reopening Gramedia Kayutangan Malang, Hadirkan Ratusan Ribu Koleksi Buku
“Ya turun sekali, mungkin teknologi dan Corona (Pandemi Covid-19) kemarin berdampak. Jadinya orang lebih suka beli online semua,” kata Sanda ketika ditemui Tugumalang.id, Kamis (1/5/2025).

Sering Dikunjungi Pecinta Literatur Lawas
Meski jumlah koleksi buku dan majalah lawas di lapaknya terbatas, tetapi masih ada beberapa pengunjung yang sering datang ke lapak untuk mendapatkan ‘harta karun’, berupa buku atau majalah yang tahun lama dan dicetak secara terbatas.
“Memang kalau koleksi lama bisa dibilang saya jarang ada, tetapi begitu ada satu atau dua sudah laku. Ada majalah anak-anak tahun 80-an, kemudian Sarinah (majalah) tahun lama, selebihnya ya buku perguruan tinggi, novel, buku pelajaran, dan buka agama juga ada,” bebernya.
Sepinya Antusiasme Pengunjung
Meski Pasar Buku Velodrome tetap menjadi primadona untuk berburu literatur lawas, Sanda tak menampik bahwa antusiasme pengunjung tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.
Dalam sehari ia mengaku rata-rata pengunjung yang mampir ke lapaknya sekitar dua orang, itupun hanya sekedar melihat-lihat saja. Paling banyak, pengunjung didominasi oleh siswa dan mahasiswa yang lokasinya tidak jauh dari Pasar Buku Velodrome.
“Ya banyak anak-anak sekolah dekat sini. Mahasiswa jarang, paling yang dekat-dekat sini saja itungannya, itu yang paling sering ke sini. Kalau sekarang, di rata-rata maksimal dua orang setiap hari yang berkunjung,” ungkap Sanda.
Meski harus bersaing dengan toko daring dan juga penyedia jasa e-book, eksistensi Pasar Buku Velodrome membuktikan bahwa literatur fisik, terutama yang memiliki nilai historis, masih memiliki tempat di hati masyarakat.
Bagi Anda yang ingin mencari koleksi buku atau majalah terbitan lawas dapat berkunjung ke Pasar Buku Velodrome.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Bagus Rachmad Saputra
Editor: Herlianto. A





























