MALANG, Tugumalang.id – Film lokal Malang menunjukkan dinamika yang menggembirakan berkat peran aktif komunitas dan pegiat film yang terus berkarya dengan ciri khas budaya serta bahasa daerah.
Film-film karya sineas asal Malang ini berangkat dari semangat lokal. Tidak hanya mengangkat cerita dan lokasi di Malang, tapi juga memupuk semangat kekeluargaan dan kekayaan seni secara kolektif.
Sutradara asal Malang, Sudjane Ken Ken mengatakan awalnya, film-film dari Malang lebih sering muncul dari lingkup komunitas mahasiswa atau sineas independen. Karya mereka berupa film pendek yang beredar di festival lokal maupun nasional.
Namun, dalam pengamatan pria yang akrab disapa Ken Ken itu, lima hingga sepuluh tahun terakhir, terjadi perubahan signifikan dalam geliat perkembangan film di Malang.
“Rumah produksi independen tumbuh, sineas muda Malang mulai merambah ke film panjang, bahkan ada yang tayang di layar bioskop nasional dan platform digital,” kata Ken Ken kepada Tugumalang.id, Senin (29/9/2025).
Baca juga: Geliat Industri Film di Malang, Tembus Festival Internasional
Perkembangan film di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir ini berkembang semakin pesat. Bukan hanya di Jakarta atau Yogyakarta, tetapi juga di Malang. Kota yang selama ini dikenal sebagai Kota Pendidikan dan pariwisata, mulai menegaskan diri sebagai salah satu pertumbuhan film di Jawa Timur.
Komunitas sebagai Tulang Punggung
Lebih lanjut, Ken Ken mengungkapkan bahwa perkembangan film di Malang tak bisa dilepaskan dari banyaknya komunitas film di kota ini. Kehadiran komunitas tersebut, menjadi ruang belajar, diskusi, hingga tempat bereksperimen bagi para pembuat film.
“Komunitas juga membuka jalur distribusi alternatif, seperti pemutaran di kampus, ruang seni, hingga layar tancap di kampung-kampung,” paparnya.
“Dengan semangat gotong royong, komunitas inilah yang menjaga api perfilm Malang tetap menyala,” sambung sutradara film berjudul Bendera Sobek itu.
Selain itu, keberadaan banyaknya perguruan tinggi di Malang selalu melahirkan regenerasi sineas muda. Lanskap budaya dan sosialnya pun semakin kaya, mulai dari kehidupan urban, kisah-kisah pedesaan, sejarah kolonial, hingga bahasa dan budaya lokal.
Bagi Ken Ken yang juga aktif bergiat di Glanggang Film Festival, semua itu menjadi sumber cerita yang otentik sekaligus daya tarik yang membedakan film Malang dari kota lain.
Baca juga: 4 Film Animasi Lokal yang Berjaya dan Menginspirasi Penonton Indonesia
Tantangan dan Harapan
Meskipun berkembang pesat, perfilman Malang masih menghadapi beberapa tantangan, seperti keterbatasan dana produksi, minimnya infrastruktur bioskop alternatif, dan distribusi yang belum merata.
Namun, dengan dukungan pemerintah daerah, kolaborasi komunitas, kampus, dan industri kreatif. Ken Ken menyebut Malang punya potensi besar menjadi hub film Jawa Timur.
“Dalam jangka panjang bukan mustahil Malang bersaing dengan Yogyakarta dan Bandung sebagai kota film utama di Indonesia,” ujarnya.
“Malang saat ini bukan hanya Kota Pendidikan dan wisata, tetapi juga kota yang sedang menapaki jalannya sebagai kota film,” imbuh Ken Ken.
Melalui semangat komunitas, kreativitas anak mudanya, dan dukungan ekosistem, membuat Malang berpotensi menjadi motor baru industri film nasional.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Bagus Rachmad Saputra
redaktur: jatmiko





























