Malang – Dua film pendek berjudul “Kelangan” dan “A Paint: Gemurat Dalam Senyep” menjadi pintu masuk diskusi filsafat seni dan estetika bersama santri serta mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Al Farabi. Acara bertajuk Film dan Filsafat Seni itu berlangsung di Musala Pesantren Baitul Hikmah, Kepanjen, Kabupaten Malang, pada Minggu (28/9/2025).
Diskusi menghadirkan tiga narasumber, yakni Ach Dhofir Zuhry (pendiri Pesantren Baitul Hikmah Kepanjen dan STF Al Farabi), Sindu Dohir H (aktor dan budayawan Kota Malang), serta Sudjane Kenken (sutradara sekaligus pendiri Kampung Film Gelanggang Kabupaten Malang). Hadir pula Shaggil Mahara, sutradara film A Paint: Gemurat Dalam Senyep.

Estetika dalam Sejarah Filsafat
Dalam pemaparannya, Ach Dhofir Zuhry menjelaskan akar perbincangan estetika sejak filsafat Barat Klasik. Menurutnya, istilah estetika pertama kali diperkenalkan oleh Platon dengan makna sebagai sesuatu yang berhubungan dengan inderawi.
“Estetika itu dari kata Yunani aesthetikos yang berarti mengindra. Jadi awalnya terkait dengan hal-hal inderawi,” jelas penulis buku Filsafat untuk Pemalas itu.
Baca juga: Pusat Studi Gender dan Anak UIN Malang Rilis Film Pendek Berjudul Melesat, Beri Pesan Khusus Kepada Anak Muda
Pemikiran estetika kemudian berkembang pada abad ke-18 melalui Alexander Gottlieb Baumgarten, yang memperluasnya sebagai hal yang terkait dengan rasa. “Namun dalam konteks modern, estetika dirusak oleh industri karena dikaitkan dengan kepentingan pasar dan kapitalisme,” imbuh alumni STF Driyarkara tersebut.
Film sebagai Medium Estetika
Sementara itu, Sindu Dohir menyoroti estetika dari sudut keaktoran yang menjembatani filsafat seni dengan medium film. Ia menekankan bahwa film selalu lekat dengan latar budaya, ruang, dan waktu.
“Film A Paint mengangkat tema living together. Di budaya Barat hal itu biasa, tetapi di Indonesia masih dipandang tidak umum,” ujar aktor yang pernah bermain dalam film Yowes Ben itu.
Sudjane Kenken menambahkan, kekuatan film terletak pada sudut pandang penontonnya. Menurutnya, film indie seringkali memunculkan interpretasi berbeda antarpenonton.
“Film Kelangan mudah dipahami, sementara A Paint lebih menantang untuk dimaknai. Semua bergantung pada perspektif penonton,” jelasnya.
Kenken juga menyinggung tantangan film indie yang sulit dikomersialkan di Indonesia. “Biasanya film indie lebih cocok untuk festival, karena idealisme sutradara sering berbenturan dengan kepentingan industri,” ungkapnya.
Baca juga: Perkembangan Produksi Film di Malang: Geliat Kreativitas Komunitas
Sutradara Hadirkan Realitas Sosial
Sutradara A Paint, Shaggil Mahara, menjelaskan bahwa film karyanya berangkat dari realitas sosial generasi muda di kota-kota besar seperti Yogyakarta dan Malang.
“Dari film ini, saya memang ingin memancing banyak pertanyaan dari penonton. Jika mereka bertanya-tanya tentang makna film, itu berarti film berhasil,” tutur mahasiswa ISI Yogyakarta itu.
Ia menambahkan, tema living together sengaja dipadukan dengan persoalan seni lukis dan simbolisme aktor untuk menyoroti kompleksitas kehidupan generasi muda.
Antusiasme Penonton
Pemutaran film berdurasi 10 menit dan 21 menit tersebut mendapat respons beragam. Sejumlah penonton memberikan pujian atas keberanian mengangkat tema filosofis, sementara sebagian lain melontarkan pertanyaan kritis.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
redaktur: jatmiko





























