MALANG, Tugumalang.id — Mendidik anak dengan kedisiplinan tinggi bukan hal mudah, apalagi sejak usia Sekolah Dasar (SD). Namun di Pondok Pesantren Darurrohman, Gondanglegi, Kabupaten Malang, rutinitas ketat dan sistem pendidikan Salaf menjadi bagian dari keseharian para santri cilik. Sejak dini, mereka dilatih mandiri, disiplin, serta memiliki pemahaman agama yang mendalam melalui pembelajaran klasik berbasis kitab kuning dan tahfidz Al-Qur’an.
Pondok ini dikenal karena fokusnya pada pendidikan diniyah tradisional yang tidak hanya menekankan hafalan dan bacaan, tetapi juga pemahaman mendalam terhadap ilmu alat (Nahwu dan Shorof) serta penerapan nilai-nilai akhlak dan ibadah harian.
Kurikulum Inti: Membangun Fondasi Ilmu Agama dan Akhlak
Program pendidikan di Pondok Pesantren Darurrohman disusun secara sistematis agar santri cilik mampu membaca dan memahami kitab kuning secara mandiri di masa depan. Beberapa fokus utamanya antara lain:
Hafalan Al-Qur’an dan Matan Dasar:
Tahfidz dimulai dari surat-surat pendek (Juz 30), kemudian dilanjutkan dengan hafalan matan dasar seperti ilmu tauhid dan bahasa Arab. Santri juga memperkaya kosa kata melalui kitab sederhana seperti Ro’sun Sirah.
Penguasaan Ilmu Alat:
Santri mempelajari Tasrifan (ilmu Shorof) dan menulis Pegon (aksara Arab untuk bahasa Jawa). Kedua ilmu ini menjadi fondasi penting dalam memahami teks-teks klasik Islam.
Praktik Ibadah dan Tajwid:
Setiap malam, para santri mendalami tajwid dan mengikuti praktik fasholatan (latihan tata cara salat) agar ibadahnya sesuai tuntunan syariat.
Baca juga: Berbagai Cara Unik Pesantren di Malang Rayakan Hari Santri Nasional 2025, Mulai Upacara hingga Pentas Drama
Rutinitas Harian Santri Cilik: Padat tapi Penuh Makna
Kedisiplinan menjadi napas utama kehidupan di pesantren ini. Setiap hari, para santri menjalani jadwal ketat yang telah disusun rapi:
Pagi Spiritual (03.30–06.00 WIB):
Hari dimulai sejak dini dengan salat Subuh berjamaah, dilanjutkan setoran hafalan Juz 30 dan ngaji binnadzor.
Sekolah Formal (07.00–12.00 WIB):
Santri mengikuti pelajaran umum di sekolah formal setingkat SD tanpa meninggalkan nilai-nilai pesantren.
Istirahat dan Dzuhur (12.00–15.00 WIB):
Waktu makan siang dan istirahat untuk menjaga kebugaran.
Sekolah Diniyah (15.30–17.00 WIB):
Santri kembali belajar diniyah sore, mendalami tasrifan, pegon, dan nahwu dasar bersama para ustadzah.
Malam Ibadah (18.00–20.30 WIB):
Setelah Maghrib berjamaah, mereka mengikuti ngaji Al-Qur’an dengan bimbingan ustadzah, lalu salat Isya bersama.
Belajar Malam (20.30–22.00 WIB):
Waktu wajib belajar dan mengulang pelajaran, sebelum istirahat total pukul 22.00 WIB.
Baca juga: 5 Rekomendasi Pesantren Putri di Malang
Pilar Pengasuhan dan Pengembangan Bakat
Sistem pengasuhan di Darurrohman tidak hanya menekankan akademik, tetapi juga keseimbangan antara spiritual dan emosional:
Kegiatan Lomba dan Pengembangan Diri:
Santri rutin mengikuti berbagai lomba keagamaan dan olahraga untuk menyalurkan bakat dan membangun kepercayaan diri.
Peran Pembimbing Kamar:
Setiap kamar memiliki pembimbing yang memastikan kedisiplinan, kebersihan, serta mendampingi santri secara emosional.
Peran Mustahiqoh dan Ustadzah:
Mereka bukan hanya pengajar, tetapi juga figur pengasuh spiritual yang memantau perkembangan karakter dan ibadah santri setiap hari.
Mencetak Generasi Berakhlak dan Berilmu
Dengan sistem ketat namun penuh kasih sayang, Pondok Pesantren Darurrohman berhasil mencetak generasi muda yang mandiri, berakhlak mulia, serta memiliki fondasi ilmu agama yang kokoh sejak usia dini. Tidak heran, lulusan pesantren ini tumbuh menjadi pribadi yang matang secara spiritual dan siap menghadapi tantangan zaman dengan ilmu dan adab.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Sabrina Rb.
redaktur: jatmiko





























