Malang – Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa olahraga, terutama aktivitas lari, mampu memperbaiki kerusakan otak dan gangguan suasana hati yang disebabkan oleh konsumsi makanan cepat saji atau junk food. Penelitian ini dilakukan oleh tim dari University College Cork, Irlandia, yang dipimpin Profesor Yvonne Nolan, dan dipublikasikan pada pekan lalu di jurnal ilmiah Brain Medicine.
🔬 Olahraga Redam Dampak Junk Food terhadap Otak dan Hormon

Para peneliti menemukan bahwa lari sukarela dapat mengurangi gejala mirip depresi yang dipicu oleh pola makan tinggi lemak dan gula. Efek positif ini terjadi melalui perubahan hormon dan metabolit usus — zat kimia yang dihasilkan mikroba pencernaan.
Dalam studi ini, tikus jantan dewasa diberi dua jenis diet: standar dan “diet kafetaria” (tinggi lemak dan gula), selama tujuh setengah minggu. Sebagian tikus diberi akses berlari di roda, sementara sebagian lainnya tidak. Hasilnya, tikus yang aktif secara fisik menunjukkan suasana hati lebih stabil dan fungsi kognitif lebih baik, meskipun tetap mengonsumsi junk food.
“Olahraga memiliki efek seperti antidepresan, bahkan dalam konteks pola makan tidak sehat,” ujar Dr. Minke Nota, penulis utama penelitian ini.
Baca juga: Penyebab Rambut Rontok, Hal yang Harus Dihindari dan Cara Mengatasinya
🧩 Peran Metabolit Usus dalam Suasana Hati
Analisis laboratorium terhadap isi sekum (bagian awal usus besar) menunjukkan bahwa diet tinggi lemak dan gula mengubah metabolisme usus secara drastis. Dari 175 metabolit yang diperiksa, 100 di antaranya terganggu. Namun, olahraga mampu memulihkan sebagian keseimbangan metabolit tersebut.
Tiga metabolit utama — anserin, indol-3-karboksilat, dan deoksiinosin — yang berperan penting dalam pengaturan suasana hati, menurun akibat pola makan buruk tetapi kembali normal setelah olahraga rutin.
Selain itu, olahraga juga memberikan efek anti-kecemasan ringan dan sedikit meningkatkan kemampuan memori spasial.
💉 Hormon Penentu Keseimbangan Emosi dan Energi
Perubahan hormonal juga mencerminkan hasil perilaku. Tikus yang makan junk food tanpa olahraga memiliki kadar insulin dan leptin lebih tinggi — dua hormon yang terkait dengan stres metabolik dan suasana hati buruk. Namun, kadar tersebut menurun signifikan pada tikus yang berolahraga.
Peneliti juga menemukan peran hormon lain seperti GLP-1 dan PYY, yang mengatur nafsu makan dan metabolisme energi. Olahraga tampaknya memicu mekanisme hormonal kompensasi untuk menjaga keseimbangan tubuh ketika kualitas diet menurun.
🧠 Diet Buruk Hambat Pertumbuhan Sel Otak Baru
Yang paling menarik, penelitian ini menunjukkan bahwa pola makan junk food menghambat neurogenesis hipokampus — proses pembentukan sel-sel otak baru yang biasanya dirangsang oleh olahraga. Artinya, makanan cepat saji dapat mengurangi kemampuan otak beradaptasi dan pulih, bahkan ketika seseorang aktif berolahraga.
“Kualitas diet ternyata menentukan sejauh mana otak mampu mengambil manfaat dari aktivitas fisik,” jelas Prof. Nolan.
Baca juga: 5 Penyakit Langganan di Musim Hujan dan Cara Mencegahnya
⚖️ Implikasi: Olahraga Tetap Penting, Tapi Pola Makan Harus Diperbaiki
Temuan ini memperkuat pemahaman bahwa kesehatan mental sangat dipengaruhi oleh interaksi antara pola makan dan aktivitas fisik. Olahraga tetap memberikan efek antidepresan, tetapi manfaat optimal bagi otak hanya tercapai jika diimbangi dengan pola makan bergizi.
Para ahli menilai penelitian ini membuka peluang baru untuk menargetkan metabolit usus sebagai terapi gangguan suasana hati. Senyawa seperti anserin dan indol-3-karboksilat bahkan berpotensi menjadi biomarker atau bahan terapi baru untuk depresi.
📌 Kesimpulan
Penelitian dari University College Cork ini memberikan bukti kuat bahwa:
Olahraga rutin dapat menetralkan efek negatif junk food terhadap otak.
Metabolit dan hormon usus berperan besar dalam mengatur suasana hati.
Kombinasi diet sehat dan aktivitas fisik tetap menjadi kunci menjaga kesehatan mental dan kognitif.
Temuan ini sekaligus mengingatkan bahwa olahraga bukan sekadar menjaga fisik, tetapi juga mampu memperbaiki keseimbangan kimia otak yang rusak akibat gaya hidup modern.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: jurnal penelitian University College Cork, Irlandia, sciencedaily
redaktur: jatmiko





























