Tugumalang.id – Kota Malang memiliki sejumlah kawasan yang telah dikenal sejak masa kolonial maupun dibentuk pada periode yang baru. Setiap kawasan unik ini memiliki latar belakang pembentukan yang berbeda, mulai dari permukiman komunitas tertentu hingga kawasan yang ditetapkan melalui program pemerintah.
Hingga saat ini, nama-nama kawasan tersebut masih digunakan sebagai penanda wilayah di Kota Malang. Masing-masing memiliki latar belakang pembentukan yang berbeda sesuai dengan periode dan tujuan pengembangannya.
1. Pecinan, pusat perdagangan masyarakat Tionghoa
Kawasan Pecinan menjadi salah satu pusat perkembangan komunitas Tionghoa di Kota Malang. Arsip Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Malang melalui Sistem Informasi Kearsipan Nasional (SIKN) mencatat masyarakat Tionghoa telah bermukim di kawasan ini sebelum 1914 dan mengembangkan aktivitas perdagangan di wilayah tersebut.
Baca Juga: Teknik Elektro ITN Malang Edukasi PLTS untuk Wujudkan Kampung Mandiri Energi di Madyopuro
Pada perkembangannya, kawasan Pecinan meluas di sekitar Pasar Besar. Deretan rumah toko atau ruko dibangun dengan fungsi sebagai tempat tinggal sekaligus lokasi usaha. Pola tersebut masih dapat dijumpai pada sejumlah bangunan di sekitar Jalan Zainul Arifin, Pasar Besar, Comboran, dan Pertukangan.
Di kawasan ini juga berdiri Kelenteng Eng An Kiong yang diperkirakan dibangun pada awal abad ke-19. Hingga sekarang, kelenteng tersebut masih digunakan sebagai tempat ibadah masyarakat Tionghoa sekaligus menjadi salah satu bangunan bersejarah di Kota Malang.
2. Embong Arab, kawasan yang berkembang bersama komunitas Hadramaut
Tidak jauh dari Pecinan terdapat kawasan yang dikenal sebagai Embong Arab. Kawasan ini berkembang sebagai permukiman masyarakat keturunan Arab, terutama yang berasal dari Hadramaut, Yaman.
Pada masa kolonial Belanda, pemerintah menerapkan kebijakan pemukiman berdasarkan kelompok masyarakat atau Wijkenstelsel. Dalam sistem tersebut, komunitas Arab menempati kawasan di sekitar Masjid Jami’ Kota Malang yang kini dikenal sebagai Embong Arab, sedangkan komunitas Tionghoa berkembang di kawasan Pecinan.
Baca Juga: Bersih Desa Kampung Sanan Sukses, Kiai Sableng: Semua Warga Masuk Surga
Aktivitas perdagangan menjadi ciri utama kawasan ini. Hingga sekarang, Embong Arab masih dikenal sebagai tempat penjualan parfum, minyak wangi, perlengkapan ibadah, kitab, busana muslim, hingga berbagai kebutuhan bernuansa Timur Tengah. Lokasinya yang berada di sekitar pusat kota juga membuat kawasan ini tetap menjadi salah satu tujuan masyarakat untuk mencari kebutuhan tersebut.
3. Kauman, kampung yang tumbuh di sekitar Masjid Jami’
Kauman merupakan salah satu kawasan yang memiliki hubungan erat dengan perkembangan Islam di Kota Malang. Kampung ini berada di belakang Masjid Jami’ Kota Malang dan berkembang bersamaan dengan berdirinya masjid tersebut.
Secara umum, nama “Kauman” berasal dari kata “kaum”, yaitu sebutan bagi penghulu, ulama, imam, maupun pengurus masjid pada masa lampau. Di berbagai kota di Pulau Jawa, kawasan Kauman umumnya berada di dekat masjid agung dan alun-alun sebagai pusat kegiatan keagamaan.
Penelitian yang diterbitkan dalam IOP Conference Series: Earth and Environmental Science menyebutkan Kampung Kauman Malang merupakan representasi permukiman masyarakat Muslim.
Kawasan unik ini dibentuk seiring berdirinya Masjid Jami’ dan hingga kini masih dikenal sebagai lingkungan yang aktivitas sosial masyarakatnya dipengaruhi oleh kegiatan keagamaan. Meski demikian, saat ini Kauman juga dihuni masyarakat dengan latar belakang yang beragam.
4. Kampung Moderasi Beragama, simbol kerukunan masyarakat
Berbeda dengan tiga kawasan sebelumnya yang berkembang sejak masa kolonial, Kampung Moderasi Beragama di Kelurahan Tanjungrejo, Kecamatan Sukun, dibentuk melalui program Kementerian Agama untuk memperkuat moderasi beragama di tingkat masyarakat.
Kelurahan Tanjungrejo menjadi wilayah pertama di Kota Malang yang ditetapkan sebagai Kampung Moderasi Beragama. Di kawasan ini terdapat rumah ibadah dari berbagai agama yang berada dalam satu lingkungan, di antaranya masjid, gereja, pura, dan vihara.
Keberadaan rumah ibadah tersebut menjadi salah satu dasar penetapan kawasan ini dalam program Kampung Moderasi Beragama.
Program ini dikembangkan melalui kerja sama Kementerian Agama dan Pemerintah Kota Malang. Pelaksanaannya mencakup berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat lintas agama, seperti dialog, pembinaan, kegiatan sosial, serta peringatan hari-hari tertentu yang dilaksanakan bersama.
Selain menjadi lokasi pelaksanaan program moderasi beragama di Kota Malang, Kampung Moderasi Beragama Tanjungrejo juga beberapa kali menerima kunjungan studi dari instansi pemerintah, lembaga pendidikan, dan daerah lain yang ingin mempelajari pelaksanaan program tersebut.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Nathasya Amalia/Magang
Editor: Herlianto. A























